Kamis, 21 Juni 2012

Welcome to The Jungle (2007) : Howdy, Cannibals !


Title: Welcome to the Jungle (Video)
Year : 2007
Genre: Horror
Duration: 1 hr 23 mins
Directed by: Jonathan Hensleigh
Written by : Jonathan Hensleigh
Starring: Sandy Gardiner, Callard Harris, Nick Richey, Veronica Sywak 
Fright Rate : ** (2/5)

Welcome to The Jungle (2007) : Howdy, Cannibals !


Judulnya mengingatkan pada satu judul lagu rock band favorit saya di era ’80-’90-an, Guns n Roses. Tapi, tunggu dulu, film ini sama sekali nggak ada hubungannya sama Guns n Roses, apalagi sama Axl Rose dan kawan-kawannya, jadi jangan harap ada Axl Rose nyanyi “Welcome to the Jungle” disini. Bukan musik rock yang ada, tapi kanibalisme. Sungguh suatu tema yang mengingatkkan saya pada kejayaan Cannibal Holocaust atau Cannibal Ferox yang sempat dilarang tayang di berbagai negara beberapa tahun lampau.


Kalau mau sedikit flashback, belakangan ini memang jarang ditemukan film horror yang murni mengangkat kanibalisme sejati oleh suku primitif layaknya Cannibal Holocaust. Entah karena temanya yang udah nggak up to date (karena teknologi internet sudah merambah masuk hutan dan pedalaman, jadi sepertinya hampir nggak ada suku primitif lagi) atau memang belum ada lagi yang berani mengangkat tema tersebut (karena mungkin nggak sensasional dan cenderung membohongi publik), saya sendiri kurang paham. Tetapi yang jelas, Jonathan Hensleigh dan istrinya, Gale Anne Hurd (produser Terminator, Alien dan serial The Walking Dead), cukup punya nyali untuk mengangkat lagi tema tentang kanibalisme di dunia sinema pada tahun 2007 lalu. Dengan metode bertutur ala Blair Witch Project alias faux-doc bin found footage lengkap dengan shaky-cam, Hensleigh dan Hurd berusaha membangkitkan kembali teror tentang suku kanibal yang sempat tak dilirik oleh sutradara maupun produser film di era millennium. Seperti apa hasil kerja suami istri ini, let’s check out the movie.


Kisahnya berawal dari mitos raibnya Michael Rockefeller (putra termuda mantan wakil presiden Amerika Serikat yang juga termasuk pewaris tahta kekayaan keluarga Rockefeller di era ’60-an) di pedalaman Papua New Guinea kurang lebih 40 tahun yang lalu. Michael memang terkenal sering nekat bertualang ke daerah pedalaman, terutama di daerah Papua, untuk mempelajari dan membawa artefak suku Asmat dari daerah tersebut. Sedikit biografi tentang Michael Rockefeller bisa dibaca disini. Hal inilah yang kemudian menarik minat 4 sahabat (atau lebih tepatnya 2 pasang kekasih) untuk menyelidikinya. Tentu saja, motif utama mereka dalam mencari keberadaan Michael Rockefeller adalah uang. Berbekal mimpi menjadi milyuner dadakan serta riset seadanya, berangkatlah 4 orang ini ke Papua New Guinea, setelah mendapat info dari seorang pilot helikopter yang sering terbang ke Papua dari Australia tentang posisi “penampakan” terakhir Michael Rockefeller. Tetapi ternyata perjalanan mereka dalam mencari keberadaan Michael Rockefeller tak semulus yang dibayangkan. Selain konflik pribadi yang berkecamuk dalam rombongan ini, suku asli setempat rupanya juga mengincar daging di tubuh mereka untuk dijadikan santapan segar.


Welcome to the Jungle adalah film horror tentang kanibalisme yang sedikit berbeda. Cerita film ini lumayan bagus, namun sedikit dangkal. Karakter-karakter yang ada di film ini terkesan moron dan sepanjang film, konflik yang terjadi antar karakter makin memuncak  dan terkadang bikin saya jadi agak “gemes” melihat kebodohan mereka.  Alur filmnya sendiri cukup lambat, tapi mungkin disitulah trik Hensleigh dengan bermain kalem untuk membangun ketakutan penonton. Tapi mungkin agak terlalu kalem dalam durasi hingga 40 menit film ini diputar, IMO.

Jangan bayangkan Welcome to the Jungle seperti film-film kanibalisme lainnya yang eksplisit mengumbar adegan orang makan daging (prostetik) mentah sambil mulutnya belepotan sirup…eh…darah, karena mungkin akan membuat sedikit kecewa. Film ini bahkan sangat minim adegan gore/slasher hingga nyaris tak ada. Lalu dimana serunya nonton film tentang kanibalisme tanpa adegan gore/slasher ? Cuma Hensleigh dan Hurd yang punya resepnya dan tahu jawabannya, karena saya menganggap film ini terlalu membosankan untuk ditonton apalagi dengan minimnya adegan gore/slasher, apalagi saya juga bukan termasuk penggemar film berjenis found footage. Hanya nuansa hutan tropis Papua yang eksotis namun agak misterius juga terdeskripsikan dengan indahnya di film ini. Jujur saja, saya belum pernah menginjakkan kaki di Papua, jadi saya nggak tahu persis apakah film ini memang betul-betul di-shoot disana atau nggak, tapi yang jelas, feel ekspedisi di tengah hutannya dapet banget. Satu-satunya musik yang menghiasi film ini cuma irama gendang yang sering saya dengar di film-film tentang upacara voodoo.


Kesimpulannya, bagi yang suka nonton film horror kanibalisme yang penuh adegan gore/slasher yang eksplisit, siap-siaplah untuk kecewa karena Hensleigh sangat pelit dengan adegan tersebut. Menurut  saya, Hensleigh dan Hurd berusaha untuk membuat rip-off dari Cannibal Holocaust, tapi hasilnya lumayan gagal. Untuk kategori film horror tentang kanibalisme, film ini cukup unik (atau cenderung aneh dan sedkit melenceng dari pakem) dan mungkin tak akan masuk dalam koleksi film saya.



2 komentar:

  1. suka bgt yg gore2 ya, dh ntn a serbian film blm bro? kyknya ekstrim bgt mpe dicekal2 gt

    BalasHapus
  2. Gore/slasher movie tuh memang salah satu sub genre favorit saya. A Serbian Film ? Udah masuk ke daftar koleksi Disturbing sis :-)

    BalasHapus