Jumat, 14 Desember 2012

Hell (2011) : Perspektif Kiamat Secara Minimalis



Title: Hell
Year : 2011  
Genre: Horror/Thriller/Sci-Fi
Duration: 1 hr 29 mins  
Directed by: Tim Fehlbaum  
Written by: Tim Fehlbaum
Starring: Hannah Herzsprung, Stipe Erceg, Lisa Vicari   
Thrill Rate : *** (3/5)



Hell (2011) : Perspektif Kiamat Secara Minimalis




“What ?? Roland Emmerich made a horror movie ?


Awalnya saya nyaris nggak percaya jika produser eksekutif Hell ini adalah Roland Emmerich. Padahal, seperti yang mungkin sudah kita ketahui bersama, Roland Emmerich jarang sekali membuat film yang “ecek-ecek” karena filmnya cenderung jadi blockbuster, bombastis dan merupakan suatu mega proyek di industri perfilman (terutama Hollywood), meski terkadang cerita yang dibawakan di film-filmnya nggak terlalu istimewa. Simak saja hasil karyanya seperti Independence Day (1996) atau The Day After Tomorrow (2004), bahkan film yang sempat bikin heboh dan penasaran rakyat Indonesia macam 2012 kurang lebih 3 tahun lalu. Roland nampaknya memang sangat terobsesi pada segala hal yang berbau “kiamat” dan “kehancuran dunia” dan apa yang disajikan Roland dalam film-filmnya pastilah sangat “besar”, baik dari segi proses produksi filmnya maupun dari segi budget. Ini yang sebenarnya membuat saya heran, mengapa Roland tertarik untuk menjadi produser eksekutif dari film Hell yang boleh dibilang menampilkan unsur “kiamat” atau “kehancuran dunia” secara minimalis. Bahkan sutradara dan penulis ceritanya juga belum terlalu dikenal di kancah perfilman (Tim Fehlbaum sebelumnya lebih banyak berkutat dengan short movie alias film pendek, menurut info yang didapat dari IMDb). Tapi, terlepas dari itu semua, Tim Fehlbaum boleh dibilang beruntung karena Roland mau melirik bahkan mendanai proyek yang sedang dikerjakannya hingga Hell berhasil diproduksi. Yah, boleh dibilang from zero to hero, IMHO. Dengan masih tetap mengedepankan unsur post-apocalyptic, film asal Jerman ini tampil agak berbeda dengan tak terlalu mengeksploitasi kehancuran dunia secara berlebihan.

Kamis, 22 November 2012

Adam Chaplin (2011) : Eksotisme Splatter Movie Italia Ala Manga




Title : Adam Chaplin
Year : 2011
Genre : Action/Horror
Duration : 1 hr 26 mins
Directed by : Emanuele De Santi
Written by : Emanuele De Santi
Starring : Emanuele De Santi, Giulio De Santi, Alessandro Gramanti, Paolo Luciani
Fright Rate : **** (4/5)

Adam Chaplin (2011) : Eksotisme Splatter Movie Italia Ala Manga


Siapa yang tak kenal dengan manga ? Komik Jepang ini seakan menjadi sebuah textbook bagi remaja (bahkan anak-anak) yang hidup di milennium ini. Jepang memang boleh dikatakan banyak memberikan inspirasi bagi hampir seluruh pop culture yang berkembang saat ini di seluruh dunia, termasuk di industri film. Bahkan, beberapa kali nyata-nyata industri film di Hollywood me-remake beberapa film J-Horror, meski hasilnya rata-rata mengecewakan akibat Hollywood terlalu mengedepankan sisi “bule” alias masih terlalu kebarat-baratan dalam mengadaptasi sebuah J-Horror, walhasil Hollywood gagal membungkus dan mentransfer nuansa kengerian dan ketakutan yang kita peroleh saat menonton J-Horror yang sesungguhnya. Namun, dibalik itu semua, ada seorang sutradara yang sekaligus aktor asal Italia bernama Emanuele De Santi, mencoba untuk memberikan visualisasi ala manga pada film berbahasa Italia berjudul Adam Chaplin ini.

Rabu, 15 Agustus 2012

The Pack (2010) : Another Weird French Horror



Title: The Pack (Original title : La Meute)
Year : 2010
Genre: Horror
Duration: 1 hr 24 mins
Directed by: Franck Richard
Written by: Franck Richard
Starring: Emilie Dequenne, Benjamin Biolay, Philippe Nahon, Yolande Moreau  
Fright Rate : *** (3/5)
  
The Pack (2010) : Another Weird French Horror  


Belakangan ini, entah kenapa, tiba-tiba film-film yang saya tonton kebanyakan berbau Perancis. Baik itu sutradaranya, maupun memang filmnya produksi Perancis. Negara ini memang  patut diperhitungkan dalam kancah film horror. Banyak film-film horror asal Perancis yang sangat sayang sekali dilewatkan horror-freak. Sutradara asal Perancis juga boleh dibilang kreatif dan lumayan inovatif dalam menciptakan ketakutan baru di genre horror. Meski terkadang masih terjebak dengan klise-klise lama, namun film-film horror Perancis masih layak tonton dan terkadang sangat menghibur. Terkadang visualisasinya malah sangat artistik di mata saya (terutama adegan slasher/gore yang proporsional). Belum lagi ditambah adanya pesan moral (berupa kritik atau berbagai hal yang satir) juga ikut divisualisasikan, hingga dunia sinema memiliki istilah tersendiri bagi jenis film-film horror asal Perancis ini yaitu French New Wave dan New French Extremity. Sebagai contoh, salah satu film Perancis yang menjadi pelengkap koleksi film horror saya adalah Haute Tension (High Tension) yang disutradarai Alexandre Aja. Masih ada juga Frontier(s)-nya Xavier Gens yang sangat sayang untuk dilewatkan, hingga Martyrs-nya Pascal Laugier.

Senin, 13 Agustus 2012

The Tall Man (2012) : Kritik Sosial Melalui Sebuah Mitos



Title: The Tall Man
Year : 2012
Genre: Horror/Thriller/Mystery/Crime
Duration: 1 hr 45 mins
Directed by: Pascal Laugier
Written by: Pascal Laugier
Starring: Jessica Biel, Jodelle Ferland, Stephen McHattie      
Thrill Rate : *** (3/5)

The Tall Man (2012) : Kritik Sosial Melalui Sebuah Mitos


Pascal Laugier, itulah salah satu nama yang membuat saya tertarik untuk menonton The Tall Man. Masih lumayan melekat di pikiran saya, bagaimana sepak terjang Laugier dalam menggarap Martyrs yang cukup ekstrim itu. Pascal Laugier memang seorang sutradara dan sekaligus penulis script film yang karyanya dominan beraliran New France Extremity, karena selalu sarat dengan torture porn, gore, dan terkadang cenderung ekstrim menampilkan berbagai hal yang dianggap tabu di dunia sinema. Sebenarnya ekspektasi saya terhadap The Tall Man cukup besar, karena film ini memiliki beberapa hal yang cukup meyakinkan untuk ditonton, yaitu :

Selasa, 07 Agustus 2012

The Raven (2012) : Imitasi Sherlock Holmes ?



Title: The Raven
Year : 2012
Genre: Thriller/Mystery/Crime
Duration: 1 hr 50 mins
Directed by: James Mc Teigue
Written by: Ben Livingston (screenplay), Hannah Shakespeare (screenplay)
Starring: John Cusack, Alice Eve, Luke Evans      
Thrill Rate : ** (2/5)

The Raven (2012) : Imitasi Sherlock Holmes ?


Seekor burung gagak terbang berputar-putar di atas kepala seorang pria yang nampaknya sedang sekarat. Bagi sebagian orang yang percaya tentang hal klenik (baik di dalam maupun luar negeri), burung gagak memang selalu jadi perlambang tentang adanya kematian. Begitulah kira-kira interpretasi seorang sastrawan Amerika Serikat, Edgar Allan Poe, tentang burung gagak yang menjadi opening scene di film The Raven. Salah satu kumpulan sajak dengan nuansa gothic dan macabre karya Poe adalah The Raven yang juga dipilih sebagai judul film ini. Setting film ini adalah pada pertengahan 1800-an di Baltimore, tempat Poe menghembuskan nafas terakhirnya. Edgar Allan Poe memang sangat terkenal dengan karya sastranya (baik sajak maupun prosa) yang berbau misteri, horror-gothic/macabre, dan sedikit science fiction. Poe juga terkenal sebagai kritikus dan editor karya sastra yang lumayan nyeleneh di jamannya. Saya tak akan membahas terlalu dalam tentang siapa Edgar Allan Poe karena biografi  tentang kehidupan Poe serta hasil karyanya dapat ditemukan di berbagai situs web, seperti misalnya disini. Lagipula, The Raven hanya menyoroti sedikit saja kehidupan Poe, mungkin tepatnya 3 hari menjelang kematiannya.

Senin, 30 Juli 2012

Paranormal Xperience 3D (2012) : Opera Sabun Horror in 3D



Title: Paranormal Xperience 3D (XP3D)
Year : 2012
Genre: Horror
Duration: 1 hr 30 mins
Directed by:  Sergi Vizcaino
Written by : Daniel Padro
Starring: Amaia Salamanca, Maxi Iglesias, Ursula Corbero, Alba Ribas 
Fright Rate : ** (2/5)

Paranormal Xperience 3D (2012) : Opera Sabun Horror in 3D


Saya ingat betul sekitar akhir ‘90an hingga awal 2000-an, televisi Indonesia, baik yang swasta maupun yang milik pemerintah, getol sekali menayangkan opera sabun hasil dubbing (bahasa kerennya saat itu telenovela). Bahasa asli yang digunakan tentu saja bahasa Spanyol, cuma supaya lebih bisa menarik dan mudah dimengerti masyarakat Indonesia, akhirnya telenovela ini di-dubbing ke bahasa Indonesia. Emak saya adalah salah satu penonton setia acara ini di berbagai saluran televisi, sampai hapal betul jam tayangnya dan jalan ceritanya, padahal stasiun TV-nya beda-beda (wonderful isn’t it ?, hehehe...). Tapi mungkin gara-gara keseringan nemenin Emak saya nonton telenovela itulah (meski sambil tertidur kadang-kadang), saya jadi sedikit tahu tipikal film-film Spanyol, yaitu ceritanya dramatis banget dan bahkan cenderung melankolis dan kadang nggak masuk akal. 

Jumat, 27 Juli 2012

Silent House (2012) : Hollywood Yang Hobi Bikin Remake


Title: Silent House
Year : 2012
Genre: Horror
Duration: 1 hr 25 mins
Directed by: Chris Kentis and Laura Lau
Written by : Laura Lau (screenplay), Gustavo Hernandez (film “La casa muda”)
Starring: Elizabeth Olsen, Adam Trese, Eric Sheffer Stevens 
Fright Rate : ** (2/5)

Silent House (2012) : Hollywood Yang Hobi Bikin Remake


Sekali lagi, Hollywood yang nampaknya sekarang makin kekurangan ide untuk membuat sebuah film horror bermutu, mencaplok sebuah film asal Uruguay berjudul La casa muda untuk dibikin versi Hollywood-nya dengan tajuk Silent House. Ini entah film keberapa yang di-remake dengan sentuhan ala Amerika oleh Hollywood, setelah sebelumnya juga me-remake beberapa J-Horror (film horror Jepang). Lama-lama, saya melihat gejala ini mungkin sebagai suatu kejenuhan dan buntunya ide dari industri film yang ada di Hollywood untuk bisa membuat film horror yang berkelas, seperti masa kejayaan film-film horror Hollywood sekitar tahun ’70-‘90an. Saya nggak pengen berpusing-pusing untuk mikirin itu semua, karena sebagai penonton film horror, tujuan saya hanya ingin mendapatkan hiburan yang bisa saya nikmati, titik. Mau hasil remake, original idea, ataupun true story/event, saya nggak terlalu peduli, karena yang penting adalah sebuah film (apapun genre-nya) wajib memberikan hiburan bagi penontonnya. Kembali ke Silent House (karena udah kebanyakan ngelantur…), menurut info yang berhasil saya himpun dari mbah Google, film ini memakai metode “one continuous take” alias pengambilan gambarnya dilakukan dengan terus menerus (tanpa “cut”) dan hanya dengan satu kamera saja, mirip dengan La casa muda. Katanya sih, biar bisa kasih pengalaman lebih buat yang nonton (agar bisa lebih dapet feel horror-nya) karena sepanjang film ini diputar, kameranya bakal buntutin sang tokoh utama kemanapun dia pergi. Karena kebetulan saya juga belum pernah nonton La casa muda, jadi belum bisa bandingin, mana yang lebih asyik buat ditonton. Seheboh apa sih sebenarnya film ini ? Mari kita buktikan bersama.

Selasa, 26 Juni 2012

Death and Cremation (2010) : The Bullying Effect




Title: Death and Cremation
Year : 2010
Genre: Thriller
Duration: 1 hr 26 mins
Directed by: Justin Steele
Written by : Justin Steele, Alecc Bracero
Starring: Brad Dourif, Jeremy Sumpter, Scott Elrod 
Thrill Rate : * (1/5)


Death and Cremation (2010) : The Bullying Effect


Efek dari bullying memang selalu menarik untuk diangkat menjadi sebuah cerita film atau novel. Berbagai dampak bullying juga seakan tak ada habisnya dibahas hingga sekarang, Para korban bullying selalu digambarkan tak berdaya menghadapi berbagai siksa yang menderanya, hingga suatu saat keadaan menjadi berbalik dan akhirnya sang korban menuntut balas pada yang telah melakukan bullying terhadap dirinya. Setidaknya pakem macam itulah yang selalu muncul di beberapa film horror/thriller bertemakan efek dari bullying yang pernah saya tonton. Formula tadi nampaknya juga ditiru dalam film thriller berjudul Death and Cremation ini, namun dengan memberikan sedikit saja bumbu pada plotnya.

Kamis, 21 Juni 2012

Welcome to The Jungle (2007) : Howdy, Cannibals !


Title: Welcome to the Jungle (Video)
Year : 2007
Genre: Horror
Duration: 1 hr 23 mins
Directed by: Jonathan Hensleigh
Written by : Jonathan Hensleigh
Starring: Sandy Gardiner, Callard Harris, Nick Richey, Veronica Sywak 
Fright Rate : ** (2/5)

Welcome to The Jungle (2007) : Howdy, Cannibals !


Judulnya mengingatkan pada satu judul lagu rock band favorit saya di era ’80-’90-an, Guns n Roses. Tapi, tunggu dulu, film ini sama sekali nggak ada hubungannya sama Guns n Roses, apalagi sama Axl Rose dan kawan-kawannya, jadi jangan harap ada Axl Rose nyanyi “Welcome to the Jungle” disini. Bukan musik rock yang ada, tapi kanibalisme. Sungguh suatu tema yang mengingatkkan saya pada kejayaan Cannibal Holocaust atau Cannibal Ferox yang sempat dilarang tayang di berbagai negara beberapa tahun lampau.

Kamis, 31 Mei 2012

The Killing Gene (2007) : Revenge + Price Equation = Serial Killer


Title: The Killing Gene (a.k.a w Delta z)
Year : 2007
Genre: Thriller/Horror
Duration: 1 hr 44 mins
Directed by: Tom Shankland
Written by : Clive Bradley (screenplay)
Starring: Stellan Skarsgard, Melissa George, Selma Blair, Tom Hardy
Thrill Rate : ** (2/5)

The Killing Gene (2007) : Balas Dendam + Persamaan Matematis = Serial Killer


The spirit of making a serial killer movie never dies…..
Setidaknya itulah semangat dari para sineas yang saya rasakan sejak mata saya mulai terbiasa menonton film-film thriller/horror bertemakan pembunuh berantai. Banyak diinspirasi dari true story/event tentang para psikopat yang bertebaran di muka bumi ini, tema-tema tentang kesadisan dan ke-“maniak”-an para pembunuh berantai ini seakan tak pernah habis untuk diangkat menjadi tontonan layar lebar yang menarik, sekaligus menakutkan, namun tetap membuat orang penasaran. Setidaknya itulah yang terbukti dari film-film macam Se7en (this is an epic serial killer movie), Saw (dengan beberapa sekuelnya yang rata-rata sukses), maupun Silence of the Lambs (yang ini masuk kategori tontonan agak “berat” dan “serius”). Tahun 2007 lalu, muncul sebuah film bertajuk The Killing Gene (a.k.a w Delta z) di bawah label distribusi Dimension Extreme. Saya baru mengetahui tentang The Killing Gene setelah main ke rental DVD film. Jujur, pertama kali yang membuat saya tertarik menyewa The Killing Gene adalah Melissa George, meski saya bukan fanatic fans-nya. Dari beberapa film yang ada Melissa di dalamnya, rata-rata lumayan bagus dan Melissa selalu kebagian peran sebagai heroine yang cukup tangguh namun masih tetap feminim. Apakah The Killing Gene juga bisa sebagus film tentang pembunuh berantai lainnya ? Mari kita buktikan bersama.

Selasa, 29 Mei 2012

The Ruins (2008) : Cerita Tentang Tanaman Pemakan Manusia


Title: The Ruins
Year : 2008
Genre: Horror
Duration: 1 hr 32 mins
Directed by: Carter Smith
Written by : Scott B. Smith (screenplay & novel)
Starring: Shawn Ashmore, Jena Malone, Jonathan Tucker, Laura Ramsey 
Fright Rate : **** (4/5)

The Ruins (2008) : Cerita Tentang Tanaman Pemakan Manusia


Jujur saja, sudah dua kali saya nonton film ini dan hasilnya tetap sama, a scary eco-horror movie, IMO. Plus, ini juga merupakan film yang lumayan detail dalam mendeskripsikan teror dan keantagonisan sebuah tanaman, meski sebenarnya tanaman tersebut hanya bertindak natural sesuai dengan kemampuan untuk bertahan hidup yang dimilikinya. Mungkin saya agak terlambat untuk me-review film ini, tapi sesuai kata pepatah “biar lambat, asal selamat” (nggak nyambung kan :-)). Ceritanya diangkat dari novel berjudul sama dengan film ini karya Scott B. Smith. Meski belum membaca novelnya, paling tidak 98% saya percaya bahwa novelnya pasti cukup menakutkan dan sangat menarik untuk dibaca, karena Scott B. Smith juga menulis screenplay untuk film ini. Means, pasti visualisasinya di film nggak jauh-jauh amat dari apa yang sudah ditulis di novel, tapi itu baru analisa saya. Demi memperbaiki opini saya tentang perbandingan novel The Ruins  dengan filmnya, silahkan beri komentar bagi siapapun yang telah membaca novel The Ruins, supaya posting ini jadi lebih obyektif lagi. Enough for the crap chit-chat, langsung saja kita lihat semenarik apa sebenarnya The Ruins.

Senin, 14 Mei 2012

The Theatre Bizarre (2011) : Omnibus Horor Dalam Balutan Teater Grand Guignol



Title: The Theatre Bizarre
Year : 2011
Genre:
Horror
Duration: 1 hr 53 mins
Directed & Screenplay by:
Jeremy Kasten, Richard Stanley, Buddy Giovinazzo, Tom Savini, Douglas Buck, Karim Hussain, David Gregory
Starring:
Udo Kier, Virginia Newcomb, Tom Savini, Lindsay Goranson 
Fright Rate : ** (2/5)

The Theatre Bizarre (2011) : Omnibus Horor Dalam Balutan Teater Grand Guignol
 
Secara nggak sengaja, saya menemukan keping DVD The Theatre Bizarre ini di sebuah rental dekat tempat saya tinggal. Poster yang melapisi box-nya lumayan menarik juga, cuma sayangnya, posisi box DVD film ini letaknya paling bawah di rak khusus film horor, hingga jarang dilirik orang. Begitu saya ambil dan baca-baca sebentar di posternya, saya baru ngeh ternyata ini film omnibus horror yang di dalamnya ada Tom Savini, my favourite horror sfx wizard dan Karim Hussain, sinematografer “gila” yang garap Hobo With The Shotgun. Dengan ekspektasi yang lumayan besar dan demi memenuhi rasa penasaran, saya sewa The Theatre Bizarre, untuk tahu, seberapa “parah”-nya jika sutradara film horror ngumpul lalu bikin omnibus.    

The Theatre Bizarre terdiri dari 1 framing segment yang membingkai 6 segment cerita. Dengan gaya visualisasi ala Teater Grand Guignol, framing segment yang disutradarai oleh Jeremy Kasten (The Wizard of Gore) ini mengantarkan cerita untuk masing-masing segment. Mari kita lihat, cerita apa saja yang ada di masing-masing segment :

Senin, 07 Mei 2012

Urban Explorer (2011) : Psikopat Labirin Bawah Tanah Berlin



Title: Urban Explorer
Year : 2011
Genre:
Horror/Thriller
Duration: 1 hr 32 mins
Directed by:
Andy Fetscher
Written by:
Martin Thau
Starring:
Nathalie Kelley, Nick Eversman, Klaus Stiglmeier, Max Riemelt    
Fright Rate : ** (2/5)

Urban Explorer (2011) : Psikopat Labirin Bawah Tanah Berlin


Sisa-sisa sepak terjang dan misteri tentang Nazi memang menjadi tema yang tetap menarik untuk diangkat hingga saat ini. Mulai dari proses holocaust hingga rumor tentang berbagai eksperimen gagal yang kerap dilakukan oleh dokter-dokter gila Nazi serasa tak ada habisnya untuk diangkat menjadi suatu film yang menarik oleh para sineas dunia. Terbukti dengan munculnya film bertajuk Urban Explorer yang masih mengangkat tema tentang peninggalan Nazi di lorong-lorong/terowongan bawah tanah Berlin. Lorong-lorong/terowongan bawah tanah ini bagai sebuah labirin bertingkat yang maha rumit di bawah hiruk pikuk Berlin dan jaman dahulu kala dipergunakan oleh Nazi untuk melakukan berbagai kegiatan, seperti misalnya menyiksa para tawanan perangnya, membuat berbagai eksperimen aneh, hingga menyusun strategi perang. Saat ini, terowongan/lorong-lorong tersebut malah dijadikan obyek wisata bawah tanah karena masih banyak menyimpan jejak kekejaman Perang Dunia II. Dari sinilah mungkin sineas asal Jerman bernama Andy Fetscher dan  penulis skenario Martin Thau tertarik untuk mengeksplorasi misteri tentang lorong-lorong tersebut dengan membuat Urban Explorer.


Ceritanya dimulai saat 4 orang remaja yang tertarik untuk berwisata menyusuri lorong-lorong bawah tanah Berlin menyewa seorang tour guide untuk melakukan hal tersebut. Setelah puas menyusuri lorong-lorong bak labirin bawah tanah tersebut, dalam perjalanan pulang, sang tour guide kena sial karena dia harus jatuh dari tempat yang cukup tinggi akibat kaget terkena cahaya flashlight dari kamera seorang turis yang dipandunya. Sang tour guide menderita cedera yang sangat parah dan akhirnya para pelancong remaja (yang pakemnya di film horror manapun selalu digambarkan panik dan tak siap jika keadaan darurat datang tanpa permisi) memutuskan untuk mencari bantuan. 2 orang mencoba keluar dari lorong bawah tanah tersebut, sementara sisanya menjaga sang tour guide. Dalam penantian untuk memperoleh bantuan, sekonyong-konyong muncullah seorang pria bernama Armin (Klaus Stiglmeier) menawarkan bantuan untuk mengobati dan pindah ke tempat yang lebih aman dan nyaman sembari menunggu bantuan datang. Bagai kerbau yang dicocok hidungnya, 2 remaja yang menjaga sang tour guide akhirnya menurut saja dan ikut ke tempat dimana Armin tinggal. Namun, keputusan untuk ikut dengan Armin ini nantinya adalah keputusan yang akan disesali oleh para remaja pelancong ini hingga akhir hayat mereka.


Satu hal yang patut saya acungi jempol adalah tentang karakter Armin, sang antagonis yang diperankan oleh Klaus Stiglmeier. Saya suka dengan aktingnya sebagai psikopat yang nampak sangat haus darah dan lumayan lihai serta cekatan dalam bertindak. Latar belakang kehidupan Armin memang tak terlalu banyak diekplorasi oleh Andy Fetscher karena mungkin memang Fetscher lebih ingin menyoroti tentang kelamnya kehidupan di bawah tanah Berlin. Disini dikatakan bahwa Armin hanyalah bekas penjaga perbatasan Berlin Timur dan Barat saat perang dingin masih berlangsung dulu. Porsi besar untuk cerita dan adegan bagi sang antagonis juga diberikan oleh Andy Fetscher. Cuma sayangnya, ada beberapa scene di film ini yang kadang nampak nggak masuk akal dan cenderung mengada-ada. Ide cerita film ini sendiri tak terlalu original menurut pendapat saya, karena sudah banyak yang mengangkat tema tentang psikopat, claustrophobia (phobia tempat sempit), dan nyctophobia (phobia tempat gelap).  Demikian juga plotnya yang kelewat sederhana dan kurang berkembang serta cukup banyak lubang di dalamnya, semakin membuat jalan ceritanya jadi hambar dan dangkal.


Secara umum, yang dijual di Urban Explorer adalah murni adegan kejar-kejaran dan usaha penyelamatan diri sang protagonist dari terkaman si antagonis. Jadi jangan terlalu banyak berharap mendapatkan cerita yang bagus dan menarik di film ini karena Andy Fetscher memang tak ingin membuat penontonnya terlalu rumit memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Hal lain yang dijual adalah nama Nathalie Kelley yang sebelumnya sudah terkenal sebagai cewek drifter di Fast and Furious:Tokyo Drift.  Selain itu, sinematografi yang lumayan bernuansa creepy dan sedikit adegan gory juga masih membuat film ini masih layak untuk ditonton, Andy Fetscher nampak sangat total dalam menangani Urban Explorer karena selain sebagai sutradara, dia juga turut menangani sinematografi dan editing film ini. Kesimpulannya, saya lumayan terhibur dengan Urban Explorer, minus plotnya yang sangat dangkal dan hambar.
 
      

Kamis, 03 Mei 2012

Intruders (2012) :Teror Si Hantu Muka Rata


Title: Intruders 
Year : 2011/2012
Genre: Horror/Thriller 
Duration: 1 hr 40 mins
Directed by: Juan Carlos Fresnadillo
Written by: Nicolas Casariego (screenplay), Jaime Marques (screenplay)
Starring: Clive Owen, Carice van Houten, Izan Corchero 
Fright Rate : * (1/5)



Intruders (2011) :Teror Si Hantu Muka Rata





Rasa-rasanya belakangan ini tak cukup banyak film-film yang beredar mengangkat tema horror supranatural. Entah karena pecinta film horror yang sekarang sudah nggak mempan lagi ditakut-takuti dengan segala macam hantu-hantuan, atau mungkin sekarang sedang nggak nge-trend saja, saya juga kurang mengerti. Tapi nampaknya Juan Carlos Fresnadillo ingin memanfaatkan kekosongan di dunia horror supranatural dengan membuat Intruders. Dan Fresnadillo mengangkat tema tentang hantu muka rata (nama kerennya jadi Hollow Face di film ini) yang suka sembunyi di lemari dan gangguin anak-anak kecil. Bukan suatu tema yang original sih sebenarnya, tapi itu semua bergantung pada eksekusi sang sutradara, mau buat penonton terkencing-kencing ketakutan atau hanya sekedar ngagetin aja, itulah hal yang serasa tak pernah habis di dunia sinema. Apalagi Fresnadillo di film ini ingin membuat suatu teror yang dilakukan oleh sang makhluk halus bersifat multilokasi. Mari kita lihat hasil kerja Fresnadillo di Intruders ini.



Ceritanya diawali dengan teror dari makhluk halus bernama Hollow Face yang dialami oleh seorang bocah kecil bernama Juan (Izan Corchero) di Madrid. Entah apa dosa Juan hingga Hollow Face tiap malam selalu datang ke rumahnya dan menakut-nakutinya. Di bagian negara yang lain yaitu Inggris, seorang gadis kecil bernama Mia (Ella Purnell) juga diteror oleh Hollow Face setelah menemukan sebuah catatan kecil tentang cerita makhluk tersebut di sebuah lubang pohon. Mia mempunyai kemampuan story-telling yang menawan, sehingga dia tertarik mengangkat kisah Hollow Face untuk dijadikan bahan tugas sekolahnya. Namun sejak itulah, Hollow Face selalu datang untuk melakukan tugas utamanya di film ini yaitu melakukan teror pada Mia. Anehnya, yang percaya bahwa Hollow Face itu benar-benar ada dan bukan khayalan hanyalah ayah Mia (Clive Owen), karena satu-satunya orang yang bisa melihat Hollow Face selain Mia adalah ayahnya. Bahkan sang ayah juga bertarung hebat dengan Hollow Face di suatu waktu. Hingga suatu saat Mia tak dapat lagi berbicara dan ahli jiwa yang merawat Mia memutuskan untuk memisahkan Mia dari ayahnya karena Mia dianggap berbagi trauma psikosomatis dengan sang ayah. Sementara itu di Madrid, ibu Juan yang putus asa karena tiap malam Juan selalu berteriak-teriak ketakutan, akhirnya meminta bantuan seorang pastor untuk mendoakan anaknya dan mengadakan upacara pengusiran setan. Tapi nampaknya semua itu sia-sia saja karena Hollow Face masih tetap keras kepala dan tetap ingin memiliki jiwa Mia dan Juan.




Intruders sebenarnya memiliki cerita yang cukup solid, meski di pertengahan film sempat membuat mata jadi agak mengantuk. Dua plot yang dikembangkan oleh Fresnadillo nampak sedikit timpang karena lebih banyak menyoroti kehidupan dan traumanya Mia ketimbang kehidupan Juan. Sedikit twist menjelang akhir cerita akan membeberkan apa yang sebenarnya terjadi selama film diputar. Sayangnya, unsur spooky dan creepy yang ditampilkan oleh Fresnadillo nampak mild bagi penggemar film horror yang jam terbangnya sudah tinggi. Apalagi CGI yang ditambahkan juga tak banyak berarti bagi film ini dan malah terkesan “kacangan”. Secara umum, Intruders di mata saya nampak seperti ingin menghadirkan nuansa spooky-comedy ala Boogeyman atau Drag Me To Hell-nya Sam Raimi dan mengawinkannnya dengan dramatic-horror khas Guillermo del Toro. Tapi jadinya “gatot” alias gagal total karena dua aliran tadi sangat susah bercampur jadi satu di tangan Fresnadillo. Yah, kita doakan saja, semoga di masa depan Fresnadillo mampu berkarya lebih baik lagi ketimbang Intruders ini.


Kamis, 12 April 2012

Gone (2012) : Aksi Bodoh Si Gadis Berambut Pirang



Title: Gone
Year : 2012
Genre:
Thriller/Crime/Drama
Duration: 1 hr 30 mins
Directed by:
Heitor Dhalia
Written by:
Allison Burnett
Starring:
Amanda Seyfried, Jennifer Carpenter, Wes Bentley   
Thrill Rate : * (1/5)

Gone (2012) : Aksi Bodoh Si Gadis Berambut Pirang


Sudah terlalu banyak film-film yang mengangkat tema tentang penculikan dengan berbagai versi, sehingga terkadang membuat para pembuat film (terutama di Hollywood) kekurangan ide untuk mengolah tema tersebut menjadi sebuah tontonan yang menarik (baca:menegangkan). Hal itu nampak jelas pada film berjudul Gone ini. Meski telah menggunakan Amanda Seyfried sebagai magnet untuk menarik minat para penonton bioskop, namun nampaknya hal itu tak membawa banyak pengaruh pada Gone dan malah cenderung menambah buruknya film ini. Tapi jika anda adalah seorang fanatic fan dari Seyfried, mungkin sudut pandang dalam menilai Gone bisa berbeda, dan bisa saja menilai film ini sebagai salah satu film terbaik dari Seyfried. Yang jelas, satu prinsip dalam menonton film yang tetap harus dipegang teguh adalah bahwa film yang ditonton haruslah dapat menghibur penontonnya, baik dari segi apapun. Dan bagi saya, Gone tak terlalu menghibur karena saya tak dapat menemukan unsur hiburan di film ini.


Gone disutradarai oleh Heitor Dhalia dan sebagai penulis ceritanya adalah Allison Burnett. Seperti yang telah saya tulis diatas, Gone mengambil tema tentang penculikan.  Yang diculik disini adalah Molly, adik Jill Conway (Amanda Seyfried). Jill sendiri telah mengalami trauma akibat penculikan terhadap dirinya, namun herannya, tanda-tanda bekas penculikan atau penyiksaan tak nampak pada Jill, sehingga polisi yang menangani kasus penculikannya jadi meragukan keterangan yang diberikan Jill. hingga dia dianggap gila dan harus menjadi penghuni sebuah rumah sakit jiwa dalam waktu yang lumayan lama. Khas seperti film tentang penculikan lainnya, lagi-lagi polisi tak percaya pada laporan Jill tentang adiknya yang diculik, apalagi dengan latar belakang Jill yang pernah dirawat di rumah sakit jiwa. Akhirnya Jill memutuskan untuk mencari sendiri adiknya tanpa bantuan polisi, dan harus menghadapi sang penculik yang telah membuatnya trauma hingga kini.


Dari rata-rata film thriller/horror Hollywood yang saya tonton, jika ada salah satu karakter yang cantik dan berambut pirang, pasti digambarkan bodoh dan rata-rata mati duluan. Begitu pula yang saya temukan di Gone ini dengan karakter Jill. Jill malah jadi buronan polisi karena kebodohannya, bukan karena keadaan yang memaksa dia untuk bertindak bodoh. Dari 30 menit pertama film ini diputar, sudah nampak Jill yang sembrono dan sangat gegabah dalam bertindak. Saya jadi teringat dengan pertanyaan salah satu teman saya yaitu, “Why the blonde chick in the movie always did the dumb thing ?”. Saya cuma bisa nyengir dan nggak bisa jawab karena pakemnya rata-rata selalu begitu di setiap film yang sudah saya tonton. Bicara soal cerita film Gone, tidak ada sesuatu yang istimewa sama sekali. Malah ceritanya cenderung terlalu dangkal, nggak masuk akal dan nggak ada serunya sama sekali. Mungkin memang film ini sengaja dibuat hanya untuk mengekploitasi kecantkan Amanda Seyfried saja, demi memuaskan para fanatic fans Amanda, tanpa didukung cerita yang bermutu. Tidak ada lagi hal yang menarik untuk dibahas tentang film ini karena Gone adalah totally a crap movie bagi saya. Jadi kesimpulannya, jika anda adalah seorang fanatic fan dari Amanda Seyfried, silahkan memuaskan mata dengan menonton Gone, karena Amanda mendapat porsi 90%  di-shoot di film ini. Tapi jika lebih mementingkan cerita dan ketegangan nonton film thriller, sebaiknya berpikir ulang sebelum nonton film ini.
 
 

Minggu, 01 April 2012

The Divide (2012) : Potret Efek Pasca Bencana Nuklir Ala Xavier Gens



Title: The Divide
Year : 2012
Genre: Horror/Thriller/Sci-Fi
Duration: 2 hr 02 mins
Directed by: Xavier Gens
Written by: Karl Mueller, Eron Sheean
Starring: Michael Biehn, Lauren German, Milo Ventimiglia, Rosanna Arquette
Thrill Rate : *** (3/5)

The Divide (2012) : Potret Efek Pasca Bencana Nuklir Ala Xavier Gens


Kalau sudah bicara tentang film-film yang bertema pasca kehancuran dunia alias post-apocalyptic movie, tentu yang menjadi pakemnya untuk ditampilkan di film-film itu umumnya adalah kerusakan besar-besaran pada berbagai macam infrastruktur, dan tentu saja, bagaimana orang-orang yang tersisa atau masih hidup berusaha bertahan hidup. Tak ketinggalan pula, super duper CGI menjadi bumbu pemanis. Dalam The Divide, Xavier Gens masih menggunakan formula yang sama dengan eksekusi yang agak berbeda. Ya, The Divide mungkin merupakan salah satu dari sekian banyak film tentang pasca kehancuran dunia yang minimalis dan tak kolosal. Tapi meski demikian, film ini cukup memberikan nuansa baru dalam menonton sebuah post-apocalyptic movie dengan durasinya yang panjang (2 jam lebih hingga credit title habis).


Help me...mommy....


Film ini juga dinominasikan sebagai Best Feature Film di SXSW 2011 lalu. Setelah sebelumnya banyak menerima komentar yang cukup pedas dari para penonton dan kritikus akibat tak mampu menampilkan aksi Agent 47 secara utuh seperti di game-nya dan malah cenderung “cemen” dalam The Hitman (2007), Xavier Gens yang berasal dari Perancis ini nampaknya ingin mencoba sesuatu yang berbeda dengan menjadi sutradara The Divide. Skenarionya ditulis oleh Karl Mueller dan Eron Sheean. Aktor dan aktris yang terlibat di film ini sudah cukup banyak dikenal di berbagai film. Sebut saja aktor senior Michael Biehn yang pernah membintangi Aliens (1986) dan Terminator (1984) serta aktris senior Rosanna Arquette yang sangat dikenal lewat Pulp Fiction (1994) dan The Whole Nine Yards (2000). Aktris cantik Lauren German yang terakhir kali saya lihat aktingnya dalam The Hostel: Part II (2007) sebagai turis yang ikut disiksa The Elite, bersama salah satu aktor idaman istri saya (karena katanya ganteng dan saya sangat kalah ganteng sama doi) Milo Ventimiglia dalam serial TV Heroes (2006) juga ikut membintangi The Divide ini.


Ini nih yang dibilang ganteng sama bini gue...:)


Cerita The Divide dimulai setelah terjadi ledakan sebuah bom nuklir di Amerika Serikat yang telah meluluhlantakkan sebagian besar negara tersebut. Jangan tanya darimana asal bom nuklir tersebut dan apa tujuannya serta negara mana yang berani meledakkan bom nuklir-nya di Amerika, karena sama sekali tak ada jawaban tentang hal itu sepanjang film diputar. Yang jelas, Xavier Gens nampaknya tak mau membuat penontonnya jadi agak rumit mikirin masalah politik Amerika Serikat karena esensi film ini sendiri bukan membahas tentang invasi dari suatu negara ke negara lainnya. Lanjut ke cerita film ini, ternyata ada 9 orang yang berhasil menyelamatkan diri dari radiasi nuklir pasca ledakan bom tersebut setelah berlindung di sebuah basement. Karena masih takut akan ancaman debu radioaktif sisa ledakan bom nuklir yang tak mungkin hanya dibersihkan dengan vacuum cleaner rumahan, 9 orang ini memutuskan untuk tetap tinggal di basement dengan kondisi seadanya hingga keadaan lingkungan luar betul-betul aman. Sejak hidup bersama di basement inilah berbagai macam konflik terjadi, mulai dari hal yang remeh hingga menanjak intensitasnya menjadi saling teror dan intimidasi satu sama lain. Disini juga mulai timbul naluri binatang yang terpendam namun dimiliki manusia untuk dapat tetap hidup di keadaan yang tak bersahabat dan akan membuktikan siapa yang layak untuk berdiri sebagai orang yang terakhir selamat dari bencana tersebut.


Buat makan sehari-hari,potong mayat aja...


Xavier Gens memang tak menitikberatkan cerita The Divide pada kondisi lingkungan yang berantakan akibat serangan bom nuklir. Gens ingin memotret tentang apa yang sebenarnya manusia bisa lakukan dalam kondisi terdesak dan seakan sudah tak ada harapan hidup lagi di dunia ini. Manusia harus bertarung satu sama lain dan jadi sangat licik hanya demi memperebutkan makanan. Memang makanan adalah konflik utama yang paling sering muncul dalam post-apocalyptic movie, dan Gens membuatnya menjadi “sesuatu banget” (kata Syahrini) di film ini. Tapi itu hanyalah ide munculnya konflik, Gens memberikan porsi besar cerita pada konflik psikologis yang prosesnya berlangsung amat cepat dalam kelompok orang-orang yang selamat dari bencana tersebut serta teror mental yang dialami oleh masing-masing karakter di film ini. Bahkan hampir secara eksplisit, Gens mampu memotret segala tingkah laku diluar kewajaran dan hampir mirip binatang dari para manusia di basement ini dalam usaha menyelamatkan diri mereka masing-masing. Agar nampak indah, Gens membalut adegan-adegan teror serta horror psikologis yang dialami oleh orang-orang di basement ini dengan sinematografi yang cukup baik hingga penonton seperti membaca sebuah graphic novel. Sayangnya, ide tentang teror psikologis kurang dikembangkan oleh Gens, sehingga dari unsur cerita, The Divide plotnya terkesan hambar dan tak berhasil menyampaikan pesan dari film ini sendiri tentang tindak tanduk manusia dalam menghadapi kondisi post-apocalyptic. Sedikit twist menjelang akhir film lumayan memaniskan cerita The Divide. Khas film-film post-apocalyptic, ending dibiarkan menggantung dan meninggalkan banyak pertanyaan bagi penontonnya.


Tell me...where's the food...


Gaya Gens dalam bertutur di film ini adalah dengan menampilkan adegan-adegan eksploitatif tentang naluri binatang dari “homo sapiens” yang dihiasi dengan gore/slasher agak eksplisit, tapi masih dalam kategori ringan. Sebagai penggemar gore/slasher movie, tentu saja saya lumayan terhibur dengan adegan-adegan seperti ini. Tapi bagi yang masih sedikit “jam terbangnya” dalam menyaksikan adegan-adegan eksploitatif di film-film horror/thriller, mungkin saja adegan-adegan macam ini membuat penonton jadi cenderung jijik dan bahkan menutup mata (nggak sampai muntah). Kalau dinalar dari jalan ceritanya sih, adegan-adegan tersebut memang harus ada untuk mendukung cerita karena memang tak bisa diungkap lewat kata-kata saja, melainkan harus divisualisasikan ke layar secara apa adanya. Mau dibilang sadis juga silahkan, tapi adegan-adegan tersebut memang satu kesatuan dari cerita The Devide yang utuh. Efek visualnya yang minim CGI juga masih baik-baik saja. The Divide murni menjual akting dari masing-masing aktor-aktris yang terlibat di dalamnya ditambah sedikit nuansa kelam dan penuh intrik. Hanya saja, beberapa karakter yang ada di film ini cenderung lebay dan terlalu mengada-ada. Contohnya, karakter Marilyn yang diperankan oleh Rosanna Arquette yang ketiban sial karena meski sudah aktris senior, perannya disini bak pelacur murahan yang sangat dieksploitasi oleh Gens sebagai budak seks dari brondong-brondong macam Josh (Milo Ventimiglia) dan Bobby (Michael Eklund).


Gotcha....


The Divide adalah satu spesies post-apocalyptic movie yang bertutur dengan cara berbeda. Teror psikologislah yang menjadi kekuatan film ini. Tapi justru disinilah menariknya karena agak keluar dari jalur meski tema yang diangkat sudah sangat terlalu biasa. Cukup menghibur juga bagi pecinta sinema eksploitatif, namun kadarnya masih jauh di bawah tipe-tipe film grind house. Tapi bagi yang tak terbiasa menonton film-film yang lumayan banyak adegan sadisnya dan cenderung bikin jijik, mending pikir-pikir lagi sebelum nonton film ini karena saya tak mau disalahkan dikemudian hari karena anda harus pulang cepat dari bioskop sebelum film selesai dan muntah-muntah di rumah. Harapan saya untuk The Divide adalah jika memang bisa tayang di bioskop-bioskop Indonesia, filmnya nggak terlalu banyak dibabat sama gunting sensornya LSF. Semoga….


(WARNING !! Spoiler : adegan yang paling menarik menurut saya di film ini adalah saat Josh mencukur rambut kawannya Bobby. Agar badan Bobby tak kotor kena rambutnya yang dicukur, Josh mengambil bendera Amerika Serikat dan diselempangkan di tubuh Bobby (macam tukang cukur di barber shop itu lho). Kalau di Indonesia, mungkin adegan seperti ini udah kena gunting sensor dan bisa-bisa diperdebatkan sampai ke DPR kali ya, karena dianggap telah menghina negara, hehehehe…)