Kamis, 31 Mei 2012

The Killing Gene (2007) : Revenge + Price Equation = Serial Killer


Title: The Killing Gene (a.k.a w Delta z)
Year : 2007
Genre: Thriller/Horror
Duration: 1 hr 44 mins
Directed by: Tom Shankland
Written by : Clive Bradley (screenplay)
Starring: Stellan Skarsgard, Melissa George, Selma Blair, Tom Hardy
Thrill Rate : ** (2/5)

The Killing Gene (2007) : Balas Dendam + Persamaan Matematis = Serial Killer


The spirit of making a serial killer movie never dies…..
Setidaknya itulah semangat dari para sineas yang saya rasakan sejak mata saya mulai terbiasa menonton film-film thriller/horror bertemakan pembunuh berantai. Banyak diinspirasi dari true story/event tentang para psikopat yang bertebaran di muka bumi ini, tema-tema tentang kesadisan dan ke-“maniak”-an para pembunuh berantai ini seakan tak pernah habis untuk diangkat menjadi tontonan layar lebar yang menarik, sekaligus menakutkan, namun tetap membuat orang penasaran. Setidaknya itulah yang terbukti dari film-film macam Se7en (this is an epic serial killer movie), Saw (dengan beberapa sekuelnya yang rata-rata sukses), maupun Silence of the Lambs (yang ini masuk kategori tontonan agak “berat” dan “serius”). Tahun 2007 lalu, muncul sebuah film bertajuk The Killing Gene (a.k.a w Delta z) di bawah label distribusi Dimension Extreme. Saya baru mengetahui tentang The Killing Gene setelah main ke rental DVD film. Jujur, pertama kali yang membuat saya tertarik menyewa The Killing Gene adalah Melissa George, meski saya bukan fanatic fans-nya. Dari beberapa film yang ada Melissa di dalamnya, rata-rata lumayan bagus dan Melissa selalu kebagian peran sebagai heroine yang cukup tangguh namun masih tetap feminim. Apakah The Killing Gene juga bisa sebagus film tentang pembunuh berantai lainnya ? Mari kita buktikan bersama.

Selasa, 29 Mei 2012

The Ruins (2008) : Cerita Tentang Tanaman Pemakan Manusia


Title: The Ruins
Year : 2008
Genre: Horror
Duration: 1 hr 32 mins
Directed by: Carter Smith
Written by : Scott B. Smith (screenplay & novel)
Starring: Shawn Ashmore, Jena Malone, Jonathan Tucker, Laura Ramsey 
Fright Rate : **** (4/5)

The Ruins (2008) : Cerita Tentang Tanaman Pemakan Manusia


Jujur saja, sudah dua kali saya nonton film ini dan hasilnya tetap sama, a scary eco-horror movie, IMO. Plus, ini juga merupakan film yang lumayan detail dalam mendeskripsikan teror dan keantagonisan sebuah tanaman, meski sebenarnya tanaman tersebut hanya bertindak natural sesuai dengan kemampuan untuk bertahan hidup yang dimilikinya. Mungkin saya agak terlambat untuk me-review film ini, tapi sesuai kata pepatah “biar lambat, asal selamat” (nggak nyambung kan :-)). Ceritanya diangkat dari novel berjudul sama dengan film ini karya Scott B. Smith. Meski belum membaca novelnya, paling tidak 98% saya percaya bahwa novelnya pasti cukup menakutkan dan sangat menarik untuk dibaca, karena Scott B. Smith juga menulis screenplay untuk film ini. Means, pasti visualisasinya di film nggak jauh-jauh amat dari apa yang sudah ditulis di novel, tapi itu baru analisa saya. Demi memperbaiki opini saya tentang perbandingan novel The Ruins  dengan filmnya, silahkan beri komentar bagi siapapun yang telah membaca novel The Ruins, supaya posting ini jadi lebih obyektif lagi. Enough for the crap chit-chat, langsung saja kita lihat semenarik apa sebenarnya The Ruins.

Senin, 14 Mei 2012

The Theatre Bizarre (2011) : Omnibus Horor Dalam Balutan Teater Grand Guignol



Title: The Theatre Bizarre
Year : 2011
Genre:
Horror
Duration: 1 hr 53 mins
Directed & Screenplay by:
Jeremy Kasten, Richard Stanley, Buddy Giovinazzo, Tom Savini, Douglas Buck, Karim Hussain, David Gregory
Starring:
Udo Kier, Virginia Newcomb, Tom Savini, Lindsay Goranson 
Fright Rate : ** (2/5)

The Theatre Bizarre (2011) : Omnibus Horor Dalam Balutan Teater Grand Guignol
 
Secara nggak sengaja, saya menemukan keping DVD The Theatre Bizarre ini di sebuah rental dekat tempat saya tinggal. Poster yang melapisi box-nya lumayan menarik juga, cuma sayangnya, posisi box DVD film ini letaknya paling bawah di rak khusus film horor, hingga jarang dilirik orang. Begitu saya ambil dan baca-baca sebentar di posternya, saya baru ngeh ternyata ini film omnibus horror yang di dalamnya ada Tom Savini, my favourite horror sfx wizard dan Karim Hussain, sinematografer “gila” yang garap Hobo With The Shotgun. Dengan ekspektasi yang lumayan besar dan demi memenuhi rasa penasaran, saya sewa The Theatre Bizarre, untuk tahu, seberapa “parah”-nya jika sutradara film horror ngumpul lalu bikin omnibus.    

The Theatre Bizarre terdiri dari 1 framing segment yang membingkai 6 segment cerita. Dengan gaya visualisasi ala Teater Grand Guignol, framing segment yang disutradarai oleh Jeremy Kasten (The Wizard of Gore) ini mengantarkan cerita untuk masing-masing segment. Mari kita lihat, cerita apa saja yang ada di masing-masing segment :

Senin, 07 Mei 2012

Urban Explorer (2011) : Psikopat Labirin Bawah Tanah Berlin



Title: Urban Explorer
Year : 2011
Genre:
Horror/Thriller
Duration: 1 hr 32 mins
Directed by:
Andy Fetscher
Written by:
Martin Thau
Starring:
Nathalie Kelley, Nick Eversman, Klaus Stiglmeier, Max Riemelt    
Fright Rate : ** (2/5)

Urban Explorer (2011) : Psikopat Labirin Bawah Tanah Berlin


Sisa-sisa sepak terjang dan misteri tentang Nazi memang menjadi tema yang tetap menarik untuk diangkat hingga saat ini. Mulai dari proses holocaust hingga rumor tentang berbagai eksperimen gagal yang kerap dilakukan oleh dokter-dokter gila Nazi serasa tak ada habisnya untuk diangkat menjadi suatu film yang menarik oleh para sineas dunia. Terbukti dengan munculnya film bertajuk Urban Explorer yang masih mengangkat tema tentang peninggalan Nazi di lorong-lorong/terowongan bawah tanah Berlin. Lorong-lorong/terowongan bawah tanah ini bagai sebuah labirin bertingkat yang maha rumit di bawah hiruk pikuk Berlin dan jaman dahulu kala dipergunakan oleh Nazi untuk melakukan berbagai kegiatan, seperti misalnya menyiksa para tawanan perangnya, membuat berbagai eksperimen aneh, hingga menyusun strategi perang. Saat ini, terowongan/lorong-lorong tersebut malah dijadikan obyek wisata bawah tanah karena masih banyak menyimpan jejak kekejaman Perang Dunia II. Dari sinilah mungkin sineas asal Jerman bernama Andy Fetscher dan  penulis skenario Martin Thau tertarik untuk mengeksplorasi misteri tentang lorong-lorong tersebut dengan membuat Urban Explorer.


Ceritanya dimulai saat 4 orang remaja yang tertarik untuk berwisata menyusuri lorong-lorong bawah tanah Berlin menyewa seorang tour guide untuk melakukan hal tersebut. Setelah puas menyusuri lorong-lorong bak labirin bawah tanah tersebut, dalam perjalanan pulang, sang tour guide kena sial karena dia harus jatuh dari tempat yang cukup tinggi akibat kaget terkena cahaya flashlight dari kamera seorang turis yang dipandunya. Sang tour guide menderita cedera yang sangat parah dan akhirnya para pelancong remaja (yang pakemnya di film horror manapun selalu digambarkan panik dan tak siap jika keadaan darurat datang tanpa permisi) memutuskan untuk mencari bantuan. 2 orang mencoba keluar dari lorong bawah tanah tersebut, sementara sisanya menjaga sang tour guide. Dalam penantian untuk memperoleh bantuan, sekonyong-konyong muncullah seorang pria bernama Armin (Klaus Stiglmeier) menawarkan bantuan untuk mengobati dan pindah ke tempat yang lebih aman dan nyaman sembari menunggu bantuan datang. Bagai kerbau yang dicocok hidungnya, 2 remaja yang menjaga sang tour guide akhirnya menurut saja dan ikut ke tempat dimana Armin tinggal. Namun, keputusan untuk ikut dengan Armin ini nantinya adalah keputusan yang akan disesali oleh para remaja pelancong ini hingga akhir hayat mereka.


Satu hal yang patut saya acungi jempol adalah tentang karakter Armin, sang antagonis yang diperankan oleh Klaus Stiglmeier. Saya suka dengan aktingnya sebagai psikopat yang nampak sangat haus darah dan lumayan lihai serta cekatan dalam bertindak. Latar belakang kehidupan Armin memang tak terlalu banyak diekplorasi oleh Andy Fetscher karena mungkin memang Fetscher lebih ingin menyoroti tentang kelamnya kehidupan di bawah tanah Berlin. Disini dikatakan bahwa Armin hanyalah bekas penjaga perbatasan Berlin Timur dan Barat saat perang dingin masih berlangsung dulu. Porsi besar untuk cerita dan adegan bagi sang antagonis juga diberikan oleh Andy Fetscher. Cuma sayangnya, ada beberapa scene di film ini yang kadang nampak nggak masuk akal dan cenderung mengada-ada. Ide cerita film ini sendiri tak terlalu original menurut pendapat saya, karena sudah banyak yang mengangkat tema tentang psikopat, claustrophobia (phobia tempat sempit), dan nyctophobia (phobia tempat gelap).  Demikian juga plotnya yang kelewat sederhana dan kurang berkembang serta cukup banyak lubang di dalamnya, semakin membuat jalan ceritanya jadi hambar dan dangkal.


Secara umum, yang dijual di Urban Explorer adalah murni adegan kejar-kejaran dan usaha penyelamatan diri sang protagonist dari terkaman si antagonis. Jadi jangan terlalu banyak berharap mendapatkan cerita yang bagus dan menarik di film ini karena Andy Fetscher memang tak ingin membuat penontonnya terlalu rumit memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Hal lain yang dijual adalah nama Nathalie Kelley yang sebelumnya sudah terkenal sebagai cewek drifter di Fast and Furious:Tokyo Drift.  Selain itu, sinematografi yang lumayan bernuansa creepy dan sedikit adegan gory juga masih membuat film ini masih layak untuk ditonton, Andy Fetscher nampak sangat total dalam menangani Urban Explorer karena selain sebagai sutradara, dia juga turut menangani sinematografi dan editing film ini. Kesimpulannya, saya lumayan terhibur dengan Urban Explorer, minus plotnya yang sangat dangkal dan hambar.
 
      

Kamis, 03 Mei 2012

Intruders (2012) :Teror Si Hantu Muka Rata


Title: Intruders 
Year : 2011/2012
Genre: Horror/Thriller 
Duration: 1 hr 40 mins
Directed by: Juan Carlos Fresnadillo
Written by: Nicolas Casariego (screenplay), Jaime Marques (screenplay)
Starring: Clive Owen, Carice van Houten, Izan Corchero 
Fright Rate : * (1/5)



Intruders (2011) :Teror Si Hantu Muka Rata





Rasa-rasanya belakangan ini tak cukup banyak film-film yang beredar mengangkat tema horror supranatural. Entah karena pecinta film horror yang sekarang sudah nggak mempan lagi ditakut-takuti dengan segala macam hantu-hantuan, atau mungkin sekarang sedang nggak nge-trend saja, saya juga kurang mengerti. Tapi nampaknya Juan Carlos Fresnadillo ingin memanfaatkan kekosongan di dunia horror supranatural dengan membuat Intruders. Dan Fresnadillo mengangkat tema tentang hantu muka rata (nama kerennya jadi Hollow Face di film ini) yang suka sembunyi di lemari dan gangguin anak-anak kecil. Bukan suatu tema yang original sih sebenarnya, tapi itu semua bergantung pada eksekusi sang sutradara, mau buat penonton terkencing-kencing ketakutan atau hanya sekedar ngagetin aja, itulah hal yang serasa tak pernah habis di dunia sinema. Apalagi Fresnadillo di film ini ingin membuat suatu teror yang dilakukan oleh sang makhluk halus bersifat multilokasi. Mari kita lihat hasil kerja Fresnadillo di Intruders ini.



Ceritanya diawali dengan teror dari makhluk halus bernama Hollow Face yang dialami oleh seorang bocah kecil bernama Juan (Izan Corchero) di Madrid. Entah apa dosa Juan hingga Hollow Face tiap malam selalu datang ke rumahnya dan menakut-nakutinya. Di bagian negara yang lain yaitu Inggris, seorang gadis kecil bernama Mia (Ella Purnell) juga diteror oleh Hollow Face setelah menemukan sebuah catatan kecil tentang cerita makhluk tersebut di sebuah lubang pohon. Mia mempunyai kemampuan story-telling yang menawan, sehingga dia tertarik mengangkat kisah Hollow Face untuk dijadikan bahan tugas sekolahnya. Namun sejak itulah, Hollow Face selalu datang untuk melakukan tugas utamanya di film ini yaitu melakukan teror pada Mia. Anehnya, yang percaya bahwa Hollow Face itu benar-benar ada dan bukan khayalan hanyalah ayah Mia (Clive Owen), karena satu-satunya orang yang bisa melihat Hollow Face selain Mia adalah ayahnya. Bahkan sang ayah juga bertarung hebat dengan Hollow Face di suatu waktu. Hingga suatu saat Mia tak dapat lagi berbicara dan ahli jiwa yang merawat Mia memutuskan untuk memisahkan Mia dari ayahnya karena Mia dianggap berbagi trauma psikosomatis dengan sang ayah. Sementara itu di Madrid, ibu Juan yang putus asa karena tiap malam Juan selalu berteriak-teriak ketakutan, akhirnya meminta bantuan seorang pastor untuk mendoakan anaknya dan mengadakan upacara pengusiran setan. Tapi nampaknya semua itu sia-sia saja karena Hollow Face masih tetap keras kepala dan tetap ingin memiliki jiwa Mia dan Juan.




Intruders sebenarnya memiliki cerita yang cukup solid, meski di pertengahan film sempat membuat mata jadi agak mengantuk. Dua plot yang dikembangkan oleh Fresnadillo nampak sedikit timpang karena lebih banyak menyoroti kehidupan dan traumanya Mia ketimbang kehidupan Juan. Sedikit twist menjelang akhir cerita akan membeberkan apa yang sebenarnya terjadi selama film diputar. Sayangnya, unsur spooky dan creepy yang ditampilkan oleh Fresnadillo nampak mild bagi penggemar film horror yang jam terbangnya sudah tinggi. Apalagi CGI yang ditambahkan juga tak banyak berarti bagi film ini dan malah terkesan “kacangan”. Secara umum, Intruders di mata saya nampak seperti ingin menghadirkan nuansa spooky-comedy ala Boogeyman atau Drag Me To Hell-nya Sam Raimi dan mengawinkannnya dengan dramatic-horror khas Guillermo del Toro. Tapi jadinya “gatot” alias gagal total karena dua aliran tadi sangat susah bercampur jadi satu di tangan Fresnadillo. Yah, kita doakan saja, semoga di masa depan Fresnadillo mampu berkarya lebih baik lagi ketimbang Intruders ini.