Title:
Welcome to the Jungle (Video)
Year : 2007
Genre: Horror
Genre: Horror
Duration: 1 hr 23 mins
Directed by: Jonathan Hensleigh
Directed by: Jonathan Hensleigh
Written by : Jonathan Hensleigh
Starring: Sandy Gardiner, Callard Harris, Nick Richey, Veronica Sywak
Starring: Sandy Gardiner, Callard Harris, Nick Richey, Veronica Sywak
Fright
Rate : **
(2/5)
Welcome
to The Jungle (2007) : Howdy,
Cannibals !
Judulnya mengingatkan
pada satu judul lagu rock band favorit saya di era ’80-’90-an, Guns n Roses.
Tapi, tunggu dulu, film ini sama sekali nggak ada hubungannya sama Guns n
Roses, apalagi sama Axl Rose dan kawan-kawannya, jadi jangan harap ada Axl Rose
nyanyi “Welcome to the Jungle” disini. Bukan musik rock yang ada, tapi
kanibalisme. Sungguh suatu tema yang mengingatkkan saya pada kejayaan Cannibal
Holocaust atau Cannibal Ferox yang sempat dilarang tayang di berbagai negara
beberapa tahun lampau.
Kalau mau sedikit flashback, belakangan ini memang jarang
ditemukan film horror yang murni mengangkat kanibalisme sejati oleh suku
primitif layaknya Cannibal Holocaust. Entah karena temanya yang udah nggak up to date (karena teknologi internet
sudah merambah masuk hutan dan pedalaman, jadi sepertinya hampir nggak ada suku
primitif lagi) atau memang belum ada lagi yang berani mengangkat tema tersebut
(karena mungkin nggak sensasional dan cenderung membohongi publik), saya sendiri
kurang paham. Tetapi yang jelas, Jonathan Hensleigh dan istrinya, Gale Anne
Hurd (produser Terminator, Alien dan serial The Walking Dead), cukup punya
nyali untuk mengangkat lagi tema tentang kanibalisme di dunia sinema pada tahun
2007 lalu. Dengan metode bertutur ala Blair Witch Project alias faux-doc bin found footage lengkap dengan shaky-cam,
Hensleigh dan Hurd berusaha membangkitkan kembali teror tentang suku kanibal
yang sempat tak dilirik oleh sutradara maupun produser film di era millennium. Seperti
apa hasil kerja suami istri ini, let’s
check out the movie.
Kisahnya berawal dari
mitos raibnya Michael Rockefeller (putra termuda mantan wakil presiden Amerika
Serikat yang juga termasuk pewaris tahta kekayaan keluarga Rockefeller di era
’60-an) di pedalaman Papua New Guinea kurang lebih 40 tahun yang lalu. Michael
memang terkenal sering nekat bertualang ke daerah pedalaman, terutama di daerah
Papua, untuk mempelajari dan membawa artefak suku Asmat dari daerah tersebut.
Sedikit biografi tentang Michael Rockefeller bisa dibaca disini. Hal inilah
yang kemudian menarik minat 4 sahabat (atau lebih tepatnya 2 pasang kekasih)
untuk menyelidikinya. Tentu saja, motif utama mereka dalam mencari keberadaan
Michael Rockefeller adalah uang. Berbekal mimpi menjadi milyuner dadakan serta
riset seadanya, berangkatlah 4 orang ini ke Papua New Guinea, setelah mendapat
info dari seorang pilot helikopter yang sering terbang ke Papua dari Australia
tentang posisi “penampakan” terakhir Michael Rockefeller. Tetapi ternyata
perjalanan mereka dalam mencari keberadaan Michael Rockefeller tak semulus yang
dibayangkan. Selain konflik pribadi yang berkecamuk dalam rombongan ini, suku
asli setempat rupanya juga mengincar daging di tubuh mereka untuk dijadikan
santapan segar.
Welcome to the Jungle
adalah film horror tentang kanibalisme yang sedikit berbeda. Cerita film ini
lumayan bagus, namun sedikit dangkal. Karakter-karakter yang ada di film ini
terkesan moron dan sepanjang film, konflik
yang terjadi antar karakter makin memuncak dan terkadang bikin saya jadi agak “gemes”
melihat kebodohan mereka. Alur filmnya
sendiri cukup lambat, tapi mungkin disitulah trik Hensleigh dengan bermain
kalem untuk membangun ketakutan penonton. Tapi mungkin agak terlalu kalem dalam
durasi hingga 40 menit film ini diputar, IMO.
Jangan bayangkan Welcome to the Jungle seperti
film-film kanibalisme lainnya yang eksplisit mengumbar adegan orang makan
daging (prostetik) mentah sambil mulutnya belepotan sirup…eh…darah, karena
mungkin akan membuat sedikit kecewa. Film ini bahkan sangat minim adegan
gore/slasher hingga nyaris tak ada. Lalu dimana serunya nonton film tentang
kanibalisme tanpa adegan gore/slasher ? Cuma Hensleigh dan Hurd yang punya
resepnya dan tahu jawabannya, karena saya menganggap film ini terlalu
membosankan untuk ditonton apalagi dengan minimnya adegan gore/slasher, apalagi
saya juga bukan termasuk penggemar film berjenis found footage. Hanya nuansa hutan tropis Papua yang eksotis namun
agak misterius juga terdeskripsikan dengan indahnya di film ini. Jujur saja,
saya belum pernah menginjakkan kaki di Papua, jadi saya nggak tahu persis
apakah film ini memang betul-betul di-shoot
disana atau nggak, tapi yang jelas, feel
ekspedisi di tengah hutannya dapet banget. Satu-satunya musik yang menghiasi
film ini cuma irama gendang yang sering saya dengar di film-film tentang
upacara voodoo.
Kesimpulannya, bagi yang
suka nonton film horror kanibalisme yang penuh adegan gore/slasher yang
eksplisit, siap-siaplah untuk kecewa karena Hensleigh sangat pelit dengan
adegan tersebut. Menurut saya, Hensleigh
dan Hurd berusaha untuk membuat rip-off dari Cannibal Holocaust, tapi hasilnya
lumayan gagal. Untuk kategori film horror tentang kanibalisme, film ini cukup
unik (atau cenderung aneh dan sedkit melenceng dari pakem) dan mungkin tak akan
masuk dalam koleksi film saya.





suka bgt yg gore2 ya, dh ntn a serbian film blm bro? kyknya ekstrim bgt mpe dicekal2 gt
BalasHapusGore/slasher movie tuh memang salah satu sub genre favorit saya. A Serbian Film ? Udah masuk ke daftar koleksi Disturbing sis :-)
BalasHapus