Selasa, 14 Februari 2012

Absentia (2011) : Sebuah Film Horror Indie



Title: Absentia
Year : 2011
Genre: Horror
Duration: 1 hr 31 mins
Directed by: Mike Flanagan
Written by: Mike Flanagan
Starring: Katie Parker, Courtney Bell, Morgan Peter Brown, Dave Levine
Fright Rate : *** (3/5)

Absentia (2011) : Sebuah Film Horror Indie

Banyak yang mengatakan pada saya, terutama teman-teman dekat, bahwa selera film saya boleh dibilang “amit-amit jabang baby…eh….bayi”. Karena saya paling sering nonton film horror/thriller dibanding dengan jenis film lainnya. Mau jelek, mau bagus, mau “kancut”, mau “marvelous”, asal filmnya horror/thriller, sudah pasti akan tetap saya tonton sampai habis. Persetan dengan pendapat teman-teman lain, yang penting menurut saya, film itu harus bisa menghibur karena kita nonton film buat cari hiburan, bukan nonton film buat memecahkan soal kalkulus yang njelimet. Dan genre horror/thriller bisa mengakomodasi kebutuhan saya akan hiburan. Cuma ada satu syarat mutlak, film horror yang menghibur itu harus bisa bikin saya takut atau ngeri, apapun jenis sub-genre-nya. Tapi, kembali lagi, itu semua hanya masalah selera belaka.


Hello sister....
  

Salah satu film horror yang lumayan menghibur saya adalah Absentia. Film ini pernah diputar di iNAFF 2011 kemarin, yang kebetulan, saya nggak sempat nonton. Keterangan yang didapat dari mbah Google menyatakan bahwa Absentia adalah suatu film horror independen alias indie-horror movie. Mike Flanagan menjadi orang yang paling banyak perannya di film ini, mulai dari sutradara, penulis cerita, hingga editor. Absentia menceritakan tentang Tricia (Courtney Bell) yang sedang mencari suaminya. Suami Tricia, Daniel (Morgan Peter Brown), telah menghilang tanpa jejak selama hampir 7 tahun. Di tengah galaunya Tricia, yang juga sedang hamil tua, datanglah adik Tricia bernama Callie (Katie Parker), untuk membantu memberikan semangat bagi kakaknya akibat telah kehilangan Daniel. Callie disini diceritakan sebagai mantan pecandu narkoba yang baru saja “lulus” dari klinik rehabilitasi. Tricia juga kerap dihantui oleh bayang-bayang Daniel, hingga dokter menyarankan Tricia untuk tak banyak berhalusinasi serta melakukan meditasi dalam menyembuhkan luka jiwanya. Departemen Kesehatan akhirnya telah mengeluarkan sebuah sertifikat dead-in-absentia bagi Daniel karena telah lama tak ditemukan sehingga Daniel dianggap telah mati. Polisi juga kebingungan mencari dimana keberadaan Daniel yang seakan lenyap bagai ditelan bumi. Tapi, secara mengejutkan, Daniel yang menghilang, tiba-tiba muncul dengan kondisi yang sangat mengenaskan, mirip seperti tahanan yang baru keluar dari kamp konsentrasi Nazi. Ternyata selama ini Daniel telah hidup di “dunia lain” yang berbeda. Hingga suatu malam, Daniel kembali menghilang. Satu-satunya saksi atas hilang kembalinya Daniel adalah Callie. Callie memberi keterangan pada polisi bahwa Daniel telah diculik oleh makhluk yang tinggal di terowongan penghubung antar kota dekat mereka tinggal. Karena Callie adalah mantan pecandu narkoba, polisi tak serta merta percaya pada keterangan Callie dan menganggap Callie telah berhalusinasi akibat pengaruh narkoba. Nampaknya terowongan penghubung itu bukanlah jenis terowongan penghubung biasa karena tersimpan misteri di dalamnya, termasuk hilangnya Daniel selama ini dan sederetan daftar orang hilang lainnya yang belum juga ditemukan.


Honey, I'm back.....


Awalnya saya hampir menganggap jika Absentia adalah film yang sama membosankannya dengan Kill List (2011). Meski alur Absentia sangat lambat, tapi juga terkadang bikin “geregetan” (kata mbak Sherina). Hingga hampir 30 menit pertama, penonton hanya akan disuguhi obrolan-obrolan ringan kakak beradik Tricia dan Callie. 30 menit yang lumayan membosankan dan bikin ngantuk bagi saya, namun Mike sangat pandai menyelipkan sedikit demi sedikit adegan yang membuat penasaran penonton, hingga mata saya tak jadi mengantuk. Pikiran penonton dibuat berimajinasi sendiri oleh Mike, dalam menguak misteri tentang hilangnya Daniel serta terowongan misterius tersebut dan akhirnya membuat penonton tetap terpaku di tempat duduknya hingga film selesai. Mike juga cenderung agak “pelit” dalam menampilkan sosok makhluk misterius yang menurut Callie telah menculik Daniel. Tapi, justru disinilah nilai lebihnya menurut saya. Film horror yang terlalu banyak mengumbar penampakan hantu/makhluk lainnya, malah cenderung lebay, dan akhirnya akan gagal dalam membangun rasa takut dari penonton. Mungkin bagi Mike, misteri harus tetap menjadi suatu misteri, jadi tak perlu terlalu banyak dieksploitasi, biarlah seperti itu adanya, agar orang penasaran dibuatnya. Dan ternyata Mike lumayan sukses membangun ketakutan penonton dengan resep tersebut.


Hello...I wanna trade...


Nuansa film yang agak “sepi” dan cenderung misterius juga memberikan kontribusi yang lumayan bagus pada film ini. Ilustrasi musik dan tata suara film ini juga sukses menebarkan aroma “creepy”, meski tak terlalu annoying dan membuat orang jadi terkaget-kaget dibuatnya. Akting dari aktor dan aktris yang terlibat dalam Absentia juga boleh diacungi jempol, terutama bagi Katie Parker dan Courtney Bell. Dua aktris ini sangat pas memerankan kakak beradik. Belum lagi Morgan Peter Brown yang wajah dan make up-nya nampak sangat “parno” serta mencerminkan ekspresi shock yang sangat luar biasa setelah pindah “dunia” hampir 7 tahun. Editingnya juga lumayan mantap untuk sekelas film indie. Mike rupanya telah berhasil membuktikan bahwa budget film yang besar tak selalu memberikan hasil yang maksimal. Dengan segala hal yang minimal, Mike telah membuat Absentia menjadi suatu film horror yang cukup maksimal.



Help...I wanna go home...
 
Absentia merupakan suatu film yang agak melenceng dari ekspektasi saya. Meski begitu, karena selera film saya yang “katrok” menurut teman-teman saya tadi, mungkin Absentia hanya cukup sekali saja saya tonton. Film sejenis Absentia, menurut saya, hanya bisa memberikan pengalaman menakutkan saat pertama kali kita menontonnya. Jadi Absentia bukan jenis film horror yang kadar ketakutannya bisa diulang dan akan nampak “creepy” sampai kapanpun, seperti pada film horror legendaris The Thing (versi lama) sebagai contoh. Terlepas dari segala pengalaman saya setelah menonton Absentia dan telah saya tuangkan juga dalam tulisan ini sekarang, entah mau mencap Absentia sebagai film yang bagus atau jelek, itu semua terserah pada anda yang telah menonton film ini.

3 komentar:

  1. Jujur, boss, gue ngantuk berat nonton nih pelm. Mana berulang-ulang ngasih footage yang sama diiringi ama musik latar belakang yang repetitif pula. Maklum sih, low budget. Cuma sayang gue gak suka.

    BalasHapus
  2. hehehe....betul bos,pelemnye emang bikin ngantuk,tapi masih lebih mending dari Kill List,makanya saya rekomen cukup skali nonton aje.Yah,namanya juga low budget,jadi harap maklum ya boss :-)

    BalasHapus