Selasa, 07 Agustus 2012

The Raven (2012) : Imitasi Sherlock Holmes ?



Title: The Raven
Year : 2012
Genre: Thriller/Mystery/Crime
Duration: 1 hr 50 mins
Directed by: James Mc Teigue
Written by: Ben Livingston (screenplay), Hannah Shakespeare (screenplay)
Starring: John Cusack, Alice Eve, Luke Evans      
Thrill Rate : ** (2/5)

The Raven (2012) : Imitasi Sherlock Holmes ?


Seekor burung gagak terbang berputar-putar di atas kepala seorang pria yang nampaknya sedang sekarat. Bagi sebagian orang yang percaya tentang hal klenik (baik di dalam maupun luar negeri), burung gagak memang selalu jadi perlambang tentang adanya kematian. Begitulah kira-kira interpretasi seorang sastrawan Amerika Serikat, Edgar Allan Poe, tentang burung gagak yang menjadi opening scene di film The Raven. Salah satu kumpulan sajak dengan nuansa gothic dan macabre karya Poe adalah The Raven yang juga dipilih sebagai judul film ini. Setting film ini adalah pada pertengahan 1800-an di Baltimore, tempat Poe menghembuskan nafas terakhirnya. Edgar Allan Poe memang sangat terkenal dengan karya sastranya (baik sajak maupun prosa) yang berbau misteri, horror-gothic/macabre, dan sedikit science fiction. Poe juga terkenal sebagai kritikus dan editor karya sastra yang lumayan nyeleneh di jamannya. Saya tak akan membahas terlalu dalam tentang siapa Edgar Allan Poe karena biografi  tentang kehidupan Poe serta hasil karyanya dapat ditemukan di berbagai situs web, seperti misalnya disini. Lagipula, The Raven hanya menyoroti sedikit saja kehidupan Poe, mungkin tepatnya 3 hari menjelang kematiannya.


 
Sutradara The Raven adalah James Mc Teigue yang telah membuat saya angkat topi dengan V for Vendetta dan Ninja Assasin yang sangat komikal, meski ceritanya memang agak nggak masuk akal. Edgar Allan Poe diperankan oleh John Cusack dan Alice Eve kebagian jatah sebagai kekasih Poe, Emily Hamilton. Premisnya sangat sederhana, yaitu tentang terjadinya serangkaian pembunuhan yang terinsprasi oleh karya sastra Poe. Detektif Fields (Luke Evans) yang mengetahui tentang hal ini, akhirnya mengajak Poe untuk bekerjasama demi melacak sang pembunuh dan mencegah korban-korban selanjutnya, termasuk kekasih Poe. Kemampuan analitik Poe sangat membantu Fields dalam menelusuri jejak sang pembunuh, meski Poe kadang terkesan agak sembrono dan nekat. Beberapa karya sastra Poe yang menjadi inspirasi bagi sang pembunuh adalah The Murders in The Rue Morgue, The Masque of Death, The Pit and The Pendulum, dan The Tell Tale Heart. Semuanya memiliki karakterisktik korban yang sangat unik dan dibikin mirip oleh sang pembunuh dengan karya Poe tadi. Poe benar-benar dites kemampuan analitiknya dalam memecahkan puzzle dari sang pembunuh karena sang pembunuh benar-benar seorang penggemar sejati karya Poe. Duet Poe dan Fields juga harus berpacu dengan waktu agar Emily, kekasih Poe, dapat diselamatkan dan sang pembunuh berantai juga dapat ditangkap.


Jujur saja, saya tak tahu banyak tentang karya-karya sastra Edgar Allan Poe. Jadi saya nggak bisa kalau disuruh bandingin antara eksekusi di film dengan prosa hasil tulisan Poe tentang pembunuhan berantai yang terjadi dalam The Raven. Tapi yang jelas, eksekusi The Raven, di mata saya, kenapa jadi agak mirip dengan Sherlock Holmes ? Mulai dari karakterisasinya (antara Poe dan Fields mirip dengan Sherlock Holmes dan Watson) hingga aksi berpacu dengan waktu demi menangkap sang penjahat (ini klise yang biasa ditemukan di film thriller). Namun, meski begitu, jelas sangat berbeda tensi ketegangan yang diciptakan oleh masing-masing film. The Raven terkesan lebih ingin memotret tentang kemisteriusan menjelang kematian Poe dibanding mengedepankan aksi heroik dari sang protagonis. Disini Poe digambarkan sebagai sosok yang lumayan amburadul. Poe digambarkan sangat emosional, memiliki ketergantungan pada alkohol, sekaligus juga miskin. Entah ini penggambaran Poe yang sebenarnya atau hanya hasil rekayasa berdasarkan catatan sejarah yang ada, saya sendiri juga nggak tahu. Namun yang jelas, John Cusack sepertinya kurang sesuai untuk memerankan Poe karena kelewat kalem dan kurang ekspresif jika memang Poe digambarkan sebagai seorang yang emosional, IMO. 


Kembali ke jalan cerita The Raven, sebenarnya nggak ada sesuatu yang istimewa dan menarik untuk disimak karena semuanya tampak standar saja dan masih saja terjebak dengan klise-klise lama film thriller tentang pembunuh berantai. Seperti biasa, twist saat ending akan menjelaskan semuanya. John Mc Teigue juga sepertinya kehilangan sentuhannya di film ini, eksekusinya sangat membosankan dan terlalu bertele-tele. Selain itu, nampaknya Mc Teigue juga ingin membuat film ini jadi nampak lebih nyeni alias artistik dengan bermain detil terhadap segala setting background dan banyak menampilkan interpretasi visual dari karya-karya Poe (seperti pada opening scene). Bicara soal kejanggalan di film ini, salah satu yang paling nampak mencolok adalah penggunaan istilah serial killer yang sebenarnya istilah ini baru dikenal sekitar tahun 1970-an, bukan 1800-an.


Sedikit adegan gore mewarnai The Raven, meski hanya sekejap saja. Saya juga sempat menyaksikan sebuah gadget yang kelihatannya amat mirip dengan salah satu gadget milik Jigsaw di film Saw (maaf, saya lupa di Saw yang keberapa), yaitu ada gadget berupa pendulum yang digantungi kampak dan digunakan buat mencincang orang. Poe di film ini mengklaim bahwa dialah yang menciptakan secara imajiner gadget tersebut dalam The Pit and The Pendulum. Dari sini saya bisa tarik kesimpulan bahwa bisa saja gadget-gadget ataupun cara menyiksa orang ala Jigsaw yang tampak mengerikan itu terinspirasi juga dari karya Poe. Sebenarnya potensi film ini cukup besar untuk menarik minat penonton karena ceritanya cukup solid. Namun karena eksekusinya yang kurang apik, jadinya The Raven hanya sekedar cukup lumayan untuk ditonton, tanpa ada sesuatu yang bisa diingat. Secara umum, saya lumayan terhibur dengan The Raven, namun untuk menjadikan film ini sebagai salah satu koleksi saya, mungkin saja akan saya jawab…pikir-pikir dulu deh…hehehehe.
 
                      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar