Senin, 13 Agustus 2012

The Tall Man (2012) : Kritik Sosial Melalui Sebuah Mitos



Title: The Tall Man
Year : 2012
Genre: Horror/Thriller/Mystery/Crime
Duration: 1 hr 45 mins
Directed by: Pascal Laugier
Written by: Pascal Laugier
Starring: Jessica Biel, Jodelle Ferland, Stephen McHattie      
Thrill Rate : *** (3/5)

The Tall Man (2012) : Kritik Sosial Melalui Sebuah Mitos


Pascal Laugier, itulah salah satu nama yang membuat saya tertarik untuk menonton The Tall Man. Masih lumayan melekat di pikiran saya, bagaimana sepak terjang Laugier dalam menggarap Martyrs yang cukup ekstrim itu. Pascal Laugier memang seorang sutradara dan sekaligus penulis script film yang karyanya dominan beraliran New France Extremity, karena selalu sarat dengan torture porn, gore, dan terkadang cenderung ekstrim menampilkan berbagai hal yang dianggap tabu di dunia sinema. Sebenarnya ekspektasi saya terhadap The Tall Man cukup besar, karena film ini memiliki beberapa hal yang cukup meyakinkan untuk ditonton, yaitu :
 
A. Sutradara dan penulis ceritanya Pascal Laugier; harapannya, The Tall Man mampu memberikan tontonan sekelas Martyrs yang banyak mengeksploitasi adegan-adegan disturbing (karena inilah yang menurut saya menarik dari film karya Laugier);
B. Produser dan sekaligus bintang utama The Tall Man adalah Jessica Biel; terakhir nonton aksi Biel di film Stealth, akting dan penampilannya sudah tak diragukan lagi. Justru yang menarik disini adalah peran Biel di The Tall Man, jauh dari kesan sexy seperti yang sering dimunculkan di film-film Biel lainnya, karena dia hanya berperan sebagai seorang perawat di sebuah kota kecil yang lumayan sepi;
C. The Tall Man adalah film berbahasa Inggris pertama (dengan kultur Amerika) yang dikerjakan oleh Pascal Laugier; dalam pandangan saya, pasti ada tantangan tersendiri bagi Laugier untuk menggarap film ini sehingga hasilnya bisa bagus banget atau jelek banget, karena mengawinkan New France Extremity dalam kultur sinema Amerika bisa jadi suatu hal yang baru dan bisa saja nggak berhasil menarik minat penonton untuk menyaksikannya hingga tuntas.   

Berdasarkan hal-hal itulah, akhirnya The Tall Man terputar di player saya, masih dengan harapan bisa melihat darah berceceran memenuhi layar player selama film diputar.


Julia Denning (Jessica Biel) adalah seorang perawat di satu-satunya pusat kesehatan di sebuah kota kecil dekat Washington. Suami Julia, yang juga dokter di kota terpencil tersebut, telah meninggal sehingga Julia harus menggantikan posisi suaminya sebagai tenaga medis. Kota ini dulu sebenarnya ramai karena adanya sebuah tambang. Namun kini tambang tersebut telah ditutup sehingga berakibat banyak penduduk kota yang kehilangan mata pencahariannya. Otomatis kondisi sosial masyarakat di kota tersebut jadi lumayan kacau balau.  Mulai dari pengangguran, kemiskinan, termasuk dalam kelalaian orang tua dalam urusan perawatan anak muncul sebagai konflik. Mitos mengenai sering menghilangnya anak-anak di kota tersebut adalah akibat penculikan yang dilakukan oleh sosok mistis berjuluk Tall Man yang sangat dipercayai oleh penduduk. Julia yang menganggap dingin tentang mitos Tall Man, ketiban sial juga karena anaknya ikut diculik oleh Tall Man. Akhirnya dengan usaha mati-matian, Julia berusaha mengungkap siapa sebenarnya sosok Tall Man yang hobi menculik anak-anak ini.


Dengan gaya bertutur yang naratif (suara narrator diisi oleh Jodelle Ferland), Pascal Laugier memberikan suatu tontonan yang jauh berbeda dengan Martyrs. Namun meski demikian, bukan berarti The Tall Man lalu menjadi suatu film yang tak menarik untuk ditonton, tetapi malah justru sebaliknya. 25 menit pertama menonton film ini memang terkesan membosankan dan hampir membuat mengantuk, tapi ini hanya sekedar trik yang digunakan oleh Laugier untuk membelokkan pemikiran penonton. Menit- menit selanjutnya, kita akan dibuat semakin penasaran oleh Laugier tentang apa yang sebenarnya terjadi. Banyak sekali twist yang dikembangkan oleh Laugier di film ini sehingga terkadang membuat penonton jadi terkecoh dan sedikit menguras emosi penonton. Suatu saat sang protagonis bisa saja mendadak jadi antagonis, tapi selanjutnya sang protagonis malah menjadi korban dari konflik dan keadaan tak menentu yang terus menerus berkembang sepanjang film. Ini juga merupakan kejutan tersendiri yang cukup berkesan bagi saya karena intinya The Tall Man adalah suatu film yang nggak mudah ditebak bagaimana kisah selanjutnya apalagi ending-nya. Malahan Laugier dengan sengaja membuat ending film ini menggantung agar penonton dapat menarik kesimpulan tersendiri dari apa yang telah ditontonnya. Boleh dibilang, hingga film inipun berakhir, mungkin masih bisa menimbulkan perdebatan di antara penonton tentang apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana akhir film ini sebenarnya. Bicara soal kritik sosial atau ditampilkannya tabu di aliran France New Wave atau New France Extremity, Laugier nampaknya menitikberatkan kritik tersebut pada ketakberdayaan pemerintah dalam mengatasi masalah sosial akibat kurangnya lapangan kerja, kemiskinan, pelecehan terhadap anak serta dalam masalah pengasuhan anak. Laugier telah sukses menyampaikan pesan moral tersebut dengan bahasa visual sinematik yang ujung-ujungnya memberikan rasa nggak nyaman bagi penonton karena penonton “dipaksa” oleh Laugier untuk melihat realita yang ada di masyarakat saat ini (khususnya di Amerika Serikat).        


Lupakan soal adegan-adegan gore dan torture porn atau adegan disturbing yang banyak mewarnai sinema beraliran New French Extremity, karena sebenarnya tanpa muncaratan darah dan tubuh yang termutilasi secara brutal, Laugier telah memberikan tontonan horror/ thriller yang lebih menarik di film ini. Pengambilan gambarnya yang sangat minim cahaya juga memberikan kesan tersendiri saat menonton. Hal yang membuat film ini jadi memorable bagi saya adalah eksekusi Laugier di The Tall Man telah membuat saya kecewa tapi sekaligus tersenyum senang karena film ini memang agak sedikit berbeda dengan film-film horror/thriller lainnya yang sudah pernah saya tonton, karena Laugier banyak memainkan emosi penontonnya serta telah sukses membuat penonton The Tall Man semakin penasaran menjelang ending, minus kebrutalan, muncratan darah, dan potongan anggota tubuh yang berserakan. Selain itu, plot-nya juga nggak linier alias melompat-lompat semau Laugier, agar membuat penonton jadi mengikuti terus cerita film ini, tapi nggak bikin pusing penonton juga. Akting Jessica Biel dan Jodelle Ferland bisa diacungi jempol di film ini. Musiknya juga semakin membuat penonton jadi tercekam sepanjang film ini berjalan. Mungkin bisa saja karena mood saya yang sedang bagus atau memang filmnya yang keren, jadinya saya sanggup menonton film ini hingga selesai, tanpa didampingi cemilan ataupun bantal disamping saya. The Tall Man adalah suatu film yang sangat unik di mata saya dan telah sukses membuat saya tertarik untuk menjadikan film ini sebagai salah satu koleksi film horror/thriller saya. Salut untuk Pascal Laugier yang berani tampil beda di The Tall Man.  

      

11 komentar:

  1. jujur, saat pertama kali saya menonton film ini, yg ada dalam pikiran saya hanya satu, "Saya ingin segera mengetahui siapa sosok The Tall Man itu". tapi nyatanya, sampai akhir film ini, saya tak kunjung menemui jawaban itu. Malah menjelang ending film, sy dibuat rancu untuk menebak siapa The Tall Man itu. Agak aneh jg, siapa sebenarnya yg jahat dlm film ini? Siapakah Mrs. Denning itu? Siapa pula wanita yang menyerang Denning dan menyebarkan fitnah pd penduduk sekitar bahwa Denning adalah si Tall Man. Lalu mengapa si Christine menyuntikkan sesuatu pd David? Lalu mengapa juga si gadis bisu mau saja dibawa kabur oleh seorang laki-laki untuk dijual pd seorang perempuan? Lalu, lalu, dan lalu. Itu yg selalu menjadi pertanyaan sy hingga detik ini. Agak menyebalkan sih, tp memang The Tall Man ini menguras banyak emosi saat menontonya..........

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal Sarah,
      pertanyaannya banyak amat yaaaa...hehehe. Demi mencegah spoiler, jawaban saya cuma bisa seperti ini : coba aja tonton pilemnya agak lebih detil, pasti ketemu deh jawabannya...hehehe...maaf y Sarah..

      Hapus
    2. kalo yg bisu minta perhatian si tall man sih karena kelahiran bayi dari sodarinya (tonton pada intronya)yg dianggap aib bagi keluarganya, ada kemungkinan si bisu ingin si bayi hilang dari keluarganya

      Hapus
  2. dan kenapa pula si Denning akhirnya dipenjara????? tolong jelaskaaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnn :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. idem sama jawaban yang diatas yaaaa...hehehehe...

      Hapus
  3. sekali nonton udah dapet jawabannya :)

    BalasHapus
  4. Huwaaa mau komen tp kok telat 3 taun ya hehehe, btw ganti dong tampilan blog-nya abis sakit mata nih bacanya hehehe :)

    BalasHapus
  5. iya mau nonton 2 kli baru ngerti hahahha.. apa gue yang lemot yah hohoho...

    -------------------------

    BANDARDARAT.COM menyediakan pasaran :
    -SINGAPORE
    -NAGOYA
    -WINA
    -HONGKONG
    -SYDNEY
    -TORONTO
    Minimal Depo WD Rp. 50.000,-
    Hubungi Kami di :
    Website : BandarDarat.com
    Call Centre : +855-17-459008
    YM : Cs_bandardarat
    BBM : 59152AF5
    Livechat : BandarDarat.com
    Link Daftar : http://goo.gl/qhHE5V
    Like Facebook : https://www.facebook.com/BandarDaratcom-484914535016763/
    Join Grup : https://www.facebook.com/groups/557708171044424/

    BalasHapus
  6. The Tall Man Beda Gk Ama Slenderman

    BalasHapus