Jumat, 27 Januari 2012

Kill List (2011) : Ini Film Horor Apa Bukan Sih ?



Title: Kill List
Year : 2011
Genre: Horror/Thriller
Duration: 1 hr 35 mins
Directed by: Ben Wheatley
Written by: Ben Wheatley, Amy Jump
Starring: Neill Maskell, MyAnna Buring, Michael Smiley, Emma Fryer
    
Fright Rate : *** (3/5)

Kill List (2011) : Ini Film Horor Apa Bukan Sih ?

Pertanyaan itulah yang sempat timbul di pikiran saya setelah hampir 45 menit menonton Kill List. Namun, akhirnya pertanyaan tersebut terjawab setelah saya cukup bersabar (sambil makan cemilan) menonton film ini hingga tuntas. Film asal Inggris ini sempat juga diputar di iNAFF 2011 (kebetulan saya belum bisa nonton pas iNAFF 2011 kemarin) dan menurut obrolan rekan-rekan saya yang juga penikmat film horror, Kill List adalah film yang membingungkan serta cenderung membuat penonton menjadi cepat bosan dan akhirnya tertidur sebelum film selesai. Kill List disutradarai oleh Ben Wheatley dan skenarionya ditulis oleh Ben Wheatley juga bersama Amy Jump. Jujur saja, baru kali ini saya menonton film arahan Ben Wheatley.

 Hello, mate....

Awal film sudah dibuka dengan adegan pertengkaran antara Jay (Neill Maskell) dan istrinya, Shel (MyAnna Buring). Shel marah karena Jay sudah 8 bulan menganggur dan malah menghabiskan cukup banyak uang simpanan mereka dengan membeli sebuah jaccuzi. Datanglah sahabat Jay, Gal (Michael Smiley), menawarkan pekerjaan sebagai pembunuh bayaran dengan upah yang cukup menggiurkan bagi Jay. Mereka berdua hanya diharuskan membunuh 3 orang target saja. Karena kedua sahabat ini adalah mantan veteran perang Irak, jadi tugas bunuh membunuh orang adalah hal yang cukup mudah dilakukan dan akhirnya mereka menerima pekerjaan tersebut. Ternyata tugas mereka sebagai pembunuh bayaran tidaklah semudah yang dibayangkan dan akhirnya membawa mereka pada suatu dunia lain yang amat kelam dan misterius.

Let's kill 'em all...
 
Hampir 45 menit menonton Kill List, tidak ada nuansa creepy yang bisa dirasakan karena penonton hanya akan disuguhi pertengkaran demi pertengkaran yang terjadi antara Jay dan Shel serta bincang-bincang ringan antara Jay dan Gal. Bagi saya, tentu saja ini adalah hal yang mengecewakan, karena intensitas ketegangan masih belum terasa dan malah cenderung menganggap ini sebenarnya adalah sebuah film drama tentang keluarga yang tidak harmonis, bukan film thriller atau horor. Nampaknya Ben Wheatley tidak ingin terlalu terburu-buru dalam membangun ketegangan dengan melambatkan jalan cerita film ini. Setelah hampir 1 jam bertahan menonton film ini, akhirnya tensi ketegangan film mulai naik, namun masih tetap perlahan. Yang paling menarik perhatian dan membuat mata saya tak jadi mengantuk adalah adegan dimana Jay dengan brutal menghabisi target kedua mereka yang seorang pustakawan dengan memukulkan palu ke kepala targetnya, berulang kali. Biasa ? Tunggu dulu….karena adegan pukul kepala dengan palu ini digambarkan dengan sangat eksplisit hingga memperlihatkan kulit kepala yang “sedikit” terkelupas (ooppsss…spoiler).

Run...mate...run
 
Sebenarnya Kill List mengharuskan penontonnya memperhatikan detil setiap dialog dan adegan, jika tak ingin kebingungan mencerna film ini. Itupun jika penonton tak keburu tertidur di bagian awal film.  Banyak sekali clue yang bertebaran sepanjang film untuk menguak misteri tentang apa yang sebenarnya terjadi, jika penonton cukup cermat mengamatinya. Ben Wheatley juga masih sempat menyelipkan sedikit humor dalam film ini, mungkin dengan maksud agar penonton tidak terlalu bosan dengan alur film yang lambat. Simak saja adegan konyol di restoran ketika Jay merasa geram dengan sekumpulan remaja aktivis gereja saat dia sedang makan dengan Gal. Ending filmnya sendiri lumayan mengejutkan menurut saya, namun sudah bisa terprediksi sebelumnya. Secara umum, Kill List bukanlah jenis film horror yang mudah “ditelan bulat-bulat” oleh siapa saja. Butuh kesabaran dan sedikit “selera” yang agak berbeda untuk dapat menikmati film ini secara utuh.

Kamis, 26 Januari 2012

Straw Dogs (2011) : Deskripsi Eksplisit Sebuah Kebrutalan

Title: Straw Dogs

Year : 2011
Genre:
Thriller

Duration: 1 hr 50 mins
Directed by:
Rod Lurie
Written by:
Rod Lurie (screenplay), David Zelag Goodman (earlier screenplay), Sam Peckinpah (earlier screenplay), from novel “The Siege of Trencher’s Farm” by Gordon Williams
Starring:
James Marsden, Kate Bosworth, James Woods, Alexander Skarsgard    Thrill Rate : **** (4/5)



Straw Dogs (2011) : Deskripsi Eksplisit Sebuah Kebrutalan



Film ini sebenarnya merupakan remake dari sebuah film dengan judul yang sama dan diproduksi tahun 1971. Kala itu Dustin Hoffman dan Susan George yang menjadi pemeran utamanya. Tetapi sayangnya, saya belum bisa mendapatkan versi Straw Dogs tahun 1971 ini, jadi agak sulit sebenarnya untuk membuat perbandingan antara versi original dan versi remake dari film ini. Menurut keterangan yang saya dapat dari mbah Google, nama karakter maupun tema ceritanya masih sama dengan versi 1971. Yang berubah hanyalah lokasi tempat film ini dikisahkan, pekerjaan sang karakter protagonis, serta sedikit penyesuaian di sana-sini terhadap jalan ceritanya agar lebih nampak modern.


Straw Dogs dapat diterjemahkan secara bebas sebagai sesuatu yang dibuat untuk mudah dihancurkan (analoginya seperti boneka jerami di tengah sawah yang biasa digunakan untuk mengusir burung, jika sudah tak dibutuhkan, bisa dihancurkan) atau tindakan kasar serta brutal yang akan dilakukan pada satu atau banyak orang. Film ini disutradarai dan screenplay-nya ditulis oleh Rod Lurie. Disini Lurie juga masih memakai screenplay  versi 1971 yang ditulis oleh Sam Peckinpah dan David Zelag Goodman namun mungkin sudah disesuaikan agar lebih modern. Screenplay-nya sendiri diadaptasi dari novel Gordon Williams yang berjudul The Siege of Trencher’s Farm.


 I wanna go home, David....

Straw Dogs menceritakan tentang David Sumner (James Marsden), seorang penulis naskah film dari Los Angeles (Hollywood), yang sedang mencoba hidup di lingkungan yang baru (Blackwater, Mississippi) bersama isterinya Amy Sumner (Kate Bosworth), seorang bintang televisi yang cantik dan seksi. Mantan pacar Amy, Charlie Venner (Alexander Skarsgard) bersama geng-nya dipekerjakan oleh David untuk memperbaiki atap gudang mereka yang rusak. Suatu saat, ketika Amy sedang jogging di sekitar rumah, dia mendapat tatapan tak senonoh dari Charlie dan geng-nya. Otomatis Amy marah dan bercerita pada David tentang apa yang telah dialaminya. David malah menyuruh Amy untuk berpakaian agak lebih sopan demi menghindari tatapan tak senonoh. Namun Amy tetap berkeras pada pendiriannya dan malah melecehkan Charlie serta geng-nya dengan sengaja berdiri di depan jendela tanpa busana.


Charlie...did you rape my wife ?
Berawal dari sinilah, konflik David dan Amy dengan Charlie serta geng-nya dimulai. Hingga suatu saat, kucing kesayangan Amy mati dibunuh dan mayatnya digantung di lemari pakaian. Amy yang marah menuduh Charlie yang melakukan hal tersebut dan meminta David untuk menanyakan hal tersebut dengan Charlie. Namun David tak mau dan Amy menganggap David sebagai pengecut. Konflik keluarga Sumner dengan penduduk lokal semakin parah ketika David dituduh oleh Charlie dan seorang pelatih football (Coach) bernama Tom Heddon melindungi Jeremy (Dominic Purcell), seorang pria yang memiliki keterbelakangan mental dan menjalin hubungan dengan putri Tom, karena putri Tom tiba-tiba menghilang setelah nampak berduaan bersama Jeremy. Disini David dan Amy diuji batas kesabarannya dalam menghadapi sikap penduduk lokal yang kasar dan brutal terhadap mereka. Seperti  tagline film ini “Everyone Has A Breaking Point”

They're going in, David....
Sama sekali tidak ada hal yang istimewa dalam film ini. Jalan cerita film berjalan apa adanya, tanpa twist plot dan tanpa ending yang mengejutkan. Namun menurut saya, kekuatan film ini justru berada pada deskripsi secara eksplisit tentang kebrutalan itu sendiri. Bullying, sikap kasar, hingga kekerasan yang dilakukan oleh Charlie and the Gang pada David dan Amy tergambar dengan gamblang, meski tak terlalu banyak darah yang tumpah untuk menghindari film ini disebut sebagai film splatter/gore. Straw Dogs adalah film yang murni menjual thriller berdasarkan kekasaran dan kebrutalan penduduk lokal terhadap orang baru di lingkungan mereka. Kekuatan karakter masing-masing tokoh disini juga dieksplorasi dengan baik oleh Lurie. Belum pernah saya menonton film yang memberikan porsi cukup besar pada eksplorasi karakter antagonis seperti Charlie ini selain di Straw Dogs, meski karakter yang terakhir berdiri sebagai pemenang di akhir film tetap sang protagonis. Untuk penggemar jenis film thriller yang bertemakan house invasion/assault, Straw Dogs bagi saya layak dipertimbangkan untuk ditonton. Lurie telah berhasil memotret “keindahan” suatu kebrutalan dan kekerasan secara apik dan menawan dalam Straw Dogs.


Catatan kaki : adegan yang paling tak terlupakan oleh saya dalam film ini adalah saat Amy diperkosa oleh Charlie dan seorang anggota geng-nya, diiringi lagu Release Me....It's really an epic scene...

Rabu, 25 Januari 2012

Julia’s Eyes (2010) : Sebuah Thriller Klasik Sederhana Yang Memukau



Title: Julia’s Eyes (original title : los ojos de Julia)
Year : 2010
Genre:
Horror/Thriller/Crime/Mystery
Duration: 1 hr 52 mins
Directed by:
Guillem Morales
Written by:
Guillem Morales, Oriol Paulo
Starring:
Belen Rueda, Lluis Homar, Pablo Derqui    
Fright Rate : **** (4/5)

Julia’s Eyes (2010) : Sebuah Thriller Klasik Sederhana Yang Memukau

Terus terang saja, tidak ada hal yang bisa membuat saya tertarik menonton Julia’s Eyes ini selain nama besar Guillermo del Toro. Saya nggak terlalu kenal dengan Guillem Morales, Oriol Paulo, dan kawan-kawannya, karena mungkin saya memang jarang nonton film-film Spanyol. Film-film yang dimotori oleh Guillermo del Toro selalu saja enak ditonton, karena blending drama, thriller dan horror yang sangat pas, menurut pendapat saya. Julia’s Eyes adalah film berbahasa Spanyol yang disutradarai oleh Guillem Morales dan skenarionya ditulis secara keroyokan oleh Guillem Morales dan Oriol Paulo. Satu-satunya aktris yang saya kenal dalam film ini adalah Belen Rueda yang juga pernah main di salah satu film Guillermo del Toro yaitu The Orphanage (2007). Untuk ukuran sebuah film horror/thriller, durasi Julia’s Eyes termasuk cukup panjang karena nyaris menyentuh 2 jam. Meski durasinya lumayan lama, tetapi Guillem Morales cukup piawai untuk membuat penonton tidak mengantuk dan tetap duduk hingga film selesai. Julia’s Eyes juga cukup banyak meraih nominasi di berbagai festival film seperti di Brussels International Festival of Fantasy Film tahun 2011 (untuk sutradara terbaik, Guillem Morales) dan Cinema Writer’s Circle Awards di Spanyol, juga di tahun 2011 (untuk aktris terbaik, Belen Rueda)

Honey....you're going to blind....

Julia’s Eyes berkisah tentang Julia Levin (Belen Rueda) yang sedang menyelidiki penyebab kematian saudara kembarnya Sara (pemerannya juga Belen Rueda). Sara ditemukan oleh Julia dan Isaac (Lluis Homar), suami Julia, gantung diri di basement rumahnya. Julia dan Sara sama-sama memiliki penyakit mata degeneratif yang lama kelamaan akan membuat buta. Julia yakin bahwa kematian Sara bukanlah bunuh diri, melainkan ada pembunuh yang memang sudah lama mengincar Sara. Tetangga Sara yang juga buta, memberikan keterangan pada Julia bahwa Sara sering mengunjungi Baumann Center, semacam rumah sakit bagi orang-orang cacat fisik, untuk sekedar berkonsultasi, mendapatkan perawatan khusus, bahkan mendapatkan teman bagi Sara yang buta. Disinilah Julia berhasil “nguping” dari teman-teman Sara bahwa sebenarnya Sara punya pacar.

Dalam penelusuran keterangan tentang pacar Sara, Julia selalu dibuntuti oleh seorang pria misterius yang seringkali dilaporkan pada polisi oleh Julia. Tetapi polisi selalu kehilangan jejak, seakan pria tersebut “tidak terlihat” dan akhirnya polisi menganggap Julia paranoid akibat keterbatasan penglihatannya serta tidak mempercayainya lagi. Mau tidak mau, Julia harus berpacu dengan waktu untuk menemukan siapa pembunuh Sara dan siapa sebenarnya pria misterius yang selalu membuntutinya dan mungkin juga mengincar nyawanya sebelum mata Julia terlanjur buta.

  My eyes...my eyes...

Seperti tipikal film-film del Toro lainnya, nuansa Julia’s Eyes masih tetap suram, dingin, dan cenderung misterius. Entah mengapa del Toro selalu tertarik dengan film-film yang bernuansa suram seperti ini, seakan cenderung memberi semacam trademark bahwa ini adalah karya del Toro. Saya masih teringat betapa suram, misterius dan sangat penuh fantasinya Pan’s Labyrinth (2006), meski bukan termasuk film horror ataupun thriller. Tetapi yang jelas, del Toro nampaknya jarang salah lirik orang dalam memproduseri suatu film, karena rata-rata film del Toro laris manis di pasaran, termasuk yang baru dirilis seperti Don’t be Afraid of The Dark (2011). Kali ini del Toro mengajak Guillem Morales dan Belen Rueda untuk berkolaborasi dalam Julia’s Eyes dan lagi-lagi hasilnya sangat apik untuk ditonton dan jauh dari kata mengecewakan.

 Liar....you're liar....

Jalan ceritanya meski sangat mudah ditebak, tetapi endingnya lumayan mengejutkan, meski tidak sampai membuat penonton berteriak “What the h*ll….” Filmnya sendiri merupakan suatu perpaduan yang unik antara sebuah horror dan thriller serta crime mystery, yang masih tetap bertipe whodunit movie sehingga penonton juga seakan ikut diajak memecahkan misteri yang ada dari sudut pandang sang protagonis. Banyak sekali adegan yang memang sengaja mengambil sudut pandang dari penglihatan Julia yang hanya tinggal 20% saja, sekedar memberikan efek psikologis pada penonton. Meski adegan semacam ini sering diulang, tetapi jauh dari kata membosankan dan cenderung tidak menjadikannya sebagai suatu adegan yang murahan.

Nuansa creepy memang tidak terlalu terasa dalam film ini karena mungkin memang Guillem Morales sengaja merancang Julia’s Eyes bukanlah menjadi suatu tontonan horror/thriller yang menakutkan dan berat, namun menjadi suatu film yang lebih nyaman untuk dinikmati oleh penonton sembari menikmati cemilannya selama menonton. Twist plot juga ada disana-sini, namun tak sampai membuat penonton mengernyitkan alis untuk kembali mengingat apa yang sebenarnya terjadi sebelumnya, semuanya berjalan sangat ringan dan mudah dicerna. Sebagai penutup, Julia’s Eyes menyajikan suatu classic thriller buatan Spanyol khas milik del Toro yang sangat mudah dinikmati oleh movie freak atau non movie freak karena sangat sederhana, namun jauh dari kesan murahan. Mirip sebuah novel giallo yang sangat mudah sekali “dikunyah” oleh siapapun. Angkat topi untuk Guillermo del Toro dan Guillem Morales.

 Please don't blink Ms. Rueda.....

Catatan kecil : Ada lagu favorit saya dalam film ini yaitu The Look of Love, bikin saya merinding juga dengerin lagu ini setelah dipakai soundtrack dalam Julia’s Eyes, karena pas Sara gantung diri, latar belakang musiknya ya The Look of Love ini (dalam film ini diceritakan Sara sangat benci dengan lagu ini).