Title: Dream House
Year : 2011
Genre: Thriller/Drama
Genre: Thriller/Drama
Duration: 1 hr 32 mins
Directed by: Jim Sheridan
Written by: David Loucka
Starring: Daniel Craig, Rachel Weisz, Naomi Watts, Elias Koteas, Marton Csokas
Directed by: Jim Sheridan
Written by: David Loucka
Starring: Daniel Craig, Rachel Weisz, Naomi Watts, Elias Koteas, Marton Csokas
Thrill Rate : ** (2/5)
DREAM HOUSE (2011) : THRILLER ATAU DRAMA ??
Trailer film Dream House ini sebenarnya tidak terlalu bagus menurut saya, tapi telah membuat saya cukup penasaran. Selain didukung oleh aktor dan aktris yang ternama sebagai nilai jual, dalam pikiran saya, siapa tahu saya akan menemukan ikon psikopat baru dalam Dream House karena tema film ini (menurut trailer yang saya tonton) masih berbau pembunuhan. Awalnya, saya mengira Dream House merupakan percampuran antara film psikopat dan supranatural seperti Amityville Horror (2007), ternyata setelah menonton film ini hingga tuntas, saya betul-betul “kecele” alias tertipu karena tidak ada sama sekali unsur supranatural dan psikopat dalam film ini.
Who's there ??
Awal film dimulai dengan farewell party untuk Will Atenton (Daniel Craig), seorang editor di sebuah perusahaan penerbitan yang memutuskan untuk keluar dari perusahaan tersebut dan menjadi penulis novel agar bisa lebih dekat dengan keluarganya. Will memiliki seorang istri yang cantik, Libby (Rachel Weisz) dan dua orang anak yang lucu, Trish (Taylor Geare) dan Dee Dee (Claire Geare). Mereka hidup di sebuah rumah yang baru mereka beli di New Ashwood, sebuah kota kecil yang digambarkan sedang bersalju. Awalnya, keluarga Will tidak mengetahui sejarah tentang rumah yang menjadi tempat tinggal mereka, hingga sekelompok remaja iseng menerobos masuk ke ruang bawah tanah rumah tersebut dan tertangkap basah oleh Will sedang bermain-main dengan boneka dan memorabilia lainnya yang tersimpan di ruang bawah tanah, seakan melakukan suatu upacara pemanggilan roh. Dari remaja-remaja itulah, akhirnya Will tahu bahwa di rumah tersebut telah terjadi pembantaian satu keluarga yang dilakukan oleh Peter Ward, kepala keluarga di rumah tersebut. Istri dan anak-anak Peter Ward tewas ditembak oleh Peter sendiri, begitulah keterangan awal yang diperoleh Will.
I love my family
Bermula dari hal itulah, akhirnya Will berusaha mencari keterangan tentang apa yang sebenarnya terjadi di rumah tersebut dan siapa sebenarnya Peter Ward. Apalagi anak-anak dan istri Will selalu diganggu dengan “penampakan” sosok misterius yang seakan mengawasi rumah tersebut setiap hari. Will juga bertanya pada tetangga depan rumahnya, Ann Patterson (Naomi Watts) tentang keberadaan Peter Ward. Ann inilah yang nantinya banyak membantu Will dalam merangkai puzzle tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga Peter Ward di rumah tersebut. Perjalanan Will dalam mencari keterangan tentang Peter Ward akhirnya membawa Will ke sebuah rumah sakit jiwa di kota tersebut, dimana Peter Ward dulunya pernah dirawat. Sang dokter di rumah sakit jiwa tersebut akhirnya menunjukkan hasil rekaman video Peter Ward selama dirawat dan alangkah kagetnya Will ketika mengetahui bahwa Peter Ward sebenarnya adalah dirinya sendiri.
I'm Ann Patterson
Disinilah plot Dream House mulai twisted, yang menurut saya, terlalu cepat untuk di-twisted. Penonton akhirnya dibuat “menyerah” dan “pasrah” mengikuti alur cerita tanpa perlu menebak-nebak lagi apa yang akan terjadi selanjutnya, padahal awal hingga pertengahan film ini masih cukup menjanjikan dengan membuat penonton penasaran. Menjelang ending film ini, akan terungkap sebenarnya apa yang terjadi dengan keluarga Peter Ward dan ternyata Libby dan anak-anak Peter Ward di rumah tersebut hanyalah merupakan manifestasi dari pikiran-pikiran Peter karena selama ini dia telah dituduh membunuh keluarganya sendiri. Oh ya, saya hampir tertawa saat dokter rumah sakit jiwa menjelaskan tentang asal nama Will Atenton. Ternyata nama itu berasal dari kode angka pada gelang Peter Ward yaitu W11L-11010. Alangkah tidak kreatif dan sangat lucu, melihat latar belakang Peter sebagai seorang editor dan penulis novel.
Good bye honey...
Sebenarnya saya agak jengkel setelah melihat Dream House ini secara utuh. Entah karena skenario film ini yang “kurang bagus” atau memang sutradaranya yang “kurang pintar” dalam mengarahkan film ini menjadi thriller yang sebenarnya, padahal ide ceritanya sendiri sudah cukup mumpuni untuk digali lebih dalam, meski tidak terlalu original (karena sudah terlalu banyak film tentang rumah berhantu atau pembantaian satu keluarga). Disamping itu, jika plot film ini akan di-twisted, seharusnya tidak perlu dipaksakan harus berada di pertengahan cerita. Berdasarkan film-film tentang “orang gila” atau “psikopat” yang sudah saya tonton, seperti misalnya Shutter Island (2010) atau The Ward (2010), pakemnya twisted plot itu menjelang ending film untuk memberikan efek kejutan pada penonton dan akhirnya penonton sebelum meninggalkan tempat duduknya akan berteriak, “ What the h*ll, did I miss something in this movie?”. Atau jika penulis skenario dan sutradaranya ingin bertindak ekstrim, sejak awal film plot sudah dibuat twisted, dan ada beberapa plot tambahan yang dibuat semakin twisted sehingga cerita film tersebut menjadi sedikit “kacau” yang akhirnya akan membuat penonton menyimpulkan sendiri bagaimana sebenarnya ending film tersebut.
Burn...baby...burn..
Jujur, saya memang sedikit merasakan suasana “creepy” dalam film ini, tapi menurut saya, itu hanyalah sekedar “pemanis” atau “tempelan” saja. Saya merasa kecewa dan “ditipu” mentah-mentah oleh film ini karena film berjalan sangat lambat dan akhirnya di pertengahan film, plot-nya harus di-twisted secara kasar sehingga menghilangkan unsur ketegangan yang mestinya saya dapatkan saat menonton film thriller. Ngapain saya harus menunggu selama hampir 40 menit demi sebuah plot yang twisted secara buru-buru di pertengahan film, sungguh suatu pemborosan bagi mata dan pikiran saya. Film ini secara umum, menurut saya, tidak patut dinyatakan sebagai film dengan genre thriller, tetapi lebih ke arah drama. Dalam film ini, saya juga tidak menemukan ketegangan yang berarti seperti layaknya menonton suatu film thriller. Yang saya dapatkan setelah menonton film ini adalah sekedar sebuah cerita drama melankolis tentang seorang ayah yang sangat mencintai keluarganya, hampir mirip dengan opera sabun jaman dulu. Bukan sebuah tontonan thriller yang mampu membuat jantung berdegup kencang dan pikiran yang selalu menebak-nebak jalan cerita film selanjutnya. Film ini hanya sekedar menjual nama besar Daniel Craig, Rachel Weisz, dan Naomi Watts, tidak lebih dan tidak kurang, tanpa kita mendapatkan apapun dalam jalan ceritanya.





