Title: Silent House
Year : 2012
Genre: Horror
Genre: Horror
Duration: 1 hr 25 mins
Directed by: Chris Kentis and Laura Lau
Directed by: Chris Kentis and Laura Lau
Written
by : Laura Lau
(screenplay), Gustavo Hernandez (film “La casa muda”)
Starring: Elizabeth Olsen, Adam Trese, Eric Sheffer Stevens
Starring: Elizabeth Olsen, Adam Trese, Eric Sheffer Stevens
Fright Rate : ** (2/5)
Silent House (2012) :
Hollywood Yang Hobi Bikin Remake
Sekali lagi, Hollywood yang nampaknya
sekarang makin kekurangan ide untuk membuat sebuah film horror bermutu,
mencaplok sebuah film asal Uruguay berjudul La
casa muda untuk dibikin versi Hollywood-nya dengan tajuk Silent House. Ini
entah film keberapa yang di-remake
dengan sentuhan ala Amerika oleh Hollywood, setelah sebelumnya juga me-remake beberapa J-Horror (film horror
Jepang). Lama-lama, saya melihat gejala ini mungkin sebagai suatu kejenuhan dan
buntunya ide dari industri film yang ada di Hollywood untuk bisa membuat film
horror yang berkelas, seperti masa kejayaan film-film horror Hollywood sekitar
tahun ’70-‘90an. Saya nggak pengen berpusing-pusing untuk mikirin itu semua,
karena sebagai penonton film horror, tujuan saya hanya ingin mendapatkan
hiburan yang bisa saya nikmati, titik. Mau hasil remake, original idea,
ataupun true story/event, saya nggak
terlalu peduli, karena yang penting adalah sebuah film (apapun genre-nya) wajib memberikan hiburan bagi
penontonnya. Kembali ke Silent House (karena udah kebanyakan ngelantur…),
menurut info yang berhasil saya himpun dari mbah Google, film ini memakai
metode “one continuous take” alias pengambilan gambarnya dilakukan dengan terus
menerus (tanpa “cut”) dan hanya dengan satu kamera saja, mirip dengan La casa muda. Katanya sih, biar bisa
kasih pengalaman lebih buat yang nonton (agar bisa lebih dapet feel horror-nya) karena sepanjang film
ini diputar, kameranya bakal buntutin sang tokoh utama kemanapun dia pergi. Karena
kebetulan saya juga belum pernah nonton La
casa muda, jadi belum bisa bandingin, mana yang lebih asyik buat ditonton.
Seheboh apa sih sebenarnya film ini ? Mari kita buktikan bersama.
Cerita diawali dengan Sarah (Elizabeth
Olsen), ayahnya, John (Adam Trese), serta paman Sarah, Peter (Eric Sheffer
Stevens) yang sedang bersih-bersih rumah tempat mereka biasa berlibur karena
akan dijual. Karena hanya dihuni saat liburan, maka sudah dapat dipastikan bahwa
kondisi rumah itu acak-acakan dan listriknya mati. Untuk membantu penjualan
rumah John, Peter berinisiatif untuk mencari tukang listrik yang bisa
mereparasi instalasi listrik di rumah itu yang rusaknya kemungkinan gara-gara
tikus. John dan Sarah tinggal di rumah itu dengan kondisi penerangan seadanya
saat Peter sedang pergi mencari tukang listrik. Saat bersih-bersih, Sarah mulai
mendengar suara-suara aneh dari lantai atas rumahnya. Setelah diselidiki
ternyata ada “penghuni” lainnya yang ikut tinggal di rumah tersebut. Bahkan
“penghuni” tersebut juga berhasil menyiksa John hingga babak belur. Karena
ketakutan, Sarah berusaha kabur dari rumah itu. Usahanya berhasil, tapi di
tengah jalan, Sarah bertemu Peter yang akan kembali ke rumah tersebut. Melihat
Sarah yang ketakutan dan bajunya berlumuran darah serta ada laporan dari Sarah
kalau ayahnya disiksa orang tak dikenal, Peter memutuskan untuk kembali ke
rumah itu bersama Sarah, meski Sarah menolaknya. Dalam pencarian John, Peter
juga ikut tertangkap oleh si “penghuni”. Tinggal Sarah sendiri dengan ketakutan
berusaha menguak misteri apa yang sebenarnya terjadi di rumah peristirahatan
tersebut. Hingga akhirnya Sarah sadar bahwa misteri yang akan dihadapinya, ada
hubungannya dengan masa lalu tentang diri dan keluarganya.
Bagi yang belum nonton La casa muda seperti saya, siap-siaplah untuk terkecoh jika
menganggap Silent House ini sebagai film horror tentang hantu rumahan biasa. Twist saat ending akan membuka tabir tentang apa yang sebenarnya terjadi
sepanjang film diputar dan hal ini telah sukses mencuri perhatian saya yang
awalnya cukup dibuat mengantuk saat nonton film ini (hampir aja ambil bantal
dan siap-siap ngorok…zzzz). Tidak ada yang istimewa pada plot dan setting lokasi
pengambilan gambarnya karena semuanya sangat standar film horror. Mulai dari
pintu ruangan yang kelihatannya saling berhubungan satu sama lain serta
jumlahnya mungkin puluhan, suasana yang agak suram dan cenderung gelap,
makhluk-makhluk nggak jelas yang seliweran secara nggak jelas juga sepanjang
film, claustrophobia karena ruangan
yang lumayan sempit hingga plot khas hantu rumahan terdeskripsikan semuanya
disini. Hanya saja, eksekusinya terkesan cukup lambat dan kadang membosankan.
Tapi, saat ending, kesabaran saat nonton film ini akhirnya terbayar juga dengan
twist yang lumayan bikin saya jadi senyum-senyum sendiri. Bicara soal “one
continuous take”, memang selama film, kameranya buntutin si Sarah terus
kemana-mana dan kondisinya memang cukup meyakinkan kalau film ini memang dibuat
secara real time. Cuma sayangnya,
nggak murni “one continuous take” menurut saya, karena kalau mau agak teliti,
banyak adegan yang disamarkan hingga bisa buat kesempatan untuk beberapa kali
“cut”. Elizabeth Olsen cukup lumayan aktingnya. Ekspresi takut dan kengerian
bisa dibawakan dengan cukup baik. Cuma karakter lainnya jadi kelihatan kurang
berkembang akibat terlalu mendominasinya Olsen.
Dibanding dengan film-film horror belakangan
ini yang hampir didominasi dengan faux-doc
alias found footage, Silent House
bisa sedikit memberi nuansa berbeda dengan real
time-nya. Kadar horror yang ditampilkan masih bisa digolongkan “mild”
karena nggak terlalu bikin orang jadi “parno” buat mengingat film ini lagi
alias cuma sekedar numpang lewat di pikiran saja. Begitu selesai nonton film
ini, ya udah, gitu aja, nggak ada yang bisa bikin Silent House jadi sesuatu
yang memorable. Secara umum, Silent
House lumayan menghibur, meski di menit-menit awal film, saya dibikin ngantuk
bukan main. Mungkin saya harus segera nonton versi asli film ini (La casa muda) suatu saat nanti, biar
bisa bikin perbandingan yang lebih obyektif lagi dengan Silent House. Kalau
ditanya apakah saya berminat untuk nonton film ini sekali lagi ? Saya akan
jawab, tidak.





nice review,
BalasHapusdari review agan kayanya ni film kurang nampol yak cerita maupun horornya..padahal ane pngen liat Elizabeth Olsen ^^
Thanks gan..
HapusBeruntunglah agan klo memang penggemar Elizabeth Olsen karena shoot terbanyak ada pada Elizabeth di pilem ini...:)
Baru liat Olsen di Martha Marcy May doag kok,tapi emnag suka ama aktingnya,,
Hapushaha,ntar deh ane coba cari torrent-nya ni film,,
sama genk, gw penasaran juga hahha apaan maksudnya. apa dia di siksa pas waktu kecil trus di foto2 sama pamannya. entahlah
BalasHapusMenurut gw dia disiksa ayah nya sendiri ya .. I mean dia mengAlami kekerasan seksual saat masih kecil sampai dia lupa ingatan , and then trauma bawah sadar sehingga dia gak sengaja nyiksa ayah dan pamannya.. Begitu ingat, Sarah yakin harus menghabisi mereka ....tapi bener apa engga, itu cm analisis gw aja :)
BalasHapusBaca di wiki sih, isi box nya foto dia di anu sama bapaknya. Bapaknya itu pedopil. Nah dia halusinasi karna trauma masa kecilnya itu. Dia sempet nembak2 gak berarah ternyata kena pamannya. Coba aja lebih lengkapnya liat di wiki.
BalasHapusPusing sebenernya inti cerita gimana ya,atau halusinasi aja atau gimana
BalasHapus