Jumat, 30 Maret 2012

The Awakening (2011) : The Hoax Exposer Heroine



Title: The Awakening
Year : 2011
Genre:
Horror/Thriller
Duration: 1 hr 42 mins
Directed by:
Nick Murphy
Written by:
Stephen Volk, Nick Murphy
Starring:
Rebecca Hall, Dominic West, Imelda Staunton   
Fright Rate : * (1/5)

The Awakening (2011) : The Hoax Exposer Heroine


Sinema Inggris nampaknya masih suka bermain-main dengan teror rumah berhantu dan kesan misterius, dingin serta suram di beberapa film horror yang muncul belakangan ini. Meski ide dan jalan ceritanya boleh dibilang agak mirip satu dengan lainnya, namun para sineas Inggris masih cukup kreatif tentang bagaimana cara mengolah tipe-tipe film horror rumah berhantu ini agar nampak cukup menarik dan layak ditonton. Tapi mungkin karena sudah terlalu banyak tema tentang rumah berhantu yang dieksplorasi oleh para sineas di seluruh penjuru dunia, jadinya film-film horror dengan tema tersebut jadi makin nampak membosankan dan horror yang ditampilkannya terkesan “mild” untuk para pecinta film horror. Tema tersebut juga diusung oleh sebuah film horror asal Inggris berjudul The Awakening  ini. Cerita filmnya ditulis secara gotong royong antara Stephen Volk dan Nick Murphy yang juga merangkap sebagai sutradara. Karena saya lebih sering menonton film Inggris yang judulnya Teletubbies bersama anak saya di saat senggang, makanya bintang-bintang macam Rebecca Hall, Dominic West atau Imelda Staunton kedengaran asing di telinga saya dibanding Tinky Winky, Dipsy, Lala, dan Poo.

Many gadgets to catch the ghost...
 
The Awakening mengambil setting waktu sekitar tahun 1921, tepatnya pasca Perang Dunia II. Saat itu kondisi Inggris digambarkan baru pulih dari carut marut akibat perang. Dalam kondisi tak menentu ini, hoax tentang kejadian mistis dan alam gaib makin subur berkembang dan juga mendorong bermunculannya dukun-dukun palsu yang suka menyebar hoax, diantaranya melalui upacara pemanggilan roh alias séance. Dalam kondisi inilah muncul seorang tokoh jagoan cewek cantik nan pintar bernama Florence Catchcart (Rebecca Hall). Mata pencaharian Florence adalah membongkar segala macam hoax yang berhubungan dengan alam gaib terutama hantu-hantuan. Bahasa kerennya adalah Hoax Exposer. Cara kerjanya  mirip Sherlock Holmes dan dalam setiap aksinya, Florence dilengkapi dengan berbagai macam gadget yang lumayan canggih pada masa itu untuk membuktikan kehadiran sang hantu. Florence digambarkan sebagai seorang cewek yang amat cerdas dan logis, sehingga dia tak percaya sama sekali tentang segala hal yang berbau mistis dan gaib. Di awal film akan ditampilkan adegan saat Florence membongkar suatu upacara séance palsu yang ternyata memang betul-betul suatu hoax. Suatu saat Florence harus memecahkan misteri tentang penampakan hantu seorang anak kecil yang sering muncul di sebuah sekolah khusus laki-laki (boarding school). Penampakan hantu anak kecil ini menimbulkan keresahan pada murid dan guru di sekolah itu hingga pihak sekolah memutuskan untuk menyewa jasa Florence demi membuktikan bahwa tak ada hantu yang berkeliaran di sekolah tersebut. Namun ternyata kali ini Florence harus berhadapan dengan suatu hal yang berada di luar nalarnya hingga dia jadi “parno” sendiri dalam memecahkan misteri tentang hantu yang gentayangan di sekolah itu.       

I can't forget the past..
 
Masih tetap membawa horror gaya Inggris tempo dulu yang umumnya sarat dengan hantu-hantu rumahan yang mendiami bangunan tua, The Awakening menyajikan cerita yang lumayan solid meski agak membosankan dan cenderung bikin ngantuk. Malah menurut pendapat saya, The Awakening lebih kental menampilkan sisi drama dari sang protagonist. Hal inilah yang justru membuat film ini menjadi suatu film horror yang “mild” dan tak terlalu kuat dalam menakuti penontonnya. Sama sekali tak ada yang istimewa di film ini selain suasana yang agak suram, misterius, dingin, tapi tak terlalu creepy. Saya malah justru asyik memperhatikan keunikan gadget-gadget klasik yang dipergunakan oleh Florence dalam menangkap sang hantu, dibanding menyimak jalan cerita film ini sendiri. Menjelang ending, ada sedikit twist yang ditampilkan, tapi tak terlalu banyak berarti bagi film ini sendiri karena disitu akan dijelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Jika anda memang tak terlalu suka ditakut-takuti oleh film horror “hardcore” yang kadang sampai bikin penonton pipis di celana, maka The Awakening boleh dijadikan referensi untuk ditonton. Setidaknya The Awakening masih cukup memberikan aroma horror dengan dosis rendah. Tapi bagi seorang “horror freak”, film ini cukup bagus untuk dijadikan pengantar tidur. Secara umum, The Awakening tak punya nilai lebih apapun di dalamnya karena baik dari segi cerita dan maupun dari cara sang sutradara bertutur sangat standar dan tak terlalu berani beresiko menampilkan hal yang bombastis, sehingga film ini cenderung flat dan sangat biasa.
 
 

Senin, 19 Maret 2012

ATM (2012) : A Totally Mess thriller


Title: ATM
Year : 2012
Genre: Horror/Thriller
Duration: 1 hr 30 mins
Directed by: David Brooks
Written by: Chris Sparling (screenplay)
Starring: Alice Eve, Josh Peck, Brian Geraghty
Thrill Rate : * (1/5)

ATM (2012) : A Totally Mess thriller


Entah kenapa saya mulai merasa produksi film horror/thriller Hollywood belakangan ini kok jadi agak mirip dengan produksi film horror/thriller di Indonesia ya ? Gara-gara pocong, kuntilanak, gerandong dan kawan-kawannya lagi naik daun, maka banjirlah film horror Indonesia dengan tema hantu-hantuan yang nggak jelas ceritanya dan kebanyakan pamer aurat aja. Begitu pula Hollywood, setelah Rodrigo Cortes sukses dengan Buried-nya tahun 2010, tahun ini Gabe Torres muncul dengan Brake. Lalu ada orang lain yang “gatal” dan ikut-ikutan juga bikin thriller tentang ruang sempit namanya David Brooks. Untung aja film ini nggak bakal tayang di bioskop karena memang sengaja diproduksi direct to video, jadi sebenarnya produser dan pembuat filmnya masih punya urat malu pada penonton karena mereka sadar kalau filmnya bakalan dicemooh sama yang nonton. Yah, masih mendinglah dibanding dengan produser dan pembuat film Indonesia yang sampai sekarang masih nggak punya malu dan masih banyak yang nekat bikin film horror “esek-esek” nggak berkualitas dan cenderung merusak kondisi perfilman Indonesia. Tapi, apakah ATM ini juga mirip dengan Buried atau Brake yang cuma sekedar ikutan trend ? Let’s find out.
 
We're three musketeers...oopss...three moron
 
ATM bertutur tentang tiga orang pialang saham bernama Emily (Alice Eve), David (Brian Geraghty), dan Corey (Josh Peck) yang baru pulang menghadiri pesta natal kantornya dan (harus) mampir ke ATM terdekat sebelum pulang. Mengapa saya memberi tanda kurung pada kata “harus” ? Karena saya juga harus paham pada level IQ para pialang saham yang dibawah rata-rata di film ini. Biasanya para pialang saham di film-film digambarkan cerdas dan agak licik supaya mereka bisa survive di pasar saham dan investasi, tapi Emily, David dan Corey bukan tipe pialang saham yang seperti itu. Mereka adalah sekumpulan moron yang bersedia menjebakkan diri mereka sendiri di sebuah ATM yang sepi dan sangat tidak aman. Kebetulan juga bilik ATM yang mereka gunakan sudah dijadikan “target operasi” oleh seorang pria misterius yang entah tujuannya apa memang ingin menyiksa siapapun yang rela menjebakkan dirinya di ATM tersebut. Berbagai upaya dilakukan Emily, David, dan Corey untuk membebaskan diri mereka, tapi semuanya berbuah nihil karena IQ si penjahat lebih tinggi dibanding tiga orang pialang saham ini sehingga mereka bertiga harus berjuang mati-matian (karena kebodohan mereka) untuk bisa keluar dari bilik ATM itu sekaligus mengakhiri teror dari pria misterius yang ingin membuat mereka bertiga mati.
 
Untung gue nggak ketinggalan lipstik....
 
Meski screenplay-nya ditulis oleh Chris Sparling yang juga nulis buat Buried, tapi ATM sama sekali tak “menggigit” seperti Buried. ATM adalah film thriller yang cenderung mengada-ada dan nampak sangat bodoh menurut pendapat saya. Jalan ceritanya sangat tak logis dan terlalu banyak mengeksplorasi kebodohan para protagonisnya. Bayangkan saja, dalam salah satu scene, tiga orang ini sama-sama lupa membawa handphone saat masuk ke dalam ATM hingga terjebak di dalamnya. Tapi demi menarik perhatian orang untuk mendapat pertolongan, Emily malah mengeluarkan lipstick dari kantongnya dan nulis HELP di kaca bilik ATM. Bukannya handphone yang selalu ada di saku celana atau baju, ini malah lipstick yang dikantongi terus….hadeeehhh….kelewatan banget deh yang bikin cerita film ini sampai betul-betul kelihatan bodoh banget tokoh utamanya. Untung sih, Corey dan David juga nggak ikut-ikutan ngeluarin bedak sama mascara dari sakunya, bisa-bisa mereka bikin salon kecantikan dadakan di bilik ATM itu sembari nungguin pertolongan datang. Selain scene tadi masih banyak lagi cara-cara para protagonis yang sangat tak intelek dan cenderung buang-buang waktu dan tenaga dalam meloloskan diri dari bilik ATM terus menerus diumbar sepanjang film. Hampir semua tindakan dan aksi yang dilakukan oleh masing-masing karakter yang terlibat di film ini sangat mudah ditebak dan prosentase kebenaran tebakan tersebut 99% akurat. Selain itu juga banyak pertanyaan tak terjawab hingga film selesai diputar. Contohnya, siapa sebenarnya pria misterius yang menyebar teror di ATM tersebut ? Penjahat professional-kah ? Seseorang yang dendam pada 3 orang pialang saham ini atau siapa ? Semuanya dibiarkan mengambang hingga akhir film.

My IQ is higher.....
 
Jujur saja, ATM sama sekali tak menghibur buat saya karena amat banyak kekonyolan yang ditemukan di dalamnya. Mulai dari jalan cerita yang nggak masuk akal dan nggak jelas, hingga aksi para protagonist-nya yang bikin kesel dan sok heroik. Hanya satu hal saja yang menarik dari ATM ini, yaitu kecantikan wajah Alice Eve, itu saja, tidak ada yang lain. Jika ada sub genre comedy thriller (mudah-mudahan ada), maka ATM sangat layak masuk dalam kategori sub genre tersebut karena banyak sekali kekonyolan dan dagelan di film ini yang layak untuk ditertawakan, karena ATM bukanlah jenis film thriller yang membuat jantung jadi berdebar-debar. Adalah suatu pemborosan waktu menyaksikan sekumpulan moron selama 1,5 jam bermain di film thriller yang tak layak disebut sebagai suatu film thriller. Sekali lagi, tak ada sesuatu yang istimewa di ATM, semuanya hanya berisi kekonyolan dan kebodohan semata, titik.

Kamis, 01 Maret 2012

The Woman In Black (2012) : “Harry Potter” Main Film Horor


Title: The Woman In Black
Year : 2012
Genre:
Horror
Duration: 1 hr 30 mins
Directed by:
James Watkins
Written by:
Jane Goldman (screenplay), Susan Hill (novel)
Starring:
Daniel Radcliffe, Ciaran Hinds, Janet McTeer   
Fright Rate : ** (2/5)

The Woman In Black (2011) : “Harry Potter” Main Film Horor


Tips menonton The Woman In Black :
1) Sediakan cemilan, biar nggak bosan;
2) Sediakan kopi, biar nggak ngantuk;
3) Jika masih tak kuat menahan kantuk dan bosan, ambil bantal dan tidur sampai film selesai.

Tips diatas kedengaran konyol dan cenderung melecehkan The Woman In Black ? Mohon maaf jika tipsnya terdengar agak sarkastik, tapi memang itulah yang saya lakukan ketika menonton film ini. Entah karena selera film horror saya yang “ndeso” atau memang filmnya yang jelek, The Woman In Black telah sukses membuat mata saya jadi berat dan hampir tertidur jika tak segera dibangunkan oleh background music yang kadang-kadang bikin kaget. Film horror adalah jenis genre film yang jujur dan apa adanya, itulah yang banyak dikatakan oleh teman-teman saya yang juga pecandu film horror. Pernyataan tersebut memang benar adanya serta terbukti dalam The Woman In Black. Jujur saja, The Woman In Black tak memiliki cukup energi untuk dapat membangkitkan sensasi psikologis berupa ketakutan atau kengerian saya. Tapi sekali lagi, seperti yang acapkali saya tulis di blog ini, semua itu hanyalah masalah selera saja, jadi tak ada pendapat atau penilaian yang salah atau benar, masing-masing punya sudut pandang sendiri dalam menilai suatu film horror semacam The Woman In Black ini.

Save who ??

The Woman In Black dibintangi oleh Daniel Radcliffe a.k.a Harry Potter, minus kacamata bulat, tongkat sihir dan sapu terbangnya. Sutradaranya adalah James Watkins yang kondang dengan karyanya yaitu Eden Lake (2008) serta pernah terlibat sebagai penulis cerita The Descent : Part 2 di tahun 2009 lalu. Film ini merupakan adaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Susan Hill. Sayangnya, saya belum pernah membaca novel The Woman In Black sehingga saya nggak tahu persis bagaimana cerita asli dari film ini sebelum “diubahsuaikan” oleh Jane Goldman. Bercerita tentang seorang pengacara muda asal London bernama Arthur Kipps (Daniel Radcliffe) yang ditugaskan oleh kantornya ke sebuah desa dekat pantai di pelosok Inggris untuk mengumpulkan data dalam proses akuisisi sebuah rumah tua berjuluk Eel Marsh House. Warga di desa tersebut  tak menerima kehadiran Kipps, apalagi tujuan Kipps adalah untuk datang langsung melihat kondisi Eel Marsh House. Bagi penduduk desa, Eel Marsh House memiliki hubungan yang kuat dengan teror yang menyebar di desa tersebut. Anak-anak yang berada di desa itu secara misterius melakukan aksi bunuh diri tanpa diketahui penyebabnya. Rumor yang timbul adalah anak-anak di desa itu melakukan bunuh diri setelah melihat penampakan hantu seorang wanita bergaun hitam yang sering gentayangan di Eel Marsh House. Berawal dari sinilah rasa penasaran Kipps mulai timbul dan dengan dibantu oleh Daily (Ciaran Hinds), seorang penduduk lokal yang anaknya juga ikut bunuh diri, menguak misteri yang terjadi di Eel Marsh House dan penampakan hantu wanita bergaun hitam yang telah menyebar teror pada warga desa.

See...I'm not creepy at all...

Sebenarnya The Woman In Black memiliki cerita yang sangat solid dan sangat khas dengan tipe cerita horror ala Eropa (terutama Inggris). Namun, entah karena terbatasnya durasi film atau memang pengadaptasian dari novel ke screenplay yang kurang apik, saya merasa film ini jadi kurang memiliki “taring” untuk menakuti penontonnya. Alur cerita di film ini nampak sangat bertele-tele dan sangat membosankan. Jika seandainya Jane Goldman dapat memberi sedikit ruang untuk eksplorasi tentang latar belakang kehidupan sang protagonis Kipps dan si hantu wanita bergaun hitam mengapa dia sampai gentayangan, mungkin saja cerita film ini akan jadi sedikit lebih menarik.  James Watkins juga nampak tak terlalu maksimal usahanya dalam menakuti penonton film ini, sehingga bagi saya The Woman In Black nampak lebih mendepankan unsur drama dibanding horrornya. Ending film ini juga tak terlalu istimewa namun bagi penggemar film drama, akan sedikit memberi efek tragis sekaligus mengharukan. The Woman In Black adalah tipe film tentang hantu rumahan yang sangat biasa dan sama sekali tak ditemukan unsur baru di dalamnya. Mungkin saya agak keterlaluan dengan memberi rating 2 dari 5, tapi jujur, film ini kurang sukses membangkitkan ketakutan saya. Penyebabnya mungkin karena selera horror saya  yang “ndeso” dan tak terlalu mengerti seni tentang film, sehingga tak saya temukan hal yang menghibur dan menakutkan di film ini.  
    
 I can beat Potter's acting....

Set interior di Eel Marsh House yang nampak sangat kuno serta lokasi pengambilan gambar film ini bisa sedikit memberikan suasana spooky bagi penonton, tapi nampaknya itu semua hanyalah sekedar “bumbu penyedap” saja karena tak didukung oleh akting yang bagus dari bintang-bintang yang terlibat disini. Apalagi si Harry Potter, ekspresi ketakutan tak nampak sama sekali di wajahnya, malah cenderung jadi agak gusar dan sok heroik. Saya nggak bermaksud untuk menjelek-jelekkan Daniel Radcliffe, tapi nampaknya dia harus berpikir ulang untuk sekali lagi main di film horror. Bagi saya, Daniel Radcliffe tetap harus menjadi Harry Potter, bukan Arthur Kipps, karena Daniel tak sukses menjadi Kipps dan masih membawa akting Harry Potter-nya di film ini. Mungkin Daniel ingin mencari tantangan baru dengan bermain di film horror, tapi untuk saat ini, dia masih belum layak untuk menjadi pemeran utama di film horror. Malah menurut saya, akting Daniel masih kalah dengan mainan-mainan kuno yang cukup “creepy” penampilannya di film ini. Mau dinyatakan sebagai film box office atau nggak, The Woman In Black nampaknya harus di “delete” dari koleksi film horror saya karena  malas menonton film ini sekali lagi.