Senin, 14 Mei 2012

The Theatre Bizarre (2011) : Omnibus Horor Dalam Balutan Teater Grand Guignol



Title: The Theatre Bizarre
Year : 2011
Genre:
Horror
Duration: 1 hr 53 mins
Directed & Screenplay by:
Jeremy Kasten, Richard Stanley, Buddy Giovinazzo, Tom Savini, Douglas Buck, Karim Hussain, David Gregory
Starring:
Udo Kier, Virginia Newcomb, Tom Savini, Lindsay Goranson 
Fright Rate : ** (2/5)

The Theatre Bizarre (2011) : Omnibus Horor Dalam Balutan Teater Grand Guignol
 
Secara nggak sengaja, saya menemukan keping DVD The Theatre Bizarre ini di sebuah rental dekat tempat saya tinggal. Poster yang melapisi box-nya lumayan menarik juga, cuma sayangnya, posisi box DVD film ini letaknya paling bawah di rak khusus film horor, hingga jarang dilirik orang. Begitu saya ambil dan baca-baca sebentar di posternya, saya baru ngeh ternyata ini film omnibus horror yang di dalamnya ada Tom Savini, my favourite horror sfx wizard dan Karim Hussain, sinematografer “gila” yang garap Hobo With The Shotgun. Dengan ekspektasi yang lumayan besar dan demi memenuhi rasa penasaran, saya sewa The Theatre Bizarre, untuk tahu, seberapa “parah”-nya jika sutradara film horror ngumpul lalu bikin omnibus.    

The Theatre Bizarre terdiri dari 1 framing segment yang membingkai 6 segment cerita. Dengan gaya visualisasi ala Teater Grand Guignol, framing segment yang disutradarai oleh Jeremy Kasten (The Wizard of Gore) ini mengantarkan cerita untuk masing-masing segment. Mari kita lihat, cerita apa saja yang ada di masing-masing segment :
    
1. The Mother of Toads (directed by Richard Stanley)


Sebagai pembuka, Richard Stanley (Hardware), muncul membawakan The Mother of Toads. Ceritanya tentang 2 orang remaja yang sedang melancong ke daerah pedalaman Perancis (French Pyrenees). Di pasar, saat si cowok membelikan sebuah anting-anting untuk ceweknya, dia tertarik untuk mempelajari symbol yang digunakan di anting-anting tersebut. Dengan keramahannya, nenek penjual anting-anting tersebut bersedia membantu si cowok memberikan literatur tentang symbol tersebut dengan syarat, si cowok harus mau ke rumahnya. Ternyata keputusan untuk menyelidiki tentang symbol tersebut akan disesali oleh si cowok di kemudian hari karena nenek penjual anting-anting itu bukanlah seorang manusia normal.

Sama sekali tak ada yang istimewa dari segmen ini, karena tak ada yang terlalu mengerikan atau menakutkan untuk dilihat (spoiler : kecuali sedikit adegan “perkimpoian” yang lumayan menjijikkan). Richard Stanley nampaknya salah ambil cerita untuk ditampilkan karena tak ada yang istimewa untuk dilihat, meski ada sedikit bau monster disini. Sebenarnya yang membuat The Mother of Toads ini masih layak nonton cuma teknik sinematografinya Karim Hussain aja, lainnya mah cuma numpang lewat. Saya jadi teringat Dario Argento saat membuat salah satu  trilogi yang pakai kata Mother ini, apa mungkin si Stanley lagi coba-coba bikin proyek lanjutannya Dario kali ya ? Cuma kalau dilihat disini, Stanley belum bisa menyaingi Dario dengan Mother of Tears-nya.
            
2. I Love You (directed by Buddy Giovinazzo)


Pada segmen kedua, Buddy Giovinazzo (Combat Shock) bercerita tentang percekcokan rumah tangga antara Axel dan Mo di I Love You. Axel cinta mati sama Mo dan nggak rela kalau Mo harus pergi ninggalin Axel. Belakangan baru Axel tahu bahwa Mo sebenarnya sudah selingkuh dengan banyak orang. Alasannya sangat klise, Axel tak mampu memuaskan Mo dalam urusan seks. Karena masih tak rela jika Mo harus pergi, Axel menempuh caranya sendiri agar tetap bisa bersama Mo.

Awal nonton I Love You, tebakan saya tentang film ini adalah ceritanya pasti berbau-bau percekcokan rumah tangga karena si suami adalah seorang psikopat tulen. Dan ternyata tebakan saya hampir benar. Cuma sayangnya, Giovinazzo tak terlalu banyak mengeksplorasi apa yang menyebabkan sang suami jadi cinta mati sama istrinya hingga dia nggak rela untuk berpisah. Mungkin durasi yang jadi alasan salah satunya kenapa hal itu nggak muncul di segmen I Love You ini. Yang jelas, kalau dibuat versi panjangnya, mungkin film ini bisa jadi cukup menarik untuk ditonton. Sebuah kesetiaan akan cinta yang berakhir dengan sangat tragis (ciee….sok jadi penyair).
         
3. Wet Dreams (directed by Tom Savini)


Ternyata Tom Savini (remake Night of the Living Dead) baru muncul di segment ketiga dengan mengusung cerita tentang “mimpi basah” (tapi agak mengerikan juga) yang sering dialami oleh Donnie di Wet Dreams. Donnie seringkali terlibat cekcok bahkan bertindak kasar pada istrinya. Donnie merasa mimpi-mimpi yang dialaminya itu nyata, tapi psikolog yang merawatnya (diperankan oleh Tom Savini) serta istrinya menganggap Donnie hanya berhalusinasi. Hingga akhirnya Donnie tahu bahwa mimpi-mimpinya itu hanyalah rekayasa untuk suatu eksperimen.

Nah, ini dia segmen yang paling kocak menurut saya. Tom Savini mengambil cerita yang cukup nggak jelas, tapi itu bukan terlalu masalah karena masih kalah dengan segala special efek horror prostetik yang dipakai oleh Tom dan bisa bikin ngakak disini. Bayangkan saja, ada perwujudan v*gin* dentata yang mirip capit kepiting, atau mau lihat wujud p*n*s yang digoreng, juga ada disini. Cukup cocok dipakai untuk mengungkapkan mimpi nakal seorang lelaki. Meski ini mungkin karya terburuk dari Tom Savini, tapi masih lumayan bisa bikin ngakak. Sebuah komedi horror singkat ala Savini menurut saya.
         
4. The Accident (directed by Douglas Buck)


Douglas Buck (Sisters) di segment keempat ini mengajak penonton The Theatre Bizarre untuk sedikit cooling down dengan menampilkan The Accident. Seorang anak perempuan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan dan kematian pada ibunya setelah menyaksikan kecelakaan parah di jalan yang berujung pada kematian. Sang ibu menjawab berbagai pertanyaan si anak dengan lembut serta menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh si anak tentang apa yang sebenarnya dimaksud dengan kehidupan dan kematian.

Sekali lagi saya dibuat terkagum-kagum dengan sinematografi dari Karim Hussain disini. Dengan visual yang indah, Hussain dan Buck cukup apik kerjasamanya dalam berusaha menampilkan suatu horror tentang kematian dari kacamata seorang anak kecil. Tidak terlalu menakutkan mungkin bagi orang yang telah dewasa, tapi cukup memberikan pengertian pada kita bagaimana menjelaskan ketakutan pada seorang anak kecil tentang suatu hal bernama kematian.
      
5. Vision Stains (directed by Karim Hussain)


Pada segmen kelima, Karim Hussain (Subconscius Cruelty)  sedikit memberikan sentuhan berbeda dengan mengangkat cerita tentang kehidupan seorang penulis di Vision Stains. Sang penulis memiliki kebiasaan yang aneh dalam mendapatkan ide-ide tentang tulisannya yaitu dengan membunuh orang-orang yang akan menjadi obyek tulisannya. Sebelum meninggal, sang penulis akan menyuntik bola mata si korban untuk mengambil cairannya dan memindahkan cairan tersebut ke bola matanya sendiri. Dengan cara ini, sang penulis bisa mengetahui segala memori yang ada di pikiran orang yang akan ditulisnya.

Karim Hussain lebih banyak bermain-main dengan teknik sinematografi tingkat detil di segmen ini. Cerita yang diusung sebenarnya tak terlalu kuat, namun lumayan original menurut saya. Disini akan banyak disindir tentang pentingnya originalitas dalam suatu karya, karena sang penulis digambarkan tak punya banyak ide untuk diungkap dalam tulisannya hingga dia menempuh jalan “kotor” dengan mengambil pemikiran orang lain melalui media cairan bola mata. Detil demi detil adegan diabadikan dengan sangat teliti oleh Hussain, meski terkesan agak repetitif. Lumayan menghibur dari sudut pandang saya.
   
6. Sweets (directed by David Gregory)


Segmen terakhir yang disutradarai oleh David Gregory (Plague Town) ini mengangkat kisah tentang kegilaan seseorang terhadap makanan, terutama makanan manis. Greg merasa sedih karena akan diputus oleh pacarnya, Estelle. Estelle adalah seorang perempuan yang hobi banget sama makanan (terutama makanan yang manis) dan setiap kali berkencan dengan Greg, dia selalu memberikan makanan manis dalam kadar berlebihan pada Greg. Karena Greg sudah cinta mati pada Estelle, dia rela melakukan apa saja, termasuk memakan makanan manis secara berlebihan demi menyenangkan Estelle. Akhirnya Greg tahu bahwa hobi Estelle pada makanan manis itu ternyata hanyalah kedok saja. Ada hal lain yang jauh lebih mengerikan dan lebih gila dari sekedar mengkonsumsi makanan manis secara berlebihan.

Terus terang saja, ini merupakan the most disgusting dan disturbing segment menurut saya. Kegilaan tokoh-tokoh disini akan makanan manis, sedikit membuat perut  jadi agak mual (karena saya termasuk orang yang tak terlalu suka pada makanan manis). Betul-betul sangat eksploitatif dan cukup detil cara David Gregory bertutur di segmen ini. Cuma sayangnya, saya tak terlalu suka ending-nya karena tiba-tiba berubah drastis dan sangat bikin kesel. Dalam bayangan saya, pasti nanti ada yang mati karena kebanyakan makan permen atau es krim, eh, ternyata malah nggak ada yang mati karena kebanyakan makan yang manis-manis dan ending-nya berbeda 180 derajat dari tema yang diusung pertama. Yah, masih lumayan sih, segmen ini bisa membuat perut saya jadi sedikit mual (vanilla ice cream, cotton candies, and sweet cakes anyone ? Hooeekk…)

Sebagai penutup, omnibus The Theatre Bizarre masih lumayan menghibur menurut saya karena ada beberapa segmen yang cukup menarik untuk ditonton. Apalagi cukup banyak adegan eksploitatif dan gory/slasher di dalamnya. Meski tak terlalu menakutkan, paling tidak ada sedikit sensasi rasa jijik yang coba ditampilkan beberapa sutradara di film ini. Saran buat yang punya rental DVD, mohon jangan meletakkan film ini di rak paling bawah, karena film ini masih layak untuk ditonton.

      

4 komentar:

  1. Dah lama gak ke sini, banyak review muncul. saya komen satu-satu ya.

    I Love You. Komen: Inilah bukti bahwa seks dapat meretakkan pernikahan sekukuh karang. Segitu terobsesinya manusia ama seks.

    Saya tertarik ama The Accident. Pengen nonton yang itu.

    "Meski tak terlalu menakutkan, paling tidak ada sedikit sensasi rasa jijik yang coba ditampilkan beberapa sutradara di film ini."
    Kebalikan dari saya. Saat nonton horror, saya pengenn takut, bukan jijik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seks itu memang kebutuhan dasar manusia,pantas jika manusia bisa sampai terobsesi,seperti Mo di I Love You.
      The Accident tuh visualisasinya mungkin biasa buat orang dewasa,tapi buat anak kecil bisa jadi cukup mengerikan.
      Takut atau ketakutan tuh menurut saya bisa macam2 wujudnya sis, rasa jijik bisa jadi hal yang menakutkan buat seseorang.

      Hapus
  2. Asyik banget blognya, jadi pingin cari2 lebih banyak film2 horor yang saya belum tahu, yang ternyata banyak tersedia disini. Keep them coming!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Welcome Putri,
      Makasih udah jadi member blog ini.Maaf klo post blog ini agak jarang2,karena harus berbagi sama tugas lainnya :)

      Hapus