Duration: 1 hr 29 mins Directed by: Tim
Fehlbaum Written by: Tim
Fehlbaum Starring: Hannah
Herzsprung, Stipe Erceg, Lisa Vicari
Thrill Rate : *** (3/5)
Hell (2011) : Perspektif
Kiamat Secara Minimalis
“What ?? Roland Emmerich
made a horror movie ?”
Awalnya saya nyaris nggak
percaya jika produser eksekutif Hell ini adalah Roland Emmerich. Padahal,
seperti yang mungkin sudah kita ketahui bersama, Roland Emmerich jarang sekali
membuat film yang “ecek-ecek” karena filmnya cenderung jadi blockbuster, bombastis dan merupakan
suatu mega proyek di industri perfilman (terutama Hollywood), meski terkadang
cerita yang dibawakan di film-filmnya nggak terlalu istimewa. Simak saja hasil
karyanya seperti Independence Day (1996) atau The Day After Tomorrow (2004),
bahkan film yang sempat bikin heboh dan penasaran rakyat Indonesia macam 2012
kurang lebih 3 tahun lalu. Roland nampaknya memang sangat terobsesi pada segala
hal yang berbau “kiamat” dan “kehancuran dunia” dan apa yang disajikan Roland
dalam film-filmnya pastilah sangat “besar”, baik dari segi proses produksi
filmnya maupun dari segi budget. Ini yang sebenarnya membuat saya heran,
mengapa Roland tertarik untuk menjadi produser eksekutif dari film Hell yang boleh
dibilang menampilkan unsur “kiamat” atau “kehancuran dunia” secara minimalis.
Bahkan sutradara dan penulis ceritanya juga belum terlalu dikenal di kancah
perfilman (Tim Fehlbaum sebelumnya lebih banyak berkutat dengan short movie alias film pendek, menurut
info yang didapat dari IMDb). Tapi, terlepas dari itu semua, Tim Fehlbaum boleh
dibilang beruntung karena Roland mau melirik bahkan mendanai proyek yang sedang
dikerjakannya hingga Hell berhasil diproduksi. Yah, boleh dibilang from zero to hero, IMHO. Dengan masih
tetap mengedepankan unsur post-apocalyptic,
film asal Jerman ini tampil agak berbeda dengan tak terlalu mengeksploitasi
kehancuran dunia secara berlebihan.
Starring : Emanuele
De Santi, Giulio De Santi, Alessandro Gramanti, Paolo Luciani
Fright Rate : **** (4/5)
Adam Chaplin (2011)
: Eksotisme Splatter Movie Italia Ala Manga
Siapa yang tak kenal dengan manga
? Komik Jepang ini seakan menjadi sebuah textbook
bagi remaja (bahkan anak-anak) yang hidup di milennium ini. Jepang memang boleh
dikatakan banyak memberikan inspirasi bagi hampir seluruh pop culture yang berkembang saat ini di seluruh dunia, termasuk di
industri film. Bahkan, beberapa kali nyata-nyata industri film di Hollywood me-remake beberapa film J-Horror, meski
hasilnya rata-rata mengecewakan akibat Hollywood terlalu mengedepankan sisi
“bule” alias masih terlalu kebarat-baratan dalam mengadaptasi sebuah J-Horror,
walhasil Hollywood gagal membungkus dan mentransfer nuansa kengerian dan
ketakutan yang kita peroleh saat menonton J-Horror yang sesungguhnya. Namun,
dibalik itu semua, ada seorang sutradara yang sekaligus aktor asal Italia
bernama Emanuele De Santi, mencoba untuk memberikan visualisasi ala manga pada film berbahasa Italia
berjudul Adam Chaplin ini.
Duration: 1 hr 24 mins Directed by:
Franck Richard Written by:
Franck Richard Starring: Emilie Dequenne, Benjamin Biolay, Philippe Nahon, Yolande MoreauFright
Rate : *** (3/5)
The
Pack (2010) : Another Weird French Horror
Belakangan
ini, entah kenapa, tiba-tiba film-film yang saya tonton kebanyakan berbau
Perancis. Baik itu sutradaranya, maupun memang filmnya produksi Perancis. Negara
ini memang patut diperhitungkan dalam
kancah film horror. Banyak film-film horror asal Perancis yang sangat sayang
sekali dilewatkan horror-freak.
Sutradara asal Perancis juga boleh dibilang kreatif dan lumayan inovatif dalam
menciptakan ketakutan baru di genre
horror. Meski terkadang masih terjebak dengan klise-klise lama, namun film-film
horror Perancis masih layak tonton dan terkadang sangat menghibur. Terkadang
visualisasinya malah sangat artistik di mata saya (terutama adegan slasher/gore yang proporsional). Belum
lagi ditambah adanya pesan moral (berupa kritik atau berbagai hal yang satir)
juga ikut divisualisasikan, hingga dunia sinema memiliki istilah tersendiri
bagi jenis film-film horror asal Perancis ini yaitu French New Wave dan New
French Extremity. Sebagai contoh, salah satu film Perancis yang menjadi
pelengkap koleksi film horror saya adalah Haute Tension (High Tension) yang
disutradarai Alexandre Aja. Masih ada juga Frontier(s)-nya Xavier Gens yang
sangat sayang untuk dilewatkan, hingga Martyrs-nya Pascal Laugier.
Duration: 1 hr 45 mins Directed by:
Pascal Laugier Written by:
Pascal Laugier Starring: Jessica Biel, Jodelle Ferland, Stephen McHattie
Thrill Rate : *** (3/5)
The Tall Man (2012) : Kritik Sosial
Melalui Sebuah Mitos
Pascal Laugier, itulah salah satu nama yang
membuat saya tertarik untuk menonton The Tall Man. Masih lumayan melekat di
pikiran saya, bagaimana sepak terjang Laugier dalam menggarap Martyrs yang
cukup ekstrim itu. Pascal Laugier memang seorang sutradara dan sekaligus
penulis script film yang karyanya dominan
beraliran New France Extremity,
karena selalu sarat dengan torture porn,
gore, dan terkadang cenderung ekstrim
menampilkan berbagai hal yang dianggap tabu di dunia sinema. Sebenarnya
ekspektasi saya terhadap The Tall Man cukup besar, karena film ini memiliki
beberapa hal yang cukup meyakinkan untuk ditonton, yaitu :
Duration: 1 hr 50 mins Directed by:
James Mc Teigue Written by:
Ben Livingston (screenplay), Hannah Shakespeare (screenplay) Starring: John Cusack, Alice Eve, Luke Evans
Thrill Rate : ** (2/5)
The Raven (2012) : Imitasi Sherlock
Holmes ?
Seekor
burung gagak terbang berputar-putar di atas kepala seorang pria yang nampaknya
sedang sekarat. Bagi sebagian orang yang percaya tentang hal klenik (baik di
dalam maupun luar negeri), burung gagak memang selalu jadi perlambang tentang
adanya kematian. Begitulah kira-kira interpretasi seorang sastrawan Amerika
Serikat, Edgar Allan Poe, tentang burung gagak yang menjadi opening scene di film The Raven. Salah
satu kumpulan sajak dengan nuansa gothic
dan macabre karya Poe adalah The
Raven yang juga dipilih sebagai judul film ini. Setting film ini adalah pada
pertengahan 1800-an di Baltimore, tempat Poe menghembuskan nafas terakhirnya. Edgar
Allan Poe memang sangat terkenal dengan karya sastranya (baik sajak maupun
prosa) yang berbau misteri, horror-gothic/macabre,
dan sedikit science fiction. Poe juga
terkenal sebagai kritikus dan editor karya sastra yang lumayan nyeleneh di jamannya. Saya tak akan
membahas terlalu dalam tentang siapa Edgar Allan Poe karena biografitentang kehidupan Poe serta hasil karyanya
dapat ditemukan di berbagai situs web, seperti misalnya disini. Lagipula, The
Raven hanya menyoroti sedikit saja kehidupan Poe, mungkin tepatnya 3 hari
menjelang kematiannya.
Written
by : Daniel Padro Starring: Amaia
Salamanca, Maxi Iglesias, Ursula Corbero, Alba Ribas
Fright
Rate : **
(2/5)
Paranormal
Xperience 3D(2012) : Opera
Sabun Horror in 3D
Saya ingat betul sekitar
akhir ‘90an hingga awal 2000-an, televisi Indonesia, baik yang swasta maupun
yang milik pemerintah, getol sekali menayangkan opera sabun hasil dubbing (bahasa kerennya saat itu
telenovela). Bahasa asli yang digunakan tentu saja bahasa Spanyol, cuma supaya
lebih bisa menarik dan mudah dimengerti masyarakat
Indonesia, akhirnya telenovela ini di-dubbing
ke bahasa Indonesia. Emak saya adalah salah satu penonton setia acara ini di
berbagai saluran televisi, sampai hapal betul jam tayangnya dan jalan
ceritanya, padahal stasiun TV-nya beda-beda (wonderful isn’t it ?, hehehe...). Tapi mungkin gara-gara keseringan
nemenin Emak saya nonton telenovela itulah (meski sambil tertidur
kadang-kadang), saya jadi sedikit tahu tipikal film-film Spanyol, yaitu
ceritanya dramatis banget dan bahkan cenderung melankolis dan kadang nggak
masuk akal.
Duration: 1 hr 25 mins Directed by:
Chris Kentis and Laura Lau
Written
by : Laura Lau
(screenplay), Gustavo Hernandez (film “La casa muda”) Starring: Elizabeth Olsen, Adam Trese, Eric Sheffer Stevens
Fright Rate : ** (2/5)
Silent House(2012) :
Hollywood Yang Hobi Bikin Remake
Sekali lagi, Hollywood yang nampaknya
sekarang makin kekurangan ide untuk membuat sebuah film horror bermutu,
mencaplok sebuah film asal Uruguay berjudul La
casa muda untuk dibikin versi Hollywood-nya dengan tajuk Silent House. Ini
entah film keberapa yang di-remake
dengan sentuhan ala Amerika oleh Hollywood, setelah sebelumnya juga me-remake beberapa J-Horror (film horror
Jepang). Lama-lama, saya melihat gejala ini mungkin sebagai suatu kejenuhan dan
buntunya ide dari industri film yang ada di Hollywood untuk bisa membuat film
horror yang berkelas, seperti masa kejayaan film-film horror Hollywood sekitar
tahun ’70-‘90an. Saya nggak pengen berpusing-pusing untuk mikirin itu semua,
karena sebagai penonton film horror, tujuan saya hanya ingin mendapatkan
hiburan yang bisa saya nikmati, titik. Mau hasil remake, original idea,
ataupun true story/event, saya nggak
terlalu peduli, karena yang penting adalah sebuah film (apapun genre-nya) wajib memberikan hiburan bagi
penontonnya. Kembali ke Silent House (karena udah kebanyakan ngelantur…),
menurut info yang berhasil saya himpun dari mbah Google, film ini memakai
metode “one continuous take” alias pengambilan gambarnya dilakukan dengan terus
menerus (tanpa “cut”) dan hanya dengan satu kamera saja, mirip dengan La casa muda. Katanya sih, biar bisa
kasih pengalaman lebih buat yang nonton (agar bisa lebih dapet feel horror-nya) karena sepanjang film
ini diputar, kameranya bakal buntutin sang tokoh utama kemanapun dia pergi. Karena
kebetulan saya juga belum pernah nonton La
casa muda, jadi belum bisa bandingin, mana yang lebih asyik buat ditonton.
Seheboh apa sih sebenarnya film ini ? Mari kita buktikan bersama.
Written by :
Justin Steele, Alecc Bracero Starring: Brad Dourif, Jeremy Sumpter, Scott Elrod
Thrill Rate : * (1/5)
Death and Cremation (2010)
: The Bullying Effect
Efek dari bullying
memang selalu menarik untuk diangkat menjadi sebuah cerita film atau novel.
Berbagai dampak bullying juga seakan
tak ada habisnya dibahas hingga sekarang, Para korban bullying selalu digambarkan tak berdaya menghadapi berbagai siksa yang
menderanya, hingga suatu saat keadaan menjadi berbalik dan akhirnya sang korban menuntut balas pada yang telah melakukan bullying
terhadap dirinya. Setidaknya pakem macam itulah yang selalu muncul di beberapa film
horror/thriller bertemakan efek dari bullying
yang pernah saya tonton. Formula tadi nampaknya juga ditiru dalam film thriller berjudul Death and Cremation ini,
namun dengan memberikan sedikit saja bumbu pada plotnya.
Duration: 1 hr 23 mins Directed by: Jonathan Hensleigh
Written by : Jonathan Hensleigh Starring: Sandy
Gardiner, Callard Harris, Nick Richey, Veronica Sywak
Fright
Rate : **
(2/5)
Welcome
to The Jungle(2007) : Howdy,
Cannibals !
Judulnya mengingatkan
pada satu judul lagu rock band favorit saya di era ’80-’90-an, Guns n Roses.
Tapi, tunggu dulu, film ini sama sekali nggak ada hubungannya sama Guns n
Roses, apalagi sama Axl Rose dan kawan-kawannya, jadi jangan harap ada Axl Rose
nyanyi “Welcome to the Jungle” disini. Bukan musik rock yang ada, tapi
kanibalisme. Sungguh suatu tema yang mengingatkkan saya pada kejayaan Cannibal
Holocaust atau Cannibal Ferox yang sempat dilarang tayang di berbagai negara
beberapa tahun lampau.
Written by : Clive Bradley (screenplay) Starring: Stellan Skarsgard, Melissa George, Selma Blair, Tom Hardy
Thrill Rate : ** (2/5)
The Killing Gene (2007) : Balas Dendam + Persamaan Matematis = Serial Killer
The spirit of making a serial killer movie never dies…..
Setidaknya itulah semangat dari para sineas yang saya rasakan sejak mata saya mulai terbiasa menonton film-film thriller/horror bertemakan pembunuh berantai. Banyak diinspirasi dari true story/event tentang para psikopat yang bertebaran di muka bumi ini, tema-tema tentang kesadisan dan ke-“maniak”-an para pembunuh berantai ini seakan tak pernah habis untuk diangkat menjadi tontonan layar lebar yang menarik, sekaligus menakutkan, namun tetap membuat orang penasaran. Setidaknya itulah yang terbukti dari film-film macam Se7en (this is an epic serial killer movie), Saw (dengan beberapa sekuelnya yang rata-rata sukses), maupun Silence of the Lambs (yang ini masuk kategori tontonan agak “berat” dan “serius”). Tahun 2007 lalu, muncul sebuah film bertajuk The Killing Gene (a.k.a w Delta z) di bawah label distribusi Dimension Extreme. Saya baru mengetahui tentang The Killing Gene setelah main ke rental DVD film. Jujur, pertama kali yang membuat saya tertarik menyewa The Killing Gene adalah Melissa George, meski saya bukan fanatic fans-nya. Dari beberapa film yang ada Melissa di dalamnya, rata-rata lumayan bagus dan Melissa selalu kebagian peran sebagai heroine yang cukup tangguh namun masih tetap feminim. Apakah The Killing Gene juga bisa sebagus film tentang pembunuh berantai lainnya ? Mari kita buktikan bersama.
Written by : Scott B. Smith (screenplay & novel) Starring: Shawn Ashmore, Jena Malone, Jonathan Tucker, Laura Ramsey
Fright Rate : **** (4/5)
The Ruins(2008) : Cerita Tentang Tanaman Pemakan Manusia
Jujur saja, sudah dua kali saya nonton film ini dan hasilnya tetap sama, a scary eco-horror movie, IMO. Plus, ini juga merupakan film yang lumayan detail dalam mendeskripsikan teror dan keantagonisan sebuah tanaman, meski sebenarnya tanaman tersebut hanya bertindak natural sesuai dengan kemampuan untuk bertahan hidup yang dimilikinya. Mungkin saya agak terlambat untuk me-review film ini, tapi sesuai kata pepatah “biar lambat, asal selamat” (nggak nyambung kan :-)). Ceritanya diangkat dari novel berjudul sama dengan film ini karya Scott B. Smith. Meski belum membaca novelnya, paling tidak 98% saya percaya bahwa novelnya pasti cukup menakutkan dan sangat menarik untuk dibaca, karena Scott B. Smith juga menulis screenplay untuk film ini. Means, pasti visualisasinya di film nggak jauh-jauh amat dari apa yang sudah ditulis di novel, tapi itu baru analisa saya. Demi memperbaiki opini saya tentang perbandingan novel The Ruins dengan filmnya, silahkan beri komentar bagi siapapun yang telah membaca novel The Ruins, supaya posting ini jadi lebih obyektif lagi. Enough for the crap chit-chat, langsung saja kita lihat semenarik apa sebenarnya The Ruins.
Duration: 1 hr 53 mins Directed & Screenplay by:
Jeremy Kasten, Richard Stanley, Buddy Giovinazzo, Tom Savini, Douglas Buck,
Karim Hussain, David Gregory Starring: Udo
Kier, Virginia Newcomb, Tom Savini, Lindsay Goranson
Fright Rate : ** (2/5)
The Theatre Bizarre(2011) : Omnibus Horor Dalam Balutan Teater Grand Guignol
Secara nggak sengaja, saya menemukan keping DVD The Theatre Bizarre ini di
sebuah rental dekat tempat saya tinggal. Poster yang melapisi box-nya lumayan
menarik juga, cuma sayangnya, posisi box DVD film ini letaknya paling bawah di
rak khusus film horor, hingga jarang dilirik orang. Begitu saya ambil dan
baca-baca sebentar di posternya, saya baru ngeh
ternyata ini film omnibus horror yang di dalamnya ada Tom Savini, my favourite
horror sfx wizard dan Karim Hussain, sinematografer “gila” yang garap Hobo With
The Shotgun. Dengan ekspektasi yang lumayan besar dan demi memenuhi rasa
penasaran, saya sewa The Theatre Bizarre, untuk tahu, seberapa “parah”-nya jika
sutradara film horror ngumpul lalu bikin omnibus.
The Theatre Bizarre terdiri dari 1 framing segment yang membingkai 6
segment cerita. Dengan gaya
visualisasi ala Teater Grand Guignol, framing segment yang disutradarai oleh
Jeremy Kasten (The Wizard of Gore) ini mengantarkan cerita untuk masing-masing
segment. Mari kita lihat, cerita apa saja yang ada di masing-masing segment :
Duration: 1 hr 32 mins Directed by: Andy
Fetscher Written by: Martin Thau Starring: Nathalie
Kelley, Nick Eversman, Klaus Stiglmeier, Max Riemelt
Fright Rate : ** (2/5)
Urban Explorer(2011) : Psikopat Labirin Bawah Tanah Berlin
Sisa-sisa sepak terjang dan
misteri tentang Nazi memang menjadi tema yang tetap menarik untuk diangkat
hingga saat ini. Mulai dari proses holocaust hingga rumor tentang berbagai
eksperimen gagal yang kerap dilakukan oleh dokter-dokter gila Nazi serasa tak
ada habisnya untuk diangkat menjadi suatu film yang menarik oleh para sineas
dunia. Terbukti dengan munculnya film bertajuk Urban Explorer yang masih
mengangkat tema tentang peninggalan Nazi di lorong-lorong/terowongan bawah
tanah Berlin. Lorong-lorong/terowongan bawah tanah ini bagai sebuah labirin
bertingkat yang maha rumit di bawah hiruk pikuk Berlin dan jaman dahulu kala
dipergunakan oleh Nazi untuk melakukan berbagai kegiatan, seperti misalnya
menyiksa para tawanan perangnya, membuat berbagai eksperimen aneh, hingga
menyusun strategi perang. Saat ini, terowongan/lorong-lorong tersebut malah
dijadikan obyek wisata bawah tanah karena masih banyak menyimpan jejak
kekejaman Perang Dunia II. Dari sinilah mungkin sineas asal Jerman bernama Andy
Fetscher danpenulis skenario Martin
Thau tertarik untuk mengeksplorasi misteri tentang lorong-lorong tersebut
dengan membuat Urban Explorer.
Ceritanya dimulai saat 4 orang
remaja yang tertarik untuk berwisata menyusuri lorong-lorong bawah tanah Berlin
menyewa seorang tour guide untuk melakukan hal tersebut. Setelah puas menyusuri
lorong-lorong bak labirin bawah tanah tersebut, dalam perjalanan pulang, sang
tour guide kena sial karena dia harus jatuh dari tempat yang cukup tinggi akibat
kaget terkena cahaya flashlight dari kamera seorang turis yang dipandunya. Sang
tour guide menderita cedera yang sangat parah dan akhirnya para pelancong
remaja (yang pakemnya di film horror manapun selalu digambarkan panik dan tak
siap jika keadaan darurat datang tanpa permisi) memutuskan untuk mencari
bantuan. 2 orang mencoba keluar dari lorong bawah tanah tersebut, sementara
sisanya menjaga sang tour guide. Dalam penantian untuk memperoleh bantuan,
sekonyong-konyong muncullah seorang pria bernama Armin (Klaus Stiglmeier)
menawarkan bantuan untuk mengobati dan pindah ke tempat yang lebih aman dan
nyaman sembari menunggu bantuan datang. Bagai kerbau yang dicocok hidungnya, 2
remaja yang menjaga sang tour guide akhirnya menurut saja dan ikut ke tempat dimana
Armin tinggal. Namun, keputusan untuk ikut dengan Armin ini nantinya adalah
keputusan yang akan disesali oleh para remaja pelancong ini hingga akhir hayat
mereka.
Satu hal yang patut saya acungi
jempol adalah tentang karakter Armin, sang antagonis yang diperankan oleh Klaus
Stiglmeier. Saya suka dengan aktingnya sebagai psikopat yang nampak sangat haus
darah dan lumayan lihai serta cekatan dalam bertindak. Latar belakang kehidupan
Armin memang tak terlalu banyak diekplorasi oleh Andy Fetscher karena mungkin
memang Fetscher lebih ingin menyoroti tentang kelamnya kehidupan di bawah tanah
Berlin. Disini dikatakan bahwa Armin hanyalah bekas penjaga perbatasan Berlin
Timur dan Barat saat perang dingin masih berlangsung dulu. Porsi besar untuk
cerita dan adegan bagi sang antagonis juga diberikan oleh Andy Fetscher. Cuma
sayangnya, ada beberapa scene di film ini yang kadang nampak nggak masuk akal
dan cenderung mengada-ada. Ide cerita film ini sendiri tak terlalu original
menurut pendapat saya, karena sudah banyak yang mengangkat tema tentang
psikopat, claustrophobia (phobia tempat sempit), dan nyctophobia (phobia tempat
gelap).Demikian juga plotnya yang
kelewat sederhana dan kurang berkembang serta cukup banyak lubang di dalamnya,
semakin membuat jalan ceritanya jadi hambar dan dangkal.
Secara umum, yang dijual di Urban
Explorer adalah murni adegan kejar-kejaran dan usaha penyelamatan diri sang
protagonist dari terkaman si antagonis. Jadi jangan terlalu banyak berharap
mendapatkan cerita yang bagus dan menarik di film ini karena Andy Fetscher
memang tak ingin membuat penontonnya terlalu rumit memikirkan apa yang
sebenarnya terjadi. Hal lain yang dijual adalah nama Nathalie Kelley yang
sebelumnya sudah terkenal sebagai cewek drifter di Fast and Furious:Tokyo
Drift.Selain itu, sinematografi yang
lumayan bernuansa creepy dan sedikit adegan gory juga masih membuat film ini
masih layak untuk ditonton, Andy Fetscher nampak sangat total dalam menangani
Urban Explorer karena selain sebagai sutradara, dia juga turut menangani
sinematografi dan editing film ini. Kesimpulannya, saya lumayan terhibur dengan
Urban Explorer, minus plotnya yang sangat dangkal dan hambar.
Duration: 1 hr 40 mins Directed
by: Juan Carlos Fresnadillo Written by:
Nicolas Casariego (screenplay), Jaime Marques (screenplay) Starring:
Clive Owen, Carice
van Houten, Izan Corchero
Fright Rate : *
(1/5)
Intruders(2011)
:TerorSi Hantu Muka Rata
Rasa-rasanya belakangan ini tak cukup
banyak film-film yang beredar mengangkat tema horror supranatural.
Entah karena pecinta film horror yang sekarang sudah nggak mempan
lagi ditakut-takuti dengan segala macam hantu-hantuan, atau mungkin
sekarang sedang nggak nge-trend saja, saya juga kurang mengerti. Tapi
nampaknya Juan Carlos Fresnadillo ingin memanfaatkan kekosongan di
dunia horror supranatural dengan membuat Intruders. Dan Fresnadillo
mengangkat tema tentang hantu muka rata (nama kerennya jadi Hollow Face di film ini) yang suka sembunyi di lemari dan gangguin anak-anak
kecil. Bukan suatu tema yang original sih sebenarnya, tapi itu semua
bergantung pada eksekusi sang sutradara, mau buat penonton
terkencing-kencing ketakutan atau hanya sekedar ngagetin aja, itulah
hal yang serasa tak pernah habis di dunia sinema. Apalagi Fresnadillo
di film ini ingin membuat suatu teror yang dilakukan oleh sang
makhluk halus bersifat multilokasi. Mari kita lihat hasil kerja
Fresnadillo di Intruders ini.
Ceritanya diawali dengan teror dari
makhluk halus bernama Hollow Face yang dialami oleh seorang bocah
kecil bernama Juan (Izan Corchero) di Madrid. Entah apa dosa Juan
hingga Hollow Face tiap malam selalu datang ke rumahnya dan
menakut-nakutinya. Di bagian negara yang lain yaitu Inggris, seorang
gadis kecil bernama Mia (Ella Purnell) juga diteror oleh Hollow Face
setelah menemukan sebuah catatan kecil tentang cerita makhluk
tersebut di sebuah lubang pohon. Mia mempunyai kemampuan
story-telling yang menawan, sehingga dia tertarik mengangkat
kisah Hollow Face untuk dijadikan bahan tugas sekolahnya. Namun sejak
itulah, Hollow Face selalu datang untuk melakukan tugas utamanya di
film ini yaitu melakukan teror pada Mia. Anehnya, yang percaya bahwa
Hollow Face itu benar-benar ada dan bukan khayalan hanyalah ayah Mia
(Clive Owen), karena satu-satunya orang yang bisa melihat Hollow Face
selain Mia adalah ayahnya. Bahkan sang ayah juga bertarung hebat
dengan Hollow Face di suatu waktu. Hingga suatu saat Mia tak dapat
lagi berbicara dan ahli jiwa yang merawat Mia memutuskan untuk
memisahkan Mia dari ayahnya karena Mia dianggap berbagi trauma
psikosomatis dengan sang ayah. Sementara itu di Madrid, ibu Juan yang
putus asa karena tiap malam Juan selalu berteriak-teriak ketakutan,
akhirnya meminta bantuan seorang pastor untuk mendoakan anaknya dan
mengadakan upacara pengusiran setan. Tapi nampaknya semua itu sia-sia
saja karena Hollow Face masih tetap keras kepala dan tetap ingin
memiliki jiwa Mia dan Juan.
Intruders sebenarnya memiliki cerita
yang cukup solid, meski di pertengahan film sempat membuat mata jadi
agak mengantuk. Dua plot yang dikembangkan oleh Fresnadillo nampak
sedikit timpang karena lebih banyak menyoroti kehidupan dan traumanya
Mia ketimbang kehidupan Juan. Sedikit twist menjelang akhir cerita
akan membeberkan apa yang sebenarnya terjadi selama film diputar.
Sayangnya, unsur spooky dan creepy yang ditampilkan
oleh Fresnadillo nampak mild bagi penggemar film horror yang
jam terbangnya sudah tinggi. Apalagi CGI yang ditambahkan juga tak
banyak berarti bagi film ini dan malah terkesan “kacangan”.
Secara umum, Intruders di mata saya nampak seperti ingin menghadirkan
nuansa spooky-comedy ala Boogeyman atau Drag Me To Hell-nya
Sam Raimi dan mengawinkannnya dengan dramatic-horrorkhasGuillermo del Toro. Tapi jadinya “gatot” alias gagal total karena
dua aliran tadi sangat susah bercampur jadi satu di tangan
Fresnadillo. Yah, kita doakan saja, semoga di masa depan Fresnadillo
mampu berkarya lebih baik lagi ketimbang Intruders ini.
Duration: 1 hr 30 mins Directed by: Heitor Dhalia Written by: Allison Burnett Starring: Amanda Seyfried, Jennifer Carpenter, Wes Bentley
Thrill Rate : * (1/5)
Gone(2012) : Aksi Bodoh Si Gadis Berambut Pirang
Sudah terlalu banyak film-film yang mengangkat tema tentang penculikan dengan berbagai versi, sehingga terkadang membuat para pembuat film (terutama di Hollywood) kekurangan ide untuk mengolah tema tersebut menjadi sebuah tontonan yang menarik (baca:menegangkan). Hal itu nampak jelas pada film berjudul Gone ini. Meski telah menggunakan Amanda Seyfried sebagai magnet untuk menarik minat para penonton bioskop, namun nampaknya hal itu tak membawa banyak pengaruh pada Gone dan malah cenderung menambah buruknya film ini. Tapi jika anda adalah seorang fanatic fan dari Seyfried, mungkin sudut pandang dalam menilai Gone bisa berbeda, dan bisa saja menilai film ini sebagai salah satu film terbaik dari Seyfried. Yang jelas, satu prinsip dalam menonton film yang tetap harus dipegang teguh adalah bahwa film yang ditonton haruslah dapat menghibur penontonnya, baik dari segi apapun. Dan bagi saya, Gone tak terlalu menghibur karena saya tak dapat menemukan unsur hiburan di film ini.
Gone disutradarai oleh Heitor Dhalia dan sebagai penulis ceritanya adalah Allison Burnett. Seperti yang telah saya tulis diatas, Gone mengambil tema tentang penculikan.Yang diculik disini adalah Molly, adik Jill Conway (Amanda Seyfried). Jill sendiri telah mengalami trauma akibat penculikan terhadap dirinya, namun herannya, tanda-tanda bekas penculikan atau penyiksaan tak nampak pada Jill, sehingga polisi yang menangani kasus penculikannya jadi meragukan keterangan yang diberikan Jill. hingga dia dianggap gila dan harus menjadi penghuni sebuah rumah sakit jiwa dalam waktu yang lumayan lama. Khas seperti film tentang penculikan lainnya, lagi-lagi polisi tak percaya pada laporan Jill tentang adiknya yang diculik, apalagi dengan latar belakang Jill yang pernah dirawat di rumah sakit jiwa. Akhirnya Jill memutuskan untuk mencari sendiri adiknya tanpa bantuan polisi, dan harus menghadapi sang penculik yang telah membuatnya trauma hingga kini.
Dari rata-rata film thriller/horror Hollywood yang saya tonton, jika ada salah satu karakter yang cantik dan berambut pirang, pasti digambarkan bodoh dan rata-rata mati duluan. Begitu pula yang saya temukan di Gone ini dengan karakter Jill. Jill malah jadi buronan polisi karena kebodohannya, bukan karena keadaan yang memaksa dia untuk bertindak bodoh. Dari 30 menit pertama film ini diputar, sudah nampak Jill yang sembrono dan sangat gegabah dalam bertindak. Saya jadi teringat dengan pertanyaan salah satu teman saya yaitu, “Why the blonde chick in the movie always did the dumb thing ?”. Saya cuma bisa nyengir dan nggak bisa jawab karena pakemnya rata-rata selalu begitu di setiap film yang sudah saya tonton. Bicara soal cerita film Gone, tidak ada sesuatu yang istimewa sama sekali. Malah ceritanya cenderung terlalu dangkal, nggak masuk akal dan nggak ada serunya sama sekali. Mungkin memang film ini sengaja dibuat hanya untuk mengekploitasi kecantkan Amanda Seyfried saja, demi memuaskan para fanatic fans Amanda, tanpa didukung cerita yang bermutu. Tidak ada lagi hal yang menarik untuk dibahas tentang film ini karena Gone adalah totally a crap movie bagi saya. Jadi kesimpulannya, jika anda adalah seorang fanatic fan dari Amanda Seyfried, silahkan memuaskan mata dengan menonton Gone, karena Amanda mendapat porsi 90%di-shoot di film ini. Tapi jika lebih mementingkan cerita dan ketegangan nonton film thriller, sebaiknya berpikir ulang sebelum nonton film ini.
Duration: 2 hr 02 mins Directed by: Xavier Gens Written by: Karl Mueller, Eron Sheean Starring: Michael Biehn, Lauren German, Milo Ventimiglia, Rosanna Arquette
Thrill Rate : *** (3/5)
The Divide(2012) : Potret Efek Pasca Bencana Nuklir Ala Xavier Gens
Kalau sudah bicara tentang film-film yang bertema pasca kehancuran dunia alias post-apocalyptic movie, tentu yang menjadi pakemnya untuk ditampilkan di film-film itu umumnya adalah kerusakan besar-besaran pada berbagai macam infrastruktur, dan tentu saja, bagaimana orang-orang yang tersisa atau masih hidup berusaha bertahan hidup. Tak ketinggalan pula, super duper CGI menjadi bumbu pemanis. Dalam The Divide, Xavier Gens masih menggunakan formula yang sama dengan eksekusi yang agak berbeda. Ya, The Divide mungkin merupakan salah satu dari sekian banyak film tentang pasca kehancuran dunia yang minimalis dan tak kolosal. Tapi meski demikian, film ini cukup memberikan nuansa baru dalam menonton sebuah post-apocalyptic movie dengan durasinya yang panjang (2 jam lebih hingga credit title habis).
Help me...mommy....
Film ini juga dinominasikan sebagai Best Feature Film di SXSW 2011 lalu. Setelah sebelumnya banyak menerima komentar yang cukup pedas dari para penonton dan kritikus akibat tak mampu menampilkan aksi Agent 47 secara utuh seperti di game-nya dan malah cenderung “cemen” dalam The Hitman (2007), Xavier Gens yang berasal dari Perancis ini nampaknya ingin mencoba sesuatu yang berbeda dengan menjadi sutradara The Divide. Skenarionya ditulis oleh Karl Mueller dan Eron Sheean. Aktor dan aktris yang terlibat di film ini sudah cukup banyak dikenal di berbagai film. Sebut saja aktor senior Michael Biehn yang pernah membintangi Aliens (1986) dan Terminator (1984) serta aktris senior Rosanna Arquette yang sangat dikenal lewat Pulp Fiction (1994) dan The Whole Nine Yards (2000). Aktris cantik Lauren German yang terakhir kali saya lihat aktingnya dalam The Hostel: Part II (2007) sebagai turis yang ikut disiksa The Elite, bersama salah satu aktor idaman istri saya (karena katanya ganteng dan saya sangat kalah ganteng sama doi) Milo Ventimiglia dalam serial TV Heroes (2006) juga ikut membintangi The Divide ini.
Ini nih yang dibilang ganteng sama bini gue...:)
Cerita The Divide dimulai setelah terjadi ledakan sebuah bom nuklir di Amerika Serikat yang telah meluluhlantakkan sebagian besar negara tersebut. Jangan tanya darimana asal bom nuklir tersebut dan apa tujuannya serta negara mana yang berani meledakkan bom nuklir-nya di Amerika, karena sama sekali tak ada jawaban tentang hal itu sepanjang film diputar. Yang jelas, Xavier Gens nampaknya tak mau membuat penontonnya jadi agak rumit mikirin masalah politik Amerika Serikat karena esensi film ini sendiri bukan membahas tentang invasi dari suatu negara ke negara lainnya. Lanjut ke cerita film ini, ternyata ada 9 orang yang berhasil menyelamatkan diri dari radiasi nuklir pasca ledakan bom tersebut setelah berlindung di sebuah basement. Karena masih takut akan ancaman debu radioaktif sisa ledakan bom nuklir yang tak mungkin hanya dibersihkan dengan vacuum cleaner rumahan, 9 orang ini memutuskan untuk tetap tinggal di basement dengan kondisi seadanya hingga keadaan lingkungan luar betul-betul aman. Sejak hidup bersama di basement inilah berbagai macam konflik terjadi, mulai dari hal yang remeh hingga menanjak intensitasnya menjadi saling teror dan intimidasi satu sama lain. Disini juga mulai timbul naluri binatang yang terpendam namun dimiliki manusia untuk dapat tetap hidup di keadaan yang tak bersahabat dan akan membuktikan siapa yang layak untuk berdiri sebagai orang yang terakhir selamat dari bencana tersebut.
Buat makan sehari-hari,potong mayat aja...
Xavier Gens memang tak menitikberatkan cerita The Divide pada kondisi lingkungan yang berantakan akibat serangan bom nuklir. Gens ingin memotret tentang apa yang sebenarnya manusia bisa lakukan dalam kondisi terdesak dan seakan sudah tak ada harapan hidup lagi di dunia ini. Manusia harus bertarung satu sama lain dan jadi sangat licik hanya demi memperebutkan makanan. Memang makanan adalah konflik utama yang paling sering muncul dalam post-apocalyptic movie, dan Gens membuatnya menjadi “sesuatu banget” (kata Syahrini) di film ini. Tapi itu hanyalah ide munculnya konflik, Gens memberikan porsi besar cerita pada konflik psikologis yang prosesnya berlangsung amat cepat dalam kelompok orang-orang yang selamat dari bencana tersebut serta teror mental yang dialami oleh masing-masing karakter di film ini. Bahkan hampir secara eksplisit, Gens mampu memotret segala tingkah laku diluar kewajaran dan hampir mirip binatang dari para manusia di basement ini dalam usaha menyelamatkan diri mereka masing-masing. Agar nampak indah, Gens membalut adegan-adegan teror serta horror psikologis yang dialami oleh orang-orang di basement ini dengan sinematografi yang cukup baik hingga penonton seperti membaca sebuah graphic novel. Sayangnya, ide tentang teror psikologis kurang dikembangkan oleh Gens, sehingga dari unsur cerita, The Divide plotnya terkesan hambar dan tak berhasil menyampaikan pesan dari film ini sendiri tentang tindak tanduk manusia dalam menghadapi kondisi post-apocalyptic. Sedikit twist menjelang akhir film lumayan memaniskan cerita The Divide. Khas film-film post-apocalyptic, ending dibiarkan menggantung dan meninggalkan banyak pertanyaan bagi penontonnya.
Tell me...where's the food...
Gaya Gens dalam bertutur di film ini adalah dengan menampilkan adegan-adegan eksploitatif tentang naluri binatang dari “homo sapiens” yang dihiasi dengan gore/slasher agak eksplisit, tapi masih dalam kategori ringan. Sebagai penggemar gore/slasher movie, tentu saja saya lumayan terhibur dengan adegan-adegan seperti ini. Tapi bagi yang masih sedikit “jam terbangnya” dalam menyaksikan adegan-adegan eksploitatif di film-film horror/thriller, mungkin saja adegan-adegan macam ini membuat penonton jadi cenderung jijik dan bahkan menutup mata (nggak sampai muntah). Kalau dinalar dari jalan ceritanya sih, adegan-adegan tersebut memang harus ada untuk mendukung cerita karena memang tak bisa diungkap lewat kata-kata saja, melainkan harus divisualisasikan ke layar secara apa adanya. Mau dibilang sadis juga silahkan, tapi adegan-adegan tersebut memang satu kesatuan dari cerita The Devide yang utuh. Efek visualnya yang minim CGI juga masih baik-baik saja. The Divide murni menjual akting dari masing-masing aktor-aktris yang terlibat di dalamnya ditambah sedikit nuansa kelam dan penuh intrik. Hanya saja, beberapa karakter yang ada di film ini cenderung lebay dan terlalu mengada-ada. Contohnya, karakter Marilyn yang diperankan oleh Rosanna Arquette yang ketiban sial karena meski sudah aktris senior, perannya disini bak pelacur murahan yang sangat dieksploitasi oleh Gens sebagai budak seks dari brondong-brondong macam Josh (Milo Ventimiglia) dan Bobby (Michael Eklund).
Gotcha....
The Divide adalah satu spesies post-apocalyptic movie yang bertutur dengan cara berbeda. Teror psikologislah yang menjadi kekuatan film ini. Tapi justru disinilah menariknya karena agak keluar dari jalur meski tema yang diangkat sudah sangat terlalu biasa. Cukup menghibur juga bagi pecinta sinema eksploitatif, namun kadarnya masih jauh di bawah tipe-tipe film grind house. Tapi bagi yang tak terbiasa menonton film-film yang lumayan banyak adegan sadisnya dan cenderung bikin jijik, mending pikir-pikir lagi sebelum nonton film ini karena saya tak mau disalahkan dikemudian hari karena anda harus pulang cepat dari bioskop sebelum film selesai dan muntah-muntah di rumah. Harapan saya untuk The Divide adalah jika memang bisa tayang di bioskop-bioskop Indonesia, filmnya nggak terlalu banyak dibabat sama gunting sensornya LSF. Semoga….
(WARNING !! Spoiler : adegan yang paling menarik menurut saya di film ini adalah saat Josh mencukur rambut kawannya Bobby. Agar badan Bobby tak kotor kena rambutnya yang dicukur, Josh mengambil bendera Amerika Serikat dan diselempangkan di tubuh Bobby (macam tukang cukur di barber shop itu lho). Kalau di Indonesia, mungkin adegan seperti ini udah kena gunting sensor dan bisa-bisa diperdebatkan sampai ke DPR kali ya, karena dianggap telah menghina negara, hehehehe…)