Selasa, 26 Juni 2012

Death and Cremation (2010) : The Bullying Effect




Title: Death and Cremation
Year : 2010
Genre: Thriller
Duration: 1 hr 26 mins
Directed by: Justin Steele
Written by : Justin Steele, Alecc Bracero
Starring: Brad Dourif, Jeremy Sumpter, Scott Elrod 
Thrill Rate : * (1/5)


Death and Cremation (2010) : The Bullying Effect


Efek dari bullying memang selalu menarik untuk diangkat menjadi sebuah cerita film atau novel. Berbagai dampak bullying juga seakan tak ada habisnya dibahas hingga sekarang, Para korban bullying selalu digambarkan tak berdaya menghadapi berbagai siksa yang menderanya, hingga suatu saat keadaan menjadi berbalik dan akhirnya sang korban menuntut balas pada yang telah melakukan bullying terhadap dirinya. Setidaknya pakem macam itulah yang selalu muncul di beberapa film horror/thriller bertemakan efek dari bullying yang pernah saya tonton. Formula tadi nampaknya juga ditiru dalam film thriller berjudul Death and Cremation ini, namun dengan memberikan sedikit saja bumbu pada plotnya.




Brad Dourif didapuk untuk menjadi salah satu pemeran utama di film ini sebagai Stanley, pemilik rumah kremasi. Stanley sebenarnya adalah seorang psikopat pembunuh dan rumah kremasi tersebut adalah kedok untuk menutupi hasil perbuatannya. Orang-orang yang telah berlaku kasar atau menghinanya, diculik dan dibunuh oleh Stanley. Untuk menghilangkan jejaknya, mayat korban kesadisan Stanley dikremasi dan abunya disimpan sebagai koleksi. Nampak mirip dengan kelakuan Ed Gein yang suka mengkoleksi anggota tubuh korbannya. Cuma kurang "keren" di mata saya, karena mestinya nggak usah capek-capek jadi psikopat yang suka ngebunuh orang kalau ternyata abunya aja yang dipajang, ambil di rumah kremasi lain juga bisa kan kalau cuma mau dibilang freak. Di sisi lain, ada seorang remaja galau lengkap dengan dandanan gothic-nya bernama Jarod yang hidupnya menderita akibat bullying yang sering dilakukan oleh teman-temannya. Remaja satu ini telah kehilangan ayahnya dan hanya hidup berdua dengan sang ibu. Karena "kesepian", sang ibu menjalin hubungan cinta dengan seorang pria teman kantornya, yang hal ini sangat dibenci si anak. Jarod adalah tipe anak yang totally slacker (memang orang macam begini pantas di-bully, karena nggak produktif). Tiap pulang sekolah kerjanya cuma malas-malasan saja. Karena bosan melihat sang anak yang tak kunjung mandiri, akhirnya si ibu menyuruh si anak untuk mencari pekerjaan sepulang sekolah. Disinilah awal pertemuan. Jarod dengan Stanley, karena Jarod memilih untuk bekerja di rumah kremasi tersebut. Jarod akhirnya mengetahui rahasia yang terpendam di rumah kremasi Stanley dan hubungan mereka berdua semakin akrab. Bahkan dalam urusan bunuh membunuh orang-orang yang tidak mereka sukai dan bahkan yang telah melakukan bullying pada mereka.


Death and Cremation memang suatu judul yang cukup sensasional. Namun, nampaknya tak se-sensasional filmnya. Alur ceritanya sangat lambat dan cukup membuat saya memutuskan segera menarik bantal, siap-siap tertidur jika film belum selesai. Entah ini film indie atau bukan, tapi kenyataannya film ini berjalan seperti film indie yang low budget. Adegan-adegan yang di mata saya kelihatan nggak penting dan sebenarnya bisa dipercepat atau dipotong, malah ditampilkan secara detil dan terkadang lengkap dengan slow-motion. Entah apa maksud sang sutradara dengan melakukan hal tersebut (mungkin ingin memberikan suatu perlambang pada penontonnya), yang jelas ini adalah hal yang sangat "nggak penting banget". Plotnya sendiri cukup lumayan sebenarnya, hanya eksekusinya terasa kurang pas dan terkadang jadi nggak masuk akal. Sebagai contoh, apa sebenarnya yang memotivasi Jarod untuk bekerja di rumah kremasi Stanley ? Hingga seakan mereka dibuat untuk bertemu dan akhirnya bersahabat.


Bicara soal akting,nampaknya setali tiga uang dengan jalan ceritanya yang hambar dan dangkal. Cuma Brad Dourif yang kelihatan cukup "menikmati" dengan perannya sebagai psikopat. Awalnya saya mengira Stanley jadi psikopat karena penyakit gatal-gatal akibat ruam yang muncul di wajahnya, tapi ternyata salah. Dan nampaknya ruam-ruam itu cuma sekedar tempelan saja, biar si Stanley nampak agak sereman dikit. Musiknya yang repetitif juga makin membuat Death and Cremation makin hancur saja. Oh ya, FYI, Death and Cremation itu sebenarnya nama judul buku yang isinya nggak jelas apa dan sering banget dibaca sama Stanley dan Jarod. Entah buku ini juga yang menginspirasi mereka untuk menjadi psikopat, saya juga kurang paham. Yang jelas, ada kebiasaan baru dari seorang psikopat yang sempat saya saksikan di film ini. Ternyata seorang psikopat pembunuh itu sangat rajin dalam menjawab soal TTS :) 

Sebagai penutup, Death and Cremation tak mampu menghadirkan sesuatu yang menghibur bagi saya. Akting buruk, plot dangkal, hingga "perlambang" nggak jelas plus slow motion effect yang lebay, makin memperparah film ini. Nampaknya, sang sutradara juga menyiapkan ending yang kelihatannya berpeluang untuk dibikin sequel-nya. Tapi yang jelas, saya lebih memilih untuk menambah kuantitas dan kualitas tidur saya ketimbang harus capek-capek mindahin film ini ke daftar koleksi, apalagi nonton sequel-nya. Not a chance...at all...


3 komentar:

  1. Hai Firman,,,
    bisakah minta bantuan untuk mencari film horror mancanegara produksi tahun 2005, dulu pernah tayang di bioskop Trans TV.
    Cerita na tentang Game Online yang diciptakan oleh sekte iblis untuk mencari keturunan iblis yang diculik oleh suami istri manusia.
    Game online tersebut dapat memenuhi keinginan pemain na untuk membunuh orang yang dibenci na...
    saya lupa judul na>>> cast na juga lupa
    tolong info na ya
    trims

    BalasHapus
  2. Waduh, keterangannya koq minim banget ya gan. Saya jarang banget nonton film horror bertemakan video game, tapi akan saya coba cari2 dulu ya gan. Thanks udah mampir

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih dah mo d cariin,,,,
      kalo ga salah aktor na tuh bapak ma anak,
      trus ni ttg iblis on kristiani,
      saya ga tau ntu produksi warner bross ato miramax ato yg lain,,,,
      mohon info na yo///

      Hapus