Jumat, 27 Juli 2012

Silent House (2012) : Hollywood Yang Hobi Bikin Remake


Title: Silent House
Year : 2012
Genre: Horror
Duration: 1 hr 25 mins
Directed by: Chris Kentis and Laura Lau
Written by : Laura Lau (screenplay), Gustavo Hernandez (film “La casa muda”)
Starring: Elizabeth Olsen, Adam Trese, Eric Sheffer Stevens 
Fright Rate : ** (2/5)

Silent House (2012) : Hollywood Yang Hobi Bikin Remake


Sekali lagi, Hollywood yang nampaknya sekarang makin kekurangan ide untuk membuat sebuah film horror bermutu, mencaplok sebuah film asal Uruguay berjudul La casa muda untuk dibikin versi Hollywood-nya dengan tajuk Silent House. Ini entah film keberapa yang di-remake dengan sentuhan ala Amerika oleh Hollywood, setelah sebelumnya juga me-remake beberapa J-Horror (film horror Jepang). Lama-lama, saya melihat gejala ini mungkin sebagai suatu kejenuhan dan buntunya ide dari industri film yang ada di Hollywood untuk bisa membuat film horror yang berkelas, seperti masa kejayaan film-film horror Hollywood sekitar tahun ’70-‘90an. Saya nggak pengen berpusing-pusing untuk mikirin itu semua, karena sebagai penonton film horror, tujuan saya hanya ingin mendapatkan hiburan yang bisa saya nikmati, titik. Mau hasil remake, original idea, ataupun true story/event, saya nggak terlalu peduli, karena yang penting adalah sebuah film (apapun genre-nya) wajib memberikan hiburan bagi penontonnya. Kembali ke Silent House (karena udah kebanyakan ngelantur…), menurut info yang berhasil saya himpun dari mbah Google, film ini memakai metode “one continuous take” alias pengambilan gambarnya dilakukan dengan terus menerus (tanpa “cut”) dan hanya dengan satu kamera saja, mirip dengan La casa muda. Katanya sih, biar bisa kasih pengalaman lebih buat yang nonton (agar bisa lebih dapet feel horror-nya) karena sepanjang film ini diputar, kameranya bakal buntutin sang tokoh utama kemanapun dia pergi. Karena kebetulan saya juga belum pernah nonton La casa muda, jadi belum bisa bandingin, mana yang lebih asyik buat ditonton. Seheboh apa sih sebenarnya film ini ? Mari kita buktikan bersama.
 

Cerita diawali dengan Sarah (Elizabeth Olsen), ayahnya, John (Adam Trese), serta paman Sarah, Peter (Eric Sheffer Stevens) yang sedang bersih-bersih rumah tempat mereka biasa berlibur karena akan dijual. Karena hanya dihuni saat liburan, maka sudah dapat dipastikan bahwa kondisi rumah itu acak-acakan dan listriknya mati. Untuk membantu penjualan rumah John, Peter berinisiatif untuk mencari tukang listrik yang bisa mereparasi instalasi listrik di rumah itu yang rusaknya kemungkinan gara-gara tikus. John dan Sarah tinggal di rumah itu dengan kondisi penerangan seadanya saat Peter sedang pergi mencari tukang listrik. Saat bersih-bersih, Sarah mulai mendengar suara-suara aneh dari lantai atas rumahnya. Setelah diselidiki ternyata ada “penghuni” lainnya yang ikut tinggal di rumah tersebut. Bahkan “penghuni” tersebut juga berhasil menyiksa John hingga babak belur. Karena ketakutan, Sarah berusaha kabur dari rumah itu. Usahanya berhasil, tapi di tengah jalan, Sarah bertemu Peter yang akan kembali ke rumah tersebut. Melihat Sarah yang ketakutan dan bajunya berlumuran darah serta ada laporan dari Sarah kalau ayahnya disiksa orang tak dikenal, Peter memutuskan untuk kembali ke rumah itu bersama Sarah, meski Sarah menolaknya. Dalam pencarian John, Peter juga ikut tertangkap oleh si “penghuni”. Tinggal Sarah sendiri dengan ketakutan berusaha menguak misteri apa yang sebenarnya terjadi di rumah peristirahatan tersebut. Hingga akhirnya Sarah sadar bahwa misteri yang akan dihadapinya, ada hubungannya dengan masa lalu tentang diri dan keluarganya.

 
Bagi yang belum nonton La casa muda seperti saya, siap-siaplah untuk terkecoh jika menganggap Silent House ini sebagai film horror tentang hantu rumahan biasa. Twist saat ending akan membuka tabir tentang apa yang sebenarnya terjadi sepanjang film diputar dan hal ini telah sukses mencuri perhatian saya yang awalnya cukup dibuat mengantuk saat nonton film ini (hampir aja ambil bantal dan siap-siap ngorok…zzzz). Tidak ada yang istimewa pada plot dan setting lokasi pengambilan gambarnya karena semuanya sangat standar film horror. Mulai dari pintu ruangan yang kelihatannya saling berhubungan satu sama lain serta jumlahnya mungkin puluhan, suasana yang agak suram dan cenderung gelap, makhluk-makhluk nggak jelas yang seliweran secara nggak jelas juga sepanjang film, claustrophobia karena ruangan yang lumayan sempit hingga plot khas hantu rumahan terdeskripsikan semuanya disini. Hanya saja, eksekusinya terkesan cukup lambat dan kadang membosankan. Tapi, saat ending, kesabaran saat nonton film ini akhirnya terbayar juga dengan twist yang lumayan bikin saya jadi senyum-senyum sendiri. Bicara soal “one continuous take”, memang selama film, kameranya buntutin si Sarah terus kemana-mana dan kondisinya memang cukup meyakinkan kalau film ini memang dibuat secara real time. Cuma sayangnya, nggak murni “one continuous take” menurut saya, karena kalau mau agak teliti, banyak adegan yang disamarkan hingga bisa buat kesempatan untuk beberapa kali “cut”. Elizabeth Olsen cukup lumayan aktingnya. Ekspresi takut dan kengerian bisa dibawakan dengan cukup baik. Cuma karakter lainnya jadi kelihatan kurang berkembang akibat terlalu mendominasinya Olsen.


Dibanding dengan film-film horror belakangan ini yang hampir didominasi dengan faux-doc alias found footage, Silent House bisa sedikit memberi nuansa berbeda dengan real time-nya. Kadar horror yang ditampilkan masih bisa digolongkan “mild” karena nggak terlalu bikin orang jadi “parno” buat mengingat film ini lagi alias cuma sekedar numpang lewat di pikiran saja. Begitu selesai nonton film ini, ya udah, gitu aja, nggak ada yang bisa bikin Silent House jadi sesuatu yang memorable. Secara umum, Silent House lumayan menghibur, meski di menit-menit awal film, saya dibikin ngantuk bukan main. Mungkin saya harus segera nonton versi asli film ini (La casa muda) suatu saat nanti, biar bisa bikin perbandingan yang lebih obyektif lagi dengan Silent House. Kalau ditanya apakah saya berminat untuk nonton film ini sekali lagi ? Saya akan jawab, tidak.
        

7 komentar:

  1. nice review,
    dari review agan kayanya ni film kurang nampol yak cerita maupun horornya..padahal ane pngen liat Elizabeth Olsen ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks gan..
      Beruntunglah agan klo memang penggemar Elizabeth Olsen karena shoot terbanyak ada pada Elizabeth di pilem ini...:)

      Hapus
    2. Baru liat Olsen di Martha Marcy May doag kok,tapi emnag suka ama aktingnya,,

      haha,ntar deh ane coba cari torrent-nya ni film,,

      Hapus
  2. sama genk, gw penasaran juga hahha apaan maksudnya. apa dia di siksa pas waktu kecil trus di foto2 sama pamannya. entahlah

    BalasHapus
  3. Menurut gw dia disiksa ayah nya sendiri ya .. I mean dia mengAlami kekerasan seksual saat masih kecil sampai dia lupa ingatan , and then trauma bawah sadar sehingga dia gak sengaja nyiksa ayah dan pamannya.. Begitu ingat, Sarah yakin harus menghabisi mereka ....tapi bener apa engga, itu cm analisis gw aja :)

    BalasHapus
  4. Baca di wiki sih, isi box nya foto dia di anu sama bapaknya. Bapaknya itu pedopil. Nah dia halusinasi karna trauma masa kecilnya itu. Dia sempet nembak2 gak berarah ternyata kena pamannya. Coba aja lebih lengkapnya liat di wiki.

    BalasHapus
  5. Pusing sebenernya inti cerita gimana ya,atau halusinasi aja atau gimana

    BalasHapus