Duration: 1 hr 30 mins Directed by: Heitor Dhalia Written by: Allison Burnett Starring: Amanda Seyfried, Jennifer Carpenter, Wes Bentley
Thrill Rate : * (1/5)
Gone(2012) : Aksi Bodoh Si Gadis Berambut Pirang
Sudah terlalu banyak film-film yang mengangkat tema tentang penculikan dengan berbagai versi, sehingga terkadang membuat para pembuat film (terutama di Hollywood) kekurangan ide untuk mengolah tema tersebut menjadi sebuah tontonan yang menarik (baca:menegangkan). Hal itu nampak jelas pada film berjudul Gone ini. Meski telah menggunakan Amanda Seyfried sebagai magnet untuk menarik minat para penonton bioskop, namun nampaknya hal itu tak membawa banyak pengaruh pada Gone dan malah cenderung menambah buruknya film ini. Tapi jika anda adalah seorang fanatic fan dari Seyfried, mungkin sudut pandang dalam menilai Gone bisa berbeda, dan bisa saja menilai film ini sebagai salah satu film terbaik dari Seyfried. Yang jelas, satu prinsip dalam menonton film yang tetap harus dipegang teguh adalah bahwa film yang ditonton haruslah dapat menghibur penontonnya, baik dari segi apapun. Dan bagi saya, Gone tak terlalu menghibur karena saya tak dapat menemukan unsur hiburan di film ini.
Gone disutradarai oleh Heitor Dhalia dan sebagai penulis ceritanya adalah Allison Burnett. Seperti yang telah saya tulis diatas, Gone mengambil tema tentang penculikan.Yang diculik disini adalah Molly, adik Jill Conway (Amanda Seyfried). Jill sendiri telah mengalami trauma akibat penculikan terhadap dirinya, namun herannya, tanda-tanda bekas penculikan atau penyiksaan tak nampak pada Jill, sehingga polisi yang menangani kasus penculikannya jadi meragukan keterangan yang diberikan Jill. hingga dia dianggap gila dan harus menjadi penghuni sebuah rumah sakit jiwa dalam waktu yang lumayan lama. Khas seperti film tentang penculikan lainnya, lagi-lagi polisi tak percaya pada laporan Jill tentang adiknya yang diculik, apalagi dengan latar belakang Jill yang pernah dirawat di rumah sakit jiwa. Akhirnya Jill memutuskan untuk mencari sendiri adiknya tanpa bantuan polisi, dan harus menghadapi sang penculik yang telah membuatnya trauma hingga kini.
Dari rata-rata film thriller/horror Hollywood yang saya tonton, jika ada salah satu karakter yang cantik dan berambut pirang, pasti digambarkan bodoh dan rata-rata mati duluan. Begitu pula yang saya temukan di Gone ini dengan karakter Jill. Jill malah jadi buronan polisi karena kebodohannya, bukan karena keadaan yang memaksa dia untuk bertindak bodoh. Dari 30 menit pertama film ini diputar, sudah nampak Jill yang sembrono dan sangat gegabah dalam bertindak. Saya jadi teringat dengan pertanyaan salah satu teman saya yaitu, “Why the blonde chick in the movie always did the dumb thing ?”. Saya cuma bisa nyengir dan nggak bisa jawab karena pakemnya rata-rata selalu begitu di setiap film yang sudah saya tonton. Bicara soal cerita film Gone, tidak ada sesuatu yang istimewa sama sekali. Malah ceritanya cenderung terlalu dangkal, nggak masuk akal dan nggak ada serunya sama sekali. Mungkin memang film ini sengaja dibuat hanya untuk mengekploitasi kecantkan Amanda Seyfried saja, demi memuaskan para fanatic fans Amanda, tanpa didukung cerita yang bermutu. Tidak ada lagi hal yang menarik untuk dibahas tentang film ini karena Gone adalah totally a crap movie bagi saya. Jadi kesimpulannya, jika anda adalah seorang fanatic fan dari Amanda Seyfried, silahkan memuaskan mata dengan menonton Gone, karena Amanda mendapat porsi 90%di-shoot di film ini. Tapi jika lebih mementingkan cerita dan ketegangan nonton film thriller, sebaiknya berpikir ulang sebelum nonton film ini.
Duration: 2 hr 02 mins Directed by: Xavier Gens Written by: Karl Mueller, Eron Sheean Starring: Michael Biehn, Lauren German, Milo Ventimiglia, Rosanna Arquette
Thrill Rate : *** (3/5)
The Divide(2012) : Potret Efek Pasca Bencana Nuklir Ala Xavier Gens
Kalau sudah bicara tentang film-film yang bertema pasca kehancuran dunia alias post-apocalyptic movie, tentu yang menjadi pakemnya untuk ditampilkan di film-film itu umumnya adalah kerusakan besar-besaran pada berbagai macam infrastruktur, dan tentu saja, bagaimana orang-orang yang tersisa atau masih hidup berusaha bertahan hidup. Tak ketinggalan pula, super duper CGI menjadi bumbu pemanis. Dalam The Divide, Xavier Gens masih menggunakan formula yang sama dengan eksekusi yang agak berbeda. Ya, The Divide mungkin merupakan salah satu dari sekian banyak film tentang pasca kehancuran dunia yang minimalis dan tak kolosal. Tapi meski demikian, film ini cukup memberikan nuansa baru dalam menonton sebuah post-apocalyptic movie dengan durasinya yang panjang (2 jam lebih hingga credit title habis).
Help me...mommy....
Film ini juga dinominasikan sebagai Best Feature Film di SXSW 2011 lalu. Setelah sebelumnya banyak menerima komentar yang cukup pedas dari para penonton dan kritikus akibat tak mampu menampilkan aksi Agent 47 secara utuh seperti di game-nya dan malah cenderung “cemen” dalam The Hitman (2007), Xavier Gens yang berasal dari Perancis ini nampaknya ingin mencoba sesuatu yang berbeda dengan menjadi sutradara The Divide. Skenarionya ditulis oleh Karl Mueller dan Eron Sheean. Aktor dan aktris yang terlibat di film ini sudah cukup banyak dikenal di berbagai film. Sebut saja aktor senior Michael Biehn yang pernah membintangi Aliens (1986) dan Terminator (1984) serta aktris senior Rosanna Arquette yang sangat dikenal lewat Pulp Fiction (1994) dan The Whole Nine Yards (2000). Aktris cantik Lauren German yang terakhir kali saya lihat aktingnya dalam The Hostel: Part II (2007) sebagai turis yang ikut disiksa The Elite, bersama salah satu aktor idaman istri saya (karena katanya ganteng dan saya sangat kalah ganteng sama doi) Milo Ventimiglia dalam serial TV Heroes (2006) juga ikut membintangi The Divide ini.
Ini nih yang dibilang ganteng sama bini gue...:)
Cerita The Divide dimulai setelah terjadi ledakan sebuah bom nuklir di Amerika Serikat yang telah meluluhlantakkan sebagian besar negara tersebut. Jangan tanya darimana asal bom nuklir tersebut dan apa tujuannya serta negara mana yang berani meledakkan bom nuklir-nya di Amerika, karena sama sekali tak ada jawaban tentang hal itu sepanjang film diputar. Yang jelas, Xavier Gens nampaknya tak mau membuat penontonnya jadi agak rumit mikirin masalah politik Amerika Serikat karena esensi film ini sendiri bukan membahas tentang invasi dari suatu negara ke negara lainnya. Lanjut ke cerita film ini, ternyata ada 9 orang yang berhasil menyelamatkan diri dari radiasi nuklir pasca ledakan bom tersebut setelah berlindung di sebuah basement. Karena masih takut akan ancaman debu radioaktif sisa ledakan bom nuklir yang tak mungkin hanya dibersihkan dengan vacuum cleaner rumahan, 9 orang ini memutuskan untuk tetap tinggal di basement dengan kondisi seadanya hingga keadaan lingkungan luar betul-betul aman. Sejak hidup bersama di basement inilah berbagai macam konflik terjadi, mulai dari hal yang remeh hingga menanjak intensitasnya menjadi saling teror dan intimidasi satu sama lain. Disini juga mulai timbul naluri binatang yang terpendam namun dimiliki manusia untuk dapat tetap hidup di keadaan yang tak bersahabat dan akan membuktikan siapa yang layak untuk berdiri sebagai orang yang terakhir selamat dari bencana tersebut.
Buat makan sehari-hari,potong mayat aja...
Xavier Gens memang tak menitikberatkan cerita The Divide pada kondisi lingkungan yang berantakan akibat serangan bom nuklir. Gens ingin memotret tentang apa yang sebenarnya manusia bisa lakukan dalam kondisi terdesak dan seakan sudah tak ada harapan hidup lagi di dunia ini. Manusia harus bertarung satu sama lain dan jadi sangat licik hanya demi memperebutkan makanan. Memang makanan adalah konflik utama yang paling sering muncul dalam post-apocalyptic movie, dan Gens membuatnya menjadi “sesuatu banget” (kata Syahrini) di film ini. Tapi itu hanyalah ide munculnya konflik, Gens memberikan porsi besar cerita pada konflik psikologis yang prosesnya berlangsung amat cepat dalam kelompok orang-orang yang selamat dari bencana tersebut serta teror mental yang dialami oleh masing-masing karakter di film ini. Bahkan hampir secara eksplisit, Gens mampu memotret segala tingkah laku diluar kewajaran dan hampir mirip binatang dari para manusia di basement ini dalam usaha menyelamatkan diri mereka masing-masing. Agar nampak indah, Gens membalut adegan-adegan teror serta horror psikologis yang dialami oleh orang-orang di basement ini dengan sinematografi yang cukup baik hingga penonton seperti membaca sebuah graphic novel. Sayangnya, ide tentang teror psikologis kurang dikembangkan oleh Gens, sehingga dari unsur cerita, The Divide plotnya terkesan hambar dan tak berhasil menyampaikan pesan dari film ini sendiri tentang tindak tanduk manusia dalam menghadapi kondisi post-apocalyptic. Sedikit twist menjelang akhir film lumayan memaniskan cerita The Divide. Khas film-film post-apocalyptic, ending dibiarkan menggantung dan meninggalkan banyak pertanyaan bagi penontonnya.
Tell me...where's the food...
Gaya Gens dalam bertutur di film ini adalah dengan menampilkan adegan-adegan eksploitatif tentang naluri binatang dari “homo sapiens” yang dihiasi dengan gore/slasher agak eksplisit, tapi masih dalam kategori ringan. Sebagai penggemar gore/slasher movie, tentu saja saya lumayan terhibur dengan adegan-adegan seperti ini. Tapi bagi yang masih sedikit “jam terbangnya” dalam menyaksikan adegan-adegan eksploitatif di film-film horror/thriller, mungkin saja adegan-adegan macam ini membuat penonton jadi cenderung jijik dan bahkan menutup mata (nggak sampai muntah). Kalau dinalar dari jalan ceritanya sih, adegan-adegan tersebut memang harus ada untuk mendukung cerita karena memang tak bisa diungkap lewat kata-kata saja, melainkan harus divisualisasikan ke layar secara apa adanya. Mau dibilang sadis juga silahkan, tapi adegan-adegan tersebut memang satu kesatuan dari cerita The Devide yang utuh. Efek visualnya yang minim CGI juga masih baik-baik saja. The Divide murni menjual akting dari masing-masing aktor-aktris yang terlibat di dalamnya ditambah sedikit nuansa kelam dan penuh intrik. Hanya saja, beberapa karakter yang ada di film ini cenderung lebay dan terlalu mengada-ada. Contohnya, karakter Marilyn yang diperankan oleh Rosanna Arquette yang ketiban sial karena meski sudah aktris senior, perannya disini bak pelacur murahan yang sangat dieksploitasi oleh Gens sebagai budak seks dari brondong-brondong macam Josh (Milo Ventimiglia) dan Bobby (Michael Eklund).
Gotcha....
The Divide adalah satu spesies post-apocalyptic movie yang bertutur dengan cara berbeda. Teror psikologislah yang menjadi kekuatan film ini. Tapi justru disinilah menariknya karena agak keluar dari jalur meski tema yang diangkat sudah sangat terlalu biasa. Cukup menghibur juga bagi pecinta sinema eksploitatif, namun kadarnya masih jauh di bawah tipe-tipe film grind house. Tapi bagi yang tak terbiasa menonton film-film yang lumayan banyak adegan sadisnya dan cenderung bikin jijik, mending pikir-pikir lagi sebelum nonton film ini karena saya tak mau disalahkan dikemudian hari karena anda harus pulang cepat dari bioskop sebelum film selesai dan muntah-muntah di rumah. Harapan saya untuk The Divide adalah jika memang bisa tayang di bioskop-bioskop Indonesia, filmnya nggak terlalu banyak dibabat sama gunting sensornya LSF. Semoga….
(WARNING !! Spoiler : adegan yang paling menarik menurut saya di film ini adalah saat Josh mencukur rambut kawannya Bobby. Agar badan Bobby tak kotor kena rambutnya yang dicukur, Josh mengambil bendera Amerika Serikat dan diselempangkan di tubuh Bobby (macam tukang cukur di barber shop itu lho). Kalau di Indonesia, mungkin adegan seperti ini udah kena gunting sensor dan bisa-bisa diperdebatkan sampai ke DPR kali ya, karena dianggap telah menghina negara, hehehehe…)