Title: The Theatre Bizarre
Year : 2011
Genre: Horror
Genre: Horror
Duration: 1 hr 53 mins
Directed & Screenplay by: Jeremy Kasten, Richard Stanley, Buddy Giovinazzo, Tom Savini, Douglas Buck, Karim Hussain, David Gregory
Starring: Udo Kier, Virginia Newcomb, Tom Savini, Lindsay Goranson
Directed & Screenplay by: Jeremy Kasten, Richard Stanley, Buddy Giovinazzo, Tom Savini, Douglas Buck, Karim Hussain, David Gregory
Starring: Udo Kier, Virginia Newcomb, Tom Savini, Lindsay Goranson
Fright Rate : ** (2/5)
The Theatre Bizarre (2011) : Omnibus Horor Dalam Balutan Teater Grand Guignol
Secara nggak sengaja, saya menemukan keping DVD The Theatre Bizarre ini di
sebuah rental dekat tempat saya tinggal. Poster yang melapisi box-nya lumayan
menarik juga, cuma sayangnya, posisi box DVD film ini letaknya paling bawah di
rak khusus film horor, hingga jarang dilirik orang. Begitu saya ambil dan
baca-baca sebentar di posternya, saya baru ngeh
ternyata ini film omnibus horror yang di dalamnya ada Tom Savini, my favourite
horror sfx wizard dan Karim Hussain, sinematografer “gila” yang garap Hobo With
The Shotgun. Dengan ekspektasi yang lumayan besar dan demi memenuhi rasa
penasaran, saya sewa The Theatre Bizarre, untuk tahu, seberapa “parah”-nya jika
sutradara film horror ngumpul lalu bikin omnibus.
The Theatre Bizarre terdiri dari 1 framing segment yang membingkai 6
segment cerita. Dengan gaya
visualisasi ala Teater Grand Guignol, framing segment yang disutradarai oleh
Jeremy Kasten (The Wizard of Gore) ini mengantarkan cerita untuk masing-masing
segment. Mari kita lihat, cerita apa saja yang ada di masing-masing segment :
1. The Mother of Toads (directed by
Richard Stanley)
Sebagai
pembuka, Richard Stanley (Hardware), muncul membawakan The Mother of Toads.
Ceritanya tentang 2 orang remaja yang sedang melancong ke daerah pedalaman
Perancis (French Pyrenees). Di pasar, saat si cowok membelikan sebuah
anting-anting untuk ceweknya, dia tertarik untuk mempelajari symbol yang digunakan
di anting-anting tersebut. Dengan keramahannya, nenek penjual anting-anting
tersebut bersedia membantu si cowok memberikan literatur tentang symbol
tersebut dengan syarat, si cowok harus mau ke rumahnya. Ternyata keputusan
untuk menyelidiki tentang symbol tersebut akan disesali oleh si cowok di
kemudian hari karena nenek penjual anting-anting itu bukanlah seorang manusia
normal.
Sama
sekali tak ada yang istimewa dari segmen ini, karena tak ada yang terlalu
mengerikan atau menakutkan untuk dilihat (spoiler : kecuali sedikit adegan
“perkimpoian” yang lumayan menjijikkan). Richard Stanley nampaknya salah ambil
cerita untuk ditampilkan karena tak ada yang istimewa untuk dilihat, meski ada
sedikit bau monster disini. Sebenarnya yang membuat The Mother of Toads ini
masih layak nonton cuma teknik sinematografinya Karim Hussain aja, lainnya mah
cuma numpang lewat. Saya jadi teringat Dario Argento saat membuat salah
satu trilogi yang pakai kata Mother ini,
apa mungkin si Stanley
lagi coba-coba bikin proyek lanjutannya Dario kali ya ? Cuma kalau dilihat
disini, Stanley
belum bisa menyaingi Dario dengan Mother of Tears-nya.
2. I Love You (directed by Buddy
Giovinazzo)
Pada
segmen kedua, Buddy Giovinazzo (Combat Shock) bercerita tentang percekcokan rumah
tangga antara Axel dan Mo di I Love You. Axel cinta mati sama Mo dan nggak rela
kalau Mo harus pergi ninggalin Axel. Belakangan baru Axel tahu bahwa Mo
sebenarnya sudah selingkuh dengan banyak orang. Alasannya sangat klise, Axel
tak mampu memuaskan Mo dalam urusan seks. Karena masih tak rela jika Mo harus
pergi, Axel menempuh caranya sendiri agar tetap bisa bersama Mo.
Awal
nonton I Love You, tebakan saya tentang film ini adalah ceritanya pasti
berbau-bau percekcokan rumah tangga karena si suami adalah seorang psikopat
tulen. Dan ternyata tebakan saya hampir benar. Cuma sayangnya, Giovinazzo tak
terlalu banyak mengeksplorasi apa yang menyebabkan sang suami jadi cinta mati
sama istrinya hingga dia nggak rela untuk berpisah. Mungkin durasi yang jadi
alasan salah satunya kenapa hal itu nggak muncul di segmen I Love You ini. Yang
jelas, kalau dibuat versi panjangnya, mungkin film ini bisa jadi cukup menarik
untuk ditonton. Sebuah kesetiaan akan cinta yang berakhir dengan sangat tragis
(ciee….sok jadi penyair).
3. Wet Dreams (directed by Tom
Savini)
Ternyata
Tom Savini (remake Night of the Living Dead) baru muncul di segment ketiga
dengan mengusung cerita tentang “mimpi basah” (tapi agak mengerikan juga) yang
sering dialami oleh Donnie di Wet Dreams. Donnie seringkali terlibat cekcok
bahkan bertindak kasar pada istrinya. Donnie merasa mimpi-mimpi yang dialaminya
itu nyata, tapi psikolog yang merawatnya (diperankan oleh Tom Savini) serta
istrinya menganggap Donnie hanya berhalusinasi. Hingga akhirnya Donnie tahu
bahwa mimpi-mimpinya itu hanyalah rekayasa untuk suatu eksperimen.
Nah, ini
dia segmen yang paling kocak menurut saya. Tom Savini mengambil cerita yang
cukup nggak jelas, tapi itu bukan terlalu masalah karena masih kalah dengan
segala special efek horror prostetik yang dipakai oleh Tom dan bisa bikin
ngakak disini. Bayangkan saja, ada perwujudan v*gin* dentata yang mirip capit
kepiting, atau mau lihat wujud p*n*s yang digoreng, juga ada disini. Cukup
cocok dipakai untuk mengungkapkan mimpi nakal seorang lelaki. Meski ini mungkin
karya terburuk dari Tom Savini, tapi masih lumayan bisa bikin ngakak. Sebuah
komedi horror singkat ala Savini menurut saya.
4. The Accident (directed by Douglas
Buck)
Douglas
Buck (Sisters) di segment keempat ini mengajak penonton The Theatre Bizarre
untuk sedikit cooling down dengan
menampilkan The Accident. Seorang anak perempuan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan dan kematian pada ibunya setelah
menyaksikan kecelakaan parah di jalan yang berujung pada kematian. Sang ibu
menjawab berbagai pertanyaan si anak dengan lembut serta menggunakan bahasa
yang mudah dipahami oleh si anak tentang apa yang sebenarnya dimaksud dengan
kehidupan dan kematian.
Sekali lagi saya dibuat terkagum-kagum dengan sinematografi dari Karim
Hussain disini. Dengan visual yang indah, Hussain dan Buck cukup apik
kerjasamanya dalam berusaha menampilkan suatu horror tentang kematian dari
kacamata seorang anak kecil. Tidak terlalu menakutkan mungkin bagi orang yang
telah dewasa, tapi cukup memberikan pengertian pada kita bagaimana menjelaskan
ketakutan pada seorang anak kecil tentang suatu hal bernama kematian.
5. Vision Stains (directed by Karim
Hussain)
Pada
segmen kelima, Karim Hussain (Subconscius Cruelty) sedikit memberikan sentuhan berbeda dengan
mengangkat cerita tentang kehidupan seorang penulis di Vision Stains. Sang
penulis memiliki kebiasaan yang aneh dalam mendapatkan ide-ide tentang
tulisannya yaitu dengan membunuh orang-orang yang akan menjadi obyek
tulisannya. Sebelum meninggal, sang penulis akan menyuntik bola mata si korban
untuk mengambil cairannya dan memindahkan cairan tersebut ke bola matanya
sendiri. Dengan cara ini, sang penulis bisa mengetahui segala memori yang ada
di pikiran orang yang akan ditulisnya.
Karim
Hussain lebih banyak bermain-main dengan teknik sinematografi tingkat detil di
segmen ini. Cerita yang diusung sebenarnya tak terlalu kuat, namun lumayan
original menurut saya. Disini akan banyak disindir tentang pentingnya
originalitas dalam suatu karya, karena sang penulis digambarkan tak punya
banyak ide untuk diungkap dalam tulisannya hingga dia menempuh jalan “kotor”
dengan mengambil pemikiran orang lain melalui media cairan bola mata. Detil
demi detil adegan diabadikan dengan sangat teliti oleh Hussain, meski terkesan
agak repetitif. Lumayan menghibur dari sudut pandang saya.
6. Sweets (directed by David
Gregory)
Segmen
terakhir yang disutradarai oleh David Gregory (Plague Town)
ini mengangkat kisah tentang kegilaan seseorang terhadap makanan, terutama
makanan manis. Greg merasa sedih karena akan diputus oleh pacarnya, Estelle.
Estelle adalah seorang perempuan yang hobi banget sama makanan (terutama
makanan yang manis) dan setiap kali berkencan dengan Greg, dia selalu
memberikan makanan manis dalam kadar berlebihan pada Greg. Karena Greg sudah
cinta mati pada Estelle, dia rela melakukan apa saja, termasuk memakan makanan
manis secara berlebihan demi menyenangkan Estelle. Akhirnya Greg tahu bahwa
hobi Estelle pada makanan manis itu ternyata hanyalah kedok saja. Ada hal lain yang jauh
lebih mengerikan dan lebih gila dari sekedar mengkonsumsi makanan manis secara
berlebihan.
Terus
terang saja, ini merupakan the most disgusting dan disturbing segment menurut
saya. Kegilaan tokoh-tokoh disini akan makanan manis, sedikit membuat
perut jadi agak mual (karena saya
termasuk orang yang tak terlalu suka pada makanan manis). Betul-betul sangat
eksploitatif dan cukup detil cara David Gregory bertutur di segmen ini. Cuma
sayangnya, saya tak terlalu suka ending-nya karena tiba-tiba berubah drastis
dan sangat bikin kesel. Dalam bayangan saya, pasti nanti ada yang mati karena
kebanyakan makan permen atau es krim, eh, ternyata malah nggak ada yang mati
karena kebanyakan makan yang manis-manis dan ending-nya berbeda 180 derajat
dari tema yang diusung pertama. Yah, masih lumayan sih, segmen ini bisa membuat
perut saya jadi sedikit mual (vanilla ice cream, cotton candies, and sweet
cakes anyone ? Hooeekk…)
Sebagai
penutup, omnibus The Theatre Bizarre masih lumayan menghibur menurut saya
karena ada beberapa segmen yang cukup menarik untuk ditonton. Apalagi cukup
banyak adegan eksploitatif dan gory/slasher di dalamnya. Meski tak terlalu menakutkan,
paling tidak ada sedikit sensasi rasa jijik yang coba ditampilkan beberapa sutradara
di film ini. Saran buat yang punya rental DVD, mohon jangan meletakkan film ini
di rak paling bawah, karena film ini masih layak untuk ditonton.








Dah lama gak ke sini, banyak review muncul. saya komen satu-satu ya.
BalasHapusI Love You. Komen: Inilah bukti bahwa seks dapat meretakkan pernikahan sekukuh karang. Segitu terobsesinya manusia ama seks.
Saya tertarik ama The Accident. Pengen nonton yang itu.
"Meski tak terlalu menakutkan, paling tidak ada sedikit sensasi rasa jijik yang coba ditampilkan beberapa sutradara di film ini."
Kebalikan dari saya. Saat nonton horror, saya pengenn takut, bukan jijik.
Seks itu memang kebutuhan dasar manusia,pantas jika manusia bisa sampai terobsesi,seperti Mo di I Love You.
HapusThe Accident tuh visualisasinya mungkin biasa buat orang dewasa,tapi buat anak kecil bisa jadi cukup mengerikan.
Takut atau ketakutan tuh menurut saya bisa macam2 wujudnya sis, rasa jijik bisa jadi hal yang menakutkan buat seseorang.
Asyik banget blognya, jadi pingin cari2 lebih banyak film2 horor yang saya belum tahu, yang ternyata banyak tersedia disini. Keep them coming!
BalasHapusWelcome Putri,
HapusMakasih udah jadi member blog ini.Maaf klo post blog ini agak jarang2,karena harus berbagi sama tugas lainnya :)