Senin, 27 Februari 2012

Brake (2012) : Claustrophobia Is The Best


Title: Brake
Year : 2012
Genre: Thriller/Crime
Duration: 1 hr 32 mins.
Directed by: Gabe Torres
Written by: Timothy Mannion
Starring:  Stephen Dorff, Tom Berenger, Chyler Leigh, JR. Bourne
Thrill Rate : **** (4/5)

Brake (2012) : Claustrophobia Is The Best


Masih ingat dengan sebuah thriller berjudul Buried karya Rodrigo Cortes tahun 2010 lalu ? Ya, bintangnya adalah Ryan Reynolds yang dikubur hidup-hidup di tengah gurun pasir Irak. Idenya cukup original dan Cortes sangat jago mengolah claustrophobia menjadi suatu hal yang tak membosankan penonton Buried selama hampir 1 jam 30 menit. Nampaknya, Gabe Torres juga tak mau ketinggalan ingin mengikuti jejak Cortes dalam mengangkat ide yang sama dengan membuat Brake. Masih tetap menampilkan peti sebagai pemicu claustrophobia, Torres mencoba untuk bertutur dengan cara yang lain. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa Brake adalah rip-off dari Buried, namun dengan sentuhan yang berbeda. Tapi bagi saya, mau rip-off atau nggak, selama saya menikmati filmnya, saya nggak terlalu peduli dengan hal itu. Ide boleh saja sama, tapi eksekusinya bisa saja berbeda. Dan hal itulah yang terjadi pada Brake karya Gabe Torres ini.

 Trapped in a box with some gadget

Ceritanya berkisar pada seorang agen Secret Service bernama Jeremy Reins (Stephen Dorff) yang tiba-tiba terjebak di sebuah peti transparan. Tapi nasib Jeremy masih lebih baik dibanding Paul Conroy di Buried karena petinya nggak dikubur dalam tanah, tapi diletakkan di bagasi mobil. Petinya juga dilengkapi dengan sebuah radio CB, sebuah speaker yang disambungkan dengan handphone serta sebuah jam digital yang selalu menghitung mundur. Seandainya posisinya dibalik, tentu Paul Conroy akan lebih mudah meloloskan diri dari peti tersebut dibanding dengan Jeremy karena peralatan yang sengaja diletakkan di petinya Paul tak secanggih di petinya Jeremy (hey…tunggu, ini filmnya beda jaman, jangan disamain dong). Ternyata Jeremy bukan satu-satunya yang kejebak di peti tersebut. Di tempat lain, ada seorang pria yang bekerja di Gedung Putih bernama Henry (JR. Bourne) juga mengalami nasib yang sama seperti Jeremy. Kedua orang ini akhirnya saling berkomunikasi lewat radio CB dan berusaha menyusun rencana untuk dapat lolos dari peti tersebut. Jeremy maupun Henry ternyata adalah tawanan teroris yang menginginkan lokasi The Roulette (bunker tempat presiden Amerika Serikat berlindung jika negara dalam keadaan genting). Karena telah terikat oleh sumpah sebagai Secret Service yang akan selalu melindungi sang presiden dalam keadaan apapun, Jeremy betul-betul diuji ketahanan mental dan fisiknya agar tak sampai membocorkan rahasia negara tentang lokasi The Roulette pada teroris.

Hitung mundur..... 

Alur cerita Brake secara umum tidak terlampau istimewa, karena bagi yang telah menonton Buried, apa yang telah dialami Jeremy masih kalah seram dengan yang dialami Paul di Buried. Namun Brake tetap adalah sesuatu yang berbeda dari Buried. Meski sama-sama menyajikan intense thriller dari awal hingga akhir film, tapi Torres cukup “gila” dalam bermain-main dengan twist ganda saat ending. Saya pun lumayan kaget dengan ending film ini, karena hampir tak tertebak sama sekali. Karena Torres mungkin masih merasa ending filmnya masih terlalu biasa, maka ditambahkannya final twist di detik-detik terakhir film ini mau bubar. Sebagai penonton, saya cuma bisa tersenyum dan puas dengan hasil kerja Torres dan Mannion yang telah berhasil mengecoh pikiran saya hingga film selesai. Kekuatan film ini justru terletak pada ending yang hampir tak terduga tersebut, karena sepanjang film, ceritanya mengalir begitu saja dengan lancar dan biasa, walau ditambah dengan sedikit kejutan-kejutan ringan di dalamnya. Torres juga sama suksesnya seperti Cortes dalam menyajikan thriller “ruang sempit” sebagai tontonan yang mampu membuat penontonnya terus terjaga dan jauh dari rasa bosan selama film diputar. Skenario yang ditulis oleh Timothy Mannion nampak matang dan berhasil dieksekusi dengan sangat baik oleh Gabe Torres.

 Postcard from terrorist...

Sayangnya, saya justru lebih menyukai akting Ryan Reynolds di Buried ketimbang Stephen Dorff di film ini. Reynolds nampak sangat panik dan betul-betul frustasi serta nyaris kehilangan akal dalam kondisi dikubur hidup-hidup seperti itu. Tapi Dorff, nampak tenang-tenang saja, seakan masih banyak waktu untuk berpikir bagaimana cara meloloskan diri dari keadaan tersebut. Teknik pengambilan gambar dan editing untuk Brake juga boleh diacungi jempol karena sangat detil merekam segala sesuatu yang terjadi hingga terkadang membuat penonton jadi ikut terhanyut dengan suasana tegang selama film ini diputar. Secara umum, saya senang dihibur dengan Brake dengan double twist-nya saat ending dan sepertinya film ini akan masuk dalam daftar koleksi film thriller saya. Tabik untuk Gabe Torres dan seluruh kru yang terlibat di Brake.  

Sabtu, 25 Februari 2012

The Unborn Child (2011) : Hantu-Hantu Hasil Aborsi


Title: The Unborn Child 
Year : 2011
Genre: Horror/Thriller 
Duration: 1 hr 31 mins
Directed by: Poj Arnon
Written by: Poj Arnon
Starring: Somchai Khemklad, Pitchanart Sakakorn 
Fright Rate : * (1/5)


The Unborn Child (2011) : Hantu-hantu Hasil Aborsi

Saya kangen nonton film horror Thailand, itulah alasan saya menonton The Unborn Child. Film horror Thailand yang terakhir saya tonton adalah 4Bia 2 dan Ladda Land. Entah kenapa, film horror Thailand tuh kadang bisa bawa sensasi ketakutan tersendiri saat saya menontonnya. Tapi memang nggak semua film horror Thailand seperti itu, jadi nggak bisa digeneralisasi kalau film horror Thailand tuh pasti bagus dan bikin orang ketakutan. Salah satu contoh “simpangan” dari film horror Thailand yang nggak terlalu menakutkan adalah The Unborn Child. Awalnya saya tertarik dengan judul dan background ceritanya yang membahas tentang aborsi. Menurut hasil penerawangan mbah Google, The Unborn Child diangkat dari kisah nyata tentang ditemukannya janin-janin hasil aborsi di Thailand dengan jumlah yang amat fantastis yaitu 2002 janin pada puluhan loker di sebuah kuil. Saya sama sekali nggak ada ekspektasi apapun pada film ini, karena tak terlalu mengenal sutradaranya (katanya sih Poj Arnon adalah sutradara Thailand fenomenal dengan Bangkok Love Story-nya yang bikin heboh 2007 lalu) maupun para bintang film yang terlibat disini.


I'm the best in my job...

Kisahnya berawal dari sebuah keluarga kecil, Trai (Somchai Khemklad) dan istrinya Pim (Pitchanart Sakakorn) serta anaknya Yimai yang dihantui oleh suara dan penampakan makhluk mirip bayi di rumah mereka. Trai adalah seorang jurnalis foto khusus kriminal yang hobinya nenteng kamera DSLR kemanapun dia pergi. Sedangkan Pim adalah seorang ibu guru cantik yang mengajar di salah satu sekolah menengah di Thailand. Yimai awalnya adalah seorang anak kecil yang normal hingga pada suatu ketika dia punya kawan khayalan. Pim yang melihat ini jadi khawatir karena tingkah Yimai jadi aneh dan cenderung membahayakan, setelah berteman dengan kawan khayalannya tadi. Di sisi lain, salah satu murid Pim hamil dan ingin menggugurkan kandungannya dengan cara aborsi karena merasa nggak mampu untuk merawat bayi tersebut jika lahir nanti. Sementara itu, ada satu wanita lagi yang saya tak tahu siapa namanya (susah banget nginget nama orang-orang Thailand), juga jadi paranoid setelah melakukan aborsi karena seakan selalu dihantui oleh arwah janin yang diaborsinya. Yang bikin saya garuk-garuk kepala dan ngerasa janggal dengan cerita film ini adalah rata-rata pelaku aborsi di film ini, pergi ke dukun aborsi yang sama. Masa sih se-Thailand raya, dukun aborsinya cuma satu doang, padahal film ini diinspirasi dari ditemukannya 2002 janin hasil aborsi di sebuah kuil. Coba deh kalau dinalar, mestinya si dukun aborsi pasti kerja berat siang malam sampai mungkin nggak sempat mandi, makan, tidur, bahkan having sex buat capai rekor 2002 janin. Tapi, yah sudahlah, namanya juga film dan Poj Arnon nampaknya tidak ingin membuat pusing penontonnya dengan hitung-hitungan serta logika saya yang “kancut”.


Worst CGI...

Masih membawa kekhasan film horror asal negeri Gajah Putih, The Unborn Child juga dipoles dengan background music dan sound effect yang bikin orang kaget. Tapi, namanya juga polesan, hal itu tak berarti banyak pada solidnya cerita film ini sendiri. Poj Arnon telah gagal membuat dan merangkai berbagai plot yang ada di film ini yang seharusnya bisa lebih menyeramkan dan mampu menyampaikan pesan utama dari film ini bahwa aborsi itu adalah sesuatu yang salah dan kejam. The Unborn Child nampaknya adalah suatu film horror yang cuma asal jadi dan tidak memperhitungkan efek psikologis berupa ketakutan dari penontonnya. Mungkin boleh disejajarkan dengan tidak matangnya film-film Indonesia yang mengangkat kisah nyata tentang kasus kriminal beberapa tahun lalu tentang Dukun AS atau Sumanto, bahkan Ryan sang penjagal yang “maho”. Bicara soal ending film ini, memang ada sedikit yang mengejutkan saat ending-nya, tapi mungkin itu udah ketebak duluan. Meski tema film tentang aborsi sudah terlalu sering diangkat oleh banyak sineas di seluruh penjuru dunia, tapi bagi saya, The Unborn Child adalah salah satu film tentang aborsi yang sukses membuat saya kecewa. Poj Arnon, totally failed to make people scream….


Pembagian jatah sembako, 1 kantong janin per KK...

Akting dari bintang-bintang film yang terlibat di film ini juga biasa-biasa saja. Malah menurut saya cenderung main-main saja dan kurang mampu mengekspresikan rasa bersalah dan ketakutan akibat aborsi dan akibat gangguan dari arwah janin mereka. Belum lagi CGI yang dibuat sangat kasar untuk memberikan efek spesial di film ini juga makin membuat The Unborn Child makin dilupakan setelah ditonton. Dan yang paling “menohok” adalah suara tawa arwah bayi yang digunakan di film ini, nyata-nyata mencaplok suara tawa dari bayi yang sangat terkenal videonya di YouTube (itu loh, bayi yang ketawanya kepingkel-pingkel gara-gara kertas dirobek) . Bah, alangkah tak kreatifnya pembuat film ini hingga suara tawa arwah bayinya pun caplokan secara instan di YouTube. Lalu, apa yang menarik untuk ditonton dari film horror Thailand berjudul The Unborn Child ini ? Jawabannya saya adalah tidak ada yang menarik untuk ditonton dan dibahas lagi di film ini.

Rabu, 22 Februari 2012

Rosewood Lane (2011) : Psikopat Super Berprofesi Tukang Koran


Title: Rosewood Lane
Year : 2011
Genre: Horror/Thriller
Duration: 1 hr 31 mins
Directed by: Victor Salva
Written by: Victor Salva
Starring: Rose McGowan, Lin Shaye, Daniel Rossowens, Ray Wise
Fright Rate : ** (2/5)



Rosewood Lane (2011) : Psikopat Super Berprofesi Tukang Koran

Kalau kita berbicara tentang psikopat super yang paling tangguh dan legendaris di genre film horror slasher, sudah pasti jawabannya adalah Jason Voorhes dalam Friday The 13th dan Michael Myers di Halloween serta Leatherface di Texas Chainsaw Massacre. Memang Jason, Michael, maupun Leatherface paling susah untuk mati dan memiliki ketahanan tubuh yang boleh diadu dengan tentara-tentara android-nya Universal Soldier. Baik Jason, Leatherface maupun Michael punya masa lalu yang suram sebagai anak yang dibesarkan di keluarga amburadul dan sepertinya tak menginginkan ketiganya lahir ke dunia. Nah, di Rosewood Lane, Victor Salva nampaknya ingin menampilkan seorang psychopatic super human baru bernama Derek dan profesinya adalah paper boy alias tukang koran. What ?? Tukang Koran ? Yup, saya sendiri juga nggak ngerti kenapa Victor sampai tertarik bikin seorang tukang koran yang lengkap dengan sepedanya jadi psikopat. Sebelum menjadi sutradara Rosewood Lane Victor sangat terkenal dengan Jeepers Creepers (2001) beserta sekuelnya, Jeepers Creepers 2, dua tahun kemudian. Bagi saya, Jeepers Creepers adalah suatu film horror murni supranatural yang layak untuk dikoleksi dan masih lumayan creepy jika akan ditonton lagi suatu saat nanti. Ekspektasi saya terhadap Victor Salva di Rosewood Lane cukup besar dan semoga bisa seenak menonton Jeepers Creepers.
 Hello...Doc...
Rosewood Lane adalah nama jalan di sebuah komplek perumahan mewah yang terletak di suburban salah satu negara bagian Amrik. Seorang psikolog yang juga pengelola acara konsultasi psikologi di stasiun radio lokal bernama Dr. Sonny Blake (Rose McGowan) memiliki sejarah hidup yang cukup kelam di lingkungan tersebut akibat kematian ayahnya yang alkoholik. Ayah Sonny mati terjatuh dari tangga dan terjun bebas ke basement rumahnya dalam keadaan mabuk berat. Akhirnya Sonny memutuskan untuk tinggal di rumah tersebut, meski masih menyimpan duka akibat kehilangan ayahnya. Lingkungan kompleks perumahan yang “adem ayem” itu ternyata menyimpan suatu misteri tentang teror yang dilakukan oleh seorang tukang koran yang bernama Derek (Daniel Rossowens). Herannya, yang menjadi obyek untuk diteror oleh Derek secara mati-matian adalah Sonny. Mulai dari mengubah susunan boneka keramik kesayangan Sonny, menyelinap ke basement rumah, nyanyi lagu anak-anak Hickory Dickory Doc dengan nada “creepy” saat acara talkshow-nya Sonny, suka ngintip segala kegiatan di rumah Sonny, hingga mengencingi pacar Sonny dan akhirnya pada suatu kesempatan, berhasil menyiksa pacar Sonny. 

Konsentrasi....Tatap mata saya....
Khas pakem film horror, cerita tentang teror si tukang koran yang diungkapkan Sonny pada teman-teman dan polisi tak dipercaya dan semuanya malah menuduh Sonny terganggu mentalnya akibat telah kehilangan ayahnya yang alkoholik. Oh ya, Derek disini digambarkan memiliki mata mirip iblis, pupilnya hitam kelam, mirip seperti orang yang lagi kerasukan setan di serial Supernatural-nya Eric Kripke. Selain itu, Derek juga “dikaruniai” kekuatan fisik layaknya super human. Dia bisa gowes sepeda dan lari dengan kecepatan tinggi serta gampang “menghilang” kalau dikejar. Tapi, satu kelemahannya, dia paling ngeri sama yang namanya anjing. Teror demi teror berlanjut hingga akhirnya melibatkansatu kompi SWAT buat nangkap Derek, setelah mendapat laporan dari Sonny bahwa pacarnya telah dikubur hidup-hidup oleh Derek. Sonny juga mulai curiga bahwa kematian ayahnya mungkin bukan semata-mata karena mabuk berat dan terjatuh dari tangga, melainkan Derek yang membunuh ayahnya.

Go...go...go...
Setelah komplit menonton film ini, ternyata ekspektasi saya terlalu tinggi pada Victor Salva dengan Rosewood Lane. Meski tema yang diambil masih tentang dunia supranatural layaknya Jeepers Creepers, namun Victor nampaknya kehilangan “taring” di Rosewood Lane. Selain itu, film ini alur ceritanya lumayan lambat dan agak bertele-tele. Jalan cerita yang nggak jelas juga makin memperparah film ini. Setelah ending-pun, penonton juga dibiarkan garuk-garuk kepala kebingungan oleh Victor Salva karena banyak sekali pertanyaan tak terjawab selama film ini diputar. Contoh kecil, siapa sebenarnya si tukang koran bernama Derek ini dan kenapa kerjaan sampingannya selain jadi tukang koran, dia suka neror orang-orang di Rosewood Lane ? Terus, kenapa juga yang paling gencar jadi sasaran terornya Derek adalah Sonny ? Padahal di sepanjang Rosewood Lane banyak juga orang lain yang tinggal ? Tapi nampaknya Victor memang membiarkan itu semua menjadi suatu hal yang dapat diimajinasikan di pikiran penonton film ini. Pendalaman tentang latar belakang tokoh protagonis dan sang antagonis juga tak terlalu banyak diceritakan oleh Victor. Yang agak membantu dalam memahami latar belakang sang protagonis adalah beberapa adegan flashback yang diselipkan oleh Victor di film ini. Menonton Rosewood Lane seakan “pasrah bongkokan” pada hasil kerja Victor Salva dan seluruh krunya, tanpa ada sesuatu yang bisa membuat penontonnya akan selalu mengingat film ini terus.

Hahahaha.....Can't beat me...I'm super human

Jujur saja, saat menonton Rosewood Lane, tak saya rasakan adanya ketakutan dan nuansa “intense”. Satu-satunya yang dapat menghibur saya cuma penampilan Rose McGowan. Meski sekarang usianya sudah tak muda lagi, tapi masih nampak bekas kecantikannya di masa lalu. Cuma sekarang, Rose McGowan kelihatan lebih tebal aja bedaknya di film ini, mungkin dengan tujuan nutupin keriput yang udah mulai muncul. Saya masih ingat betul penampilan Rose sebagai heroine yang satu kakinya diganti senapan mesin di Planet Terror-nya Robert Rodriguez (2007) yang melegenda Penampilan Lin Shaye (sebagai ibu yang dikira ibunya Derek sama si Sonny) juga tak maksimal di film ini. Padahal waktu Lin berperan sebagai dukun di Insidious (2011), aktingnya boleh saya acungi jempol. Editing filmnya biasa-biasa saja dengan tambahan sedikit permainan CGI di dalamnya.

Hickory Dickory Doc....
Yang jelas, Derek tak akan mampu menggantikan kharisma Jason Voorhes, Michael Myers, bahkan Leatherface. Buat saya, selain gila dan diberi kekuatan tubuh yang super, seorang psikopat yang “baik” itu haruslah cerdas dan keren. Dan Derek tak memenuhi kriteria sebagai seorang psikopat yang “baik” karena dia tak terlalu cerdas dan tak terlalu keren dalam menghabisi korbannya. Jadi sementara ini, belum ada yang mampu menggeser tahta Jason, Michael, dan Leatherface sebagai psikopat yang keren dan brutal. Sebenarnya Rosewood Lane sangat berpotensi untuk menjadi suatu film horror psikopat yang layak tonton. Cuma sayangnya, mungkin Victor masih ingin bermain-main dengan dunia supranatural di film ini, sehingga dia tak terlalu banyak mengeksplorasi brutalnya sang antagonis psikopat dalam menghabisi korban-korbannya. Namun, ini hanyalah pendapat saya saja. Selebihnya, silahkan tonton sendiri Rosewood Lane dan buktikan apakah pendapat saya yang “katrok” ini bisa diterima atau tidak.

Selasa, 14 Februari 2012

Absentia (2011) : Sebuah Film Horror Indie



Title: Absentia
Year : 2011
Genre: Horror
Duration: 1 hr 31 mins
Directed by: Mike Flanagan
Written by: Mike Flanagan
Starring: Katie Parker, Courtney Bell, Morgan Peter Brown, Dave Levine
Fright Rate : *** (3/5)

Absentia (2011) : Sebuah Film Horror Indie

Banyak yang mengatakan pada saya, terutama teman-teman dekat, bahwa selera film saya boleh dibilang “amit-amit jabang baby…eh….bayi”. Karena saya paling sering nonton film horror/thriller dibanding dengan jenis film lainnya. Mau jelek, mau bagus, mau “kancut”, mau “marvelous”, asal filmnya horror/thriller, sudah pasti akan tetap saya tonton sampai habis. Persetan dengan pendapat teman-teman lain, yang penting menurut saya, film itu harus bisa menghibur karena kita nonton film buat cari hiburan, bukan nonton film buat memecahkan soal kalkulus yang njelimet. Dan genre horror/thriller bisa mengakomodasi kebutuhan saya akan hiburan. Cuma ada satu syarat mutlak, film horror yang menghibur itu harus bisa bikin saya takut atau ngeri, apapun jenis sub-genre-nya. Tapi, kembali lagi, itu semua hanya masalah selera belaka.


Hello sister....
  

Salah satu film horror yang lumayan menghibur saya adalah Absentia. Film ini pernah diputar di iNAFF 2011 kemarin, yang kebetulan, saya nggak sempat nonton. Keterangan yang didapat dari mbah Google menyatakan bahwa Absentia adalah suatu film horror independen alias indie-horror movie. Mike Flanagan menjadi orang yang paling banyak perannya di film ini, mulai dari sutradara, penulis cerita, hingga editor. Absentia menceritakan tentang Tricia (Courtney Bell) yang sedang mencari suaminya. Suami Tricia, Daniel (Morgan Peter Brown), telah menghilang tanpa jejak selama hampir 7 tahun. Di tengah galaunya Tricia, yang juga sedang hamil tua, datanglah adik Tricia bernama Callie (Katie Parker), untuk membantu memberikan semangat bagi kakaknya akibat telah kehilangan Daniel. Callie disini diceritakan sebagai mantan pecandu narkoba yang baru saja “lulus” dari klinik rehabilitasi. Tricia juga kerap dihantui oleh bayang-bayang Daniel, hingga dokter menyarankan Tricia untuk tak banyak berhalusinasi serta melakukan meditasi dalam menyembuhkan luka jiwanya. Departemen Kesehatan akhirnya telah mengeluarkan sebuah sertifikat dead-in-absentia bagi Daniel karena telah lama tak ditemukan sehingga Daniel dianggap telah mati. Polisi juga kebingungan mencari dimana keberadaan Daniel yang seakan lenyap bagai ditelan bumi. Tapi, secara mengejutkan, Daniel yang menghilang, tiba-tiba muncul dengan kondisi yang sangat mengenaskan, mirip seperti tahanan yang baru keluar dari kamp konsentrasi Nazi. Ternyata selama ini Daniel telah hidup di “dunia lain” yang berbeda. Hingga suatu malam, Daniel kembali menghilang. Satu-satunya saksi atas hilang kembalinya Daniel adalah Callie. Callie memberi keterangan pada polisi bahwa Daniel telah diculik oleh makhluk yang tinggal di terowongan penghubung antar kota dekat mereka tinggal. Karena Callie adalah mantan pecandu narkoba, polisi tak serta merta percaya pada keterangan Callie dan menganggap Callie telah berhalusinasi akibat pengaruh narkoba. Nampaknya terowongan penghubung itu bukanlah jenis terowongan penghubung biasa karena tersimpan misteri di dalamnya, termasuk hilangnya Daniel selama ini dan sederetan daftar orang hilang lainnya yang belum juga ditemukan.


Honey, I'm back.....


Awalnya saya hampir menganggap jika Absentia adalah film yang sama membosankannya dengan Kill List (2011). Meski alur Absentia sangat lambat, tapi juga terkadang bikin “geregetan” (kata mbak Sherina). Hingga hampir 30 menit pertama, penonton hanya akan disuguhi obrolan-obrolan ringan kakak beradik Tricia dan Callie. 30 menit yang lumayan membosankan dan bikin ngantuk bagi saya, namun Mike sangat pandai menyelipkan sedikit demi sedikit adegan yang membuat penasaran penonton, hingga mata saya tak jadi mengantuk. Pikiran penonton dibuat berimajinasi sendiri oleh Mike, dalam menguak misteri tentang hilangnya Daniel serta terowongan misterius tersebut dan akhirnya membuat penonton tetap terpaku di tempat duduknya hingga film selesai. Mike juga cenderung agak “pelit” dalam menampilkan sosok makhluk misterius yang menurut Callie telah menculik Daniel. Tapi, justru disinilah nilai lebihnya menurut saya. Film horror yang terlalu banyak mengumbar penampakan hantu/makhluk lainnya, malah cenderung lebay, dan akhirnya akan gagal dalam membangun rasa takut dari penonton. Mungkin bagi Mike, misteri harus tetap menjadi suatu misteri, jadi tak perlu terlalu banyak dieksploitasi, biarlah seperti itu adanya, agar orang penasaran dibuatnya. Dan ternyata Mike lumayan sukses membangun ketakutan penonton dengan resep tersebut.


Hello...I wanna trade...


Nuansa film yang agak “sepi” dan cenderung misterius juga memberikan kontribusi yang lumayan bagus pada film ini. Ilustrasi musik dan tata suara film ini juga sukses menebarkan aroma “creepy”, meski tak terlalu annoying dan membuat orang jadi terkaget-kaget dibuatnya. Akting dari aktor dan aktris yang terlibat dalam Absentia juga boleh diacungi jempol, terutama bagi Katie Parker dan Courtney Bell. Dua aktris ini sangat pas memerankan kakak beradik. Belum lagi Morgan Peter Brown yang wajah dan make up-nya nampak sangat “parno” serta mencerminkan ekspresi shock yang sangat luar biasa setelah pindah “dunia” hampir 7 tahun. Editingnya juga lumayan mantap untuk sekelas film indie. Mike rupanya telah berhasil membuktikan bahwa budget film yang besar tak selalu memberikan hasil yang maksimal. Dengan segala hal yang minimal, Mike telah membuat Absentia menjadi suatu film horror yang cukup maksimal.



Help...I wanna go home...
 
Absentia merupakan suatu film yang agak melenceng dari ekspektasi saya. Meski begitu, karena selera film saya yang “katrok” menurut teman-teman saya tadi, mungkin Absentia hanya cukup sekali saja saya tonton. Film sejenis Absentia, menurut saya, hanya bisa memberikan pengalaman menakutkan saat pertama kali kita menontonnya. Jadi Absentia bukan jenis film horror yang kadar ketakutannya bisa diulang dan akan nampak “creepy” sampai kapanpun, seperti pada film horror legendaris The Thing (versi lama) sebagai contoh. Terlepas dari segala pengalaman saya setelah menonton Absentia dan telah saya tuangkan juga dalam tulisan ini sekarang, entah mau mencap Absentia sebagai film yang bagus atau jelek, itu semua terserah pada anda yang telah menonton film ini.

Senin, 13 Februari 2012

Playback (2012) : J-Horror Vs. Demonic-Horror Hollywood



Title: Playback
Year : 2012
Genre:
Horror/Thriller
Duration: 1 hr 28 mins
Directed by:
Michael A. Nickles
Written by:
Michael A. Nickles
Starring:
Christian Slater, Ambyr Childers, Johnny Pacar, Toby Hemingway     
Fright Rate : ** (2/5)

Playback (2012) : J-Horror Vs. Demonic-Horror Hollywood



Jika ditanya tentang J-Horror Movie (Japan Horror Movie) apa yang paling memorable buat saya, tanpa lama berpikir, jawaban saya adalah Ringu (1998) karya Hideo Nakata. Meski sudah diremake oleh Hollywood, tapi buat saya, tetap yang paling creepy adalah yang versi Jepang. J-Horror memang seakan memberi napas baru dan sekaligus ladang uang baru pada industri film dengan genre horror, hingga Hollywood-pun berani me-remake beberapa J-Horror dengan harapan dapat meraup keuntungan yang lebih besar. Nampaknya, kesuksesan dalam me-remake  atau mengadopsi cerita dan memanfaatkan kefantastisan J-Horror ini tetap dipertahankan oleh Hollywood hingga sekarang. Buktinya adalah dengan munculnya film berjudul Playback di tahun 2012 ini. Meski tak murni mengadopsi cerita dari salah satu film horror Jepang, tapi ide dan editing Playback sangat diinspirasi oleh film horror Jepang, menurut saya. Playback dimotori oleh Michael A. Nickles. Aktor yang terlibat dalam film ini rata-rata adalah bintang-bintang film muda dan masih remaja, kecuali Christian Slater.

 I kill through video

Awal film dibuka dengan kejadian pembunuhan di tahun 1994 pada sebuah farm house oleh seorang pria bernama Harlan Diehl. Harlan membantai seluruh anggota keluarganya, kecuali seorang bayi yang merupakan anak dari adik Harlan. Entah apa maksud Harlan, seluruh kejadian pembantaian tersebut didokumentasikannya melalui sebuah handycam. Setting film lalu beralih ke jaman sekarang, dimana Julian (Johnny Pacar) dan kawan-kawannya sedang mengerjakan proyek film untuk tugas sekolah mereka. Karena Julian sangat terobsesi oleh peristiwa pembunuhan oleh Harlan Diehl, akhirnya film yang dibuat adalah tentang kejadian pembunuhan tersebut. Dalam melengkapi proyek, Julian dan pacarnya (Ambyr Childers), melaksanakan riset kecil-kecilan dalam mencari apa yang sebenarnya terjadi dengan peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh Harlan. Penelitiannya juga melibatkan Quinn (Toby Hemingway), seorang teman Julian yang bekerja sebagai editor video di sebuah stasiun televisi lokal. Julian meminta Quinn untuk mencarikan video hasil liputan tentang kejadian pembunuhan tersebut. Quinn selain mendapat video hasil liputan, ternyata juga menemukan sebuah video lain yang belum diedit tentang kondisi setelah pembunuhan tersebut terjadi. Setelah menonton video tersebut, Quinn jadi kesurupan akibat arwah Harlan yang masuk ke badannya. Quinn mendadak jadi seorang psikopat dan berawal dari sinilah, teror dari arwah Harlan yang menyebar lewat video atau kamera dimulai.

 I'm blody lolita...

Sebenarnya Playback merupakan suatu film horror yang “serakah” menurut pendapat saya. Bayangkan saja, hampir semua sub genre horror masuk ke film ini. Ada gore/splatter (beberapa adegan yang mengeksploitasi darah secara eksplisit), psychological horror (karakter antagonisnya adalah psikopat), dan demonic horror (teror dilakukan oleh arwah Harlan yang penasaran).  Belum lagi ide ceritanya mirip dengan horror Jepang Ringu, karena memanfaatkan media video sebagai penyebar teror. Sebagai bonus, semua yang udah kerasukan roh jahat, jadi muntah cairan hitam, seperti yang sering dilihat di serialnya Eric Kripke, Supernatural. Doorprize-nya adalah berupa urban legend tentang pembunuhan Harlan Diehl yang nyata-nyata mencaplok peristiwa di Amityville.  Akibat terlalu “serakah” inilah, Playback jadi rusak dan kurang nyaman untuk ditonton. Namun, adanya sedikit peeping scene di sebuah kamar ganti khusus cewek lumayanlah mengobati mata saya yang bosan melihat Julian yang sok heroik dan Quinn yang bedaknya terlalu tebal hingga mirip artis pentas dangdut yang sering show di perempatan dekat saya tinggal. Tidak ada yang luar biasa di film ini, meski ada sedikit twist menjelang ending, tapi itu semuanya sudah bisa ditebak sebelumnya.

 I love peeping girls..
 
Nampaknya Playback hanyalah sebuah film horror yang berisikan “tempelan” saja, mirip seperti sebuah buku belajar mengenal hewan milik anak saya yang caranya untuk mengenal hewan tersebut adalah dengan menggunting dan menempel stiker gambar hewan di halaman kosong yang disediakan. Playback kurang berhasil mencampurkan J-Horror dengan Demonic-Horror ala budaya Amerika, jika mungkin itu yang diinginkan oleh Nickles. Hampir semua sub-genre horror “nyemplung” disini hanya sekedar ingin dianggap sebagai suatu film horror yang dapat mengakomodasi semua keinginan penontonnya, tanpa didukung oleh cerita dan karakterisasi yang kuat. Walhasil, filmnya jadi hanya sekedar “numpang lewat” saja tanpa ada sesuatu yang memorable bagi penontonnya. Akting dari bintang-bintang di Playback hanya biasa-biasa saja dan cenderung kurang menjiwai perannya. Bahkan, Christian Slater aja yang udah bintang film senior, kurang bagus penampilannya sebagai seorang polisi yang hobi ngintip para “Lolita”. Playback secara pribadi kurang menghibur bagi saya karena terlalu berlebihan dalam menunjukkan bahwa film ini adalah multi sub genre. Entah karena selera saya yang jelek atau memang filmnya sendiri yang jelek, saya jadi malas jika harus memasukkan Playback dalam daftar koleksi film horror saya.    

Rabu, 08 Februari 2012

Rogue River (2012) : Idenya Mirip Misery, Tapi……



Title: Rogue River
Year : 2012
Genre:
Horror/Thriller
Duration: 1 hr 17 mins
Directed by:
Jourdan McClure
Written by:
Kevin Haskin, Ryan Finnerty
Starring:
Michelle Page, Chris Coy, Bill Moseley, Lucinda Jenney    
Fright Rate : ** (2/5)

Rogue River (2012) : Idenya Mirip Misery, Tapi……

Masih ingat dengan film Misery yang dibintangi oleh Kathy Bates ? Yup, ceritanya tentang psikopat bernama Annie yang sekaligus fans berat seorang penulis novel dan akhirnya berhasil menyandera sang penulis  setelah diselamatkannya dari kecelakaan mobil. Nah, nampaknya Rogue River ini terinspirasi oleh Misery dari segi ide ceritanya karena masih berkutat tentang psikopat rumahan ala Misery. Bagi saya pribadi, Misery memang suatu film horror/thriller psikologi yang sangat baik dan jauh dari kata mengecewakan. Sungguh amat bertolak belakang dengan Rogue River. Tapi, sekali lagi, ini hanya masalah selera semata. Jadi menurut pendapat saya, nggak ada suatu film bergenre apapun yang betul-betul menjadi suatu masterpiece sempurna akibat selera dan pandangan masing-masing penonton yang berbeda. Lanjut lagi ke Rogue River, sutradara film ini adalah Jourdan McClure yang merupakan wajah baru dalam genre horror/thriller. Skenarionya ditulis oleh duo Kevin Haskin dan Ryan Finnerty. Dua bintang yang saya kenal dan main di Rogue River ini adalah Chris Coy dan Bill Moseley. Bagi yang udah pernah nonton The Hostel Part III, tentu masih ingat dengan tampang culun Chris Coy yang pura-pura jadi turis nyasar pas opening-nya. Bill Moseley adalah pemain film horror legendaris yang lebih dikenal dalam film The Devil’s Rejects (2005), Army of Darkness (1992), dan The Texas Chainsaw Massacre 2 (1986).

Hi...My Name is Jon..
 
Mara (Michelle Page) melakukan perjalanan ke Oregon dalam memenuhi permintaan dari sang ayah yang telah meninggal, agar abu ayahnya dapat disebarkan di Rogue River. Saat di tepian Rogue River, Mara sempat berkenalan dengan orang asing bernama Jon (Bill Moseley). Seperti pakem film horror lainnya, saat Mara kembali dari tepian Rogue River, mobilnya tiba-tiba raib dan sinyal telepon selularnya juga ikut-ikutan menghilang. Akhirnya Mara mau menerima ajakan Jon untuk diberikan tumpangan dan ikut ke rumah Jon. Ternyata Jon tinggal serumah dengan seorang perempuan bernama Lea (Lucinda Jenney). Awalnya Mara tak punya prasangka apapun terhadap Jon dan Lea, karena keduanya sangat ramah pada Mara. Hingga akhirnya Mara paham bahwa keramahtamahan Jon dan Lea itu hanyalah sebuah kedok semata yang membuat dirinya harus menempuh segala cara untuk dapat keluar dari rumah itu segera.

I wanna cry...
 
Rogue River awalnya cukup menjanjikan menurut saya. Apalagi banyak terdeskripsikan secara bagus tentang cara efektif menyiksa orang serta kegilaan psikopat di film ini. Sebut saja, yang paling ringan seperti menjahit tangan yang robek kena pecahan piring tanpa anestesi atau bius, menuang air mendidih ke mulut orang sampai lidah dan bibirnya jontor, menyandera orang yang sekarat dalam sebuah koper, hingga membunuh orang dengan menuangkan abu kremasi ke mulutnya. Sungguh sebuah ide segar dalam menampilkan suatu adegan yang membuat penikmat film horror lumayan terpuaskan. Namun, sayangnya Rogue River sangat miskin dalam mengurai cerita suatu film horror yang layak tonton. Latar belakang tentang karakter antagonis yang psikopat di film ini, mengapa sekonyong-konyong menjadi psikopat, juga tak diungkap. Selain itu, apa motif dari psikopat ini sampai tega menyiksa orang, juga hanya menjadi pertanyaan tak terjawab. Intinya, penonton diminta untuk pasrah saja menikmati adegan demi adegan penyiksaan yang dilakukan oleh sang psikopat pada korbannya dan upaya sang korban berusaha lari dari  si psikopat, tanpa perlu banyak mikir apalagi bertanya.  Hal inilah yang membuat penonton Rogue River dibuat garuk-garuk kepala kebingungan hingga credit title muncul dan filmnya selesai. Mungkin clue yang paling logis untuk menjawab itu semua adalah akibat trauma psikologis yang dialami oleh para psikopat dalam film ini, diantaranya trauma akibat menjadi serdadu di medan perang serta trauma akibat penyakit yang menggerogoti tubuh sang psikopat hingga dia harus kemoterapi.

You must be thirsty....
 
Satu hal yang cukup “ngeselin” menurut saya adalah akting dari Michelle Page yang terlalu lebay dalam mengumbar air matanya demi meraih empati dari penonton bahwa dia betul-betul sakit akibat siksaan sang psikopat. Entah berapa botol obat tetes mata yang dipakai Michelle dan berapa kali take adegan “mewek” yang diambil juru kamera, saya sendiri juga kurang paham, karena yang jelas, dari awal film hingga menjelang ending, 70 % ekspresi akting Michelle isinya cuma “mewek” dan nangis sesenggukan aja. Sama sekali nggak pas untuk dijadikan sebagai seorang heroine yang pantas jadi pemenang di akhir film. Saya malah justru suka pada akting “dingin” Bill Moseley dan kekanak-kanakannya Lucinda Jenney,  sangat khas seperti seorang yang sakit jiwa. Hanya saja kembali ke jalan cerita atau skenario Rogue River yang miskin, akhirnya akting dari para pemeran ini hanya nampak bagai pelengkap rasa “gurih” agar film ini lebih layak untuk ditonton. Musik dan tata suara yang mendukung film ini juga lumayan menambah sedikit nuansa “creepy” meski tak terlalu memberikan kesan yang cukup mendalam, apalagi sampai memorable. Adegan yang cukup unik di film ini adalah saat Mara dipaksa untuk “nyusu” pada Lea dan yang lumayan heboh adalah saat Mara dipaksa untuk bercinta dengan Andrew (Chris Coy) yang lagi sekarat. Ada juga satu adegan yang hampir membuat saya tertawa yaitu sebelum adegan Mara dipaksa bercinta dengan Andrew, Lea memberikan pil (kemungkinan besar adalah Viagra atau “boner”) pada Andrew agar “itunya” bisa bangun, meski dia dalam kondisi sakit dan sekarat….WTF….hehehehe..

I wanna cry...again...
 
Sebagai penutup, saya hanya merasa agak kecewa dengan Rogue River karena sebenarnya film ini sangat berpotensi untuk dapat dijadikan suatu film horror yang sangat bagus untuk ditonton. Jalan cerita yang kurang “dalam”, akting protagonisnya yang lebay, hingga banyaknya pertanyaan-pertanyaan tak terjawab hingga akhir film memberikan nilai minus untuk film ini. Tapi, di sisi lain, nilai plus dari Rogue River ini adalah pada deskripsi kegilaan sang psikopat yang tergambar cukup baik dan lumayan kreatif. Secara umum, film ini masih bisa dikatakan cukup menghibur, apalagi di tengah serbuan film horror Indonesia yang “kancut” tapi bisa masuk ke bioskop papan atas negeri ini. Semuanya terserah pada anda, apakah akan memasukkan Rogue River pada daftar film yang wajib tonton di tahun 2012 ini atau mungkin mengabaikannya karena telah membaca review saya yang “katrok” ini.        

Rabu, 01 Februari 2012

Faces In The Crowd (2011) : Ide Bagus, Eksekusi Payah



Title: Faces In The Crowd
Year : 2011
Genre:
Thriller/Crime/Drama/Mystery
Duration: 1 hr 42 mins
Directed by:
Julien Magnat
Written by:
Julien Magnat
Starring:
Milla Jovovich, Julian Mc Mahon, Michael Shanks    
Thrill Rate : ** (2/5)

Faces In The Crowd (2011) : Ide Bagus, Eksekusi Payah

Sudah pernah dengar atau tahu tentang prosopagnosia ? Nah, film inilah yang akhirnya membuat saya tertarik untuk bertanya pada oom Wikipedia tentang hal tersebut. Prosopagnosia atau “face-blindness” menurut oom Wikipedia adalah kelainan dalam mempersepsi wajah yang membuat orang yang mengalaminya akan sulit mengenali wajah, termasuk wajahnya sendiri. Faces In The Crowd adalah film yang mengambil ide dari prosopagnosia dengan sedikit campuran thriller tentang pembunuh berantai. Mestinya sih menarik untuk ditonton, karena ide-ide film tentang kelainan atau penyakit aneh yang jarang didengar biasanya lumayan sukses menarik dan membuat calon penonton penasaran. Julien Magnat jadi sutradara sekaligus penulis cerita dari film ini. Bintang yang dipasang buat main di film ini salah satunya adalah mbak Milla Jovovich yang udah kondang dengan film Resident Evil beserta beberapa sequel-nya.

You can't recognize my voice, are you dumb ??
 
Dikisahkan dalam Faces In The Crowd, seorang guru TK bernama Anna Marchant (Milla Jovovich) terkena prosopagnosia atau face-blindness ini setelah terjatuh dan kepalanya cedera akibat kejar-kejaran dengan seorang pembunuh berantai berjuluk Tearjerk Jack. Anna kejar-kejaran sampai dia jatuh dan kepalanya cedera karena secara nggak sengaja memergoki sang pembunuh yang lagi asyik membantai seorang wanita. Akibat kena face-blindness, Anna nggak bisa mengidentifikasi wajah Tearjerk Jack, padahal dia berhadapan langsung dengan si pembunuh. Jangankan wajah pembunuh berantai, wajah pacar Anna aja selalu berubah-ubah tiap kali Anna melihatnya. Yang lebih parahnya, waktu di depan cermin-pun, Anna nggak bisa tahu wajah aslinya yang mana. Nah, melihat kondisi Anna yang udah kena prosopagnosia ini, si pembunuh jadi makin berani buat ngejar Anna demi menghilangkan jejak, termasuk berhadapan langsung dengan Anna tanpa Anna mengenalinya. Anna berusaha mati-matian untuk mengembalikan kondisinya agar kembali normal, termasuk berkonsultasi dengan seorang psikolog yang mengajarkan Anna untuk mengenali seseorang tidak hanya dari wajahnya. Dengan segenap kemampuan yang ada, Anna berjuang membantu polisi mengidentifikasi dan sekaligus menyelamatkan nyawanya sendiri dari incaran sang pembunuh.

I made my notes about ties...
 
Seperti yang udah saya bilang, ide atau tema film ini bisa dibilang sangat bagus. Cuma sayangnya, saat dieksekusi menjadi suatu film thriller, malah jadi payah. Entah karena Magnat belum pengalaman jadi sutradara film thriller atau lebih karena skenario yang ditulis oleh Magnat sendiri kurang bagus, saya nggak tahu persis. Yang jelas menurut saya, film ini jauh dari ekspektasi saya tentang sebuah thriller seru yang betul-betul mengeksplorasi penggabungan sebuah kelainan bernama prosopagnosia dengan saksi utama suatu pembunuhan berantai. Mestinya, film ini masih bisa dieksplorasi lebih dalam lagi oleh Magnat agar dapat memberikan efek psikologis dan bahkan mungkin empati yang ekstra bagi penontonnya pada karakter utamanya yang kena face-blindness. Jalan cerita yang biasa-biasa aja dan mudah ketebak serta “agak dipaksakan” menjelang ending, semakin menjadikan Faces In The Crowd tak memberikan nilai lebih buat yang nonton. Belum lagi akting pemain-pemainnya yang biasa-biasa aja, bikin saya makin malas untuk mengingat kalau udah pernah nonton film ini.

I shot the killer....
 
Kesimpulannya, Magnat masih belum mampu untuk membuat suatu film thriller yang bermutu, meski ide yang diambil sangat menarik. Bagi penggemar berat film-fim thriller, mungkin bisa agak kecewa berat karena film ini boleh dibilang jauh dari standar film thriller yang seru dan bikin penasaran penontonnya. Malah terkesan agak “kacangan” menurut pendapat saya. Plot hole serta kejanggalan juga lumayan banyak di film ini. Sebagai contoh kecil aja nih, yang bisa dilogika, masa iya sih, cuma gara-gara nggak bisa mengenali wajah sesorang, lalu kita nggak bisa mengenali suara orang tersebut sama sekali, padahal orang itu udah tinggal serumah sama kita sejak lama ? Atau mungkin dari bau badan atau parfum yang biasa dipakai juga bisa kan ? Anna disini malah jadi kelihatan o’on banget dalam menghadapi prosopagnosia hanya dengan belajar mengenali dasi atau pakaian yang dipakai sama orang yang dia kenal. Bahkan muridnya sendiri dipasangi stiker di bajunya. Bah, sebuah kebodohan yang amat kelewatan menurut saya. Terlepas dari itu semua, silahkan diputuskan sendiri apakah tetap akan nonton film ini atau “pasrah bongkokan” pada review yang udah saya tulis.