Title: Absentia
Year : 2011
Genre: Horror
Genre: Horror
Duration: 1 hr 31 mins
Directed by: Mike Flanagan
Written by: Mike Flanagan
Starring: Katie Parker, Courtney Bell, Morgan Peter Brown, Dave Levine
Directed by: Mike Flanagan
Written by: Mike Flanagan
Starring: Katie Parker, Courtney Bell, Morgan Peter Brown, Dave Levine
Fright Rate : ***
(3/5)
Absentia (2011) : Sebuah Film
Horror Indie
Banyak
yang mengatakan pada saya, terutama teman-teman dekat, bahwa selera
film saya boleh dibilang “amit-amit jabang baby…eh….bayi”.
Karena saya paling sering nonton film horror/thriller dibanding
dengan jenis film lainnya. Mau jelek, mau bagus, mau “kancut”,
mau “marvelous”, asal filmnya horror/thriller, sudah pasti akan
tetap saya tonton sampai habis. Persetan dengan pendapat teman-teman
lain, yang penting menurut saya, film itu harus bisa menghibur karena
kita nonton film buat cari hiburan, bukan nonton film buat memecahkan
soal kalkulus yang njelimet.
Dan genre horror/thriller bisa mengakomodasi kebutuhan saya akan
hiburan. Cuma ada satu syarat mutlak, film horror yang menghibur itu
harus bisa bikin saya takut atau ngeri, apapun jenis sub-genre-nya.
Tapi, kembali lagi, itu semua hanya masalah selera belaka.
Hello sister....
Salah
satu film horror yang lumayan menghibur saya adalah Absentia. Film
ini pernah diputar di iNAFF 2011 kemarin, yang kebetulan, saya nggak
sempat nonton. Keterangan yang didapat dari mbah Google menyatakan
bahwa Absentia adalah suatu film horror independen alias indie-horror
movie.
Mike Flanagan menjadi orang yang paling banyak perannya di film ini,
mulai dari sutradara, penulis cerita, hingga editor. Absentia
menceritakan tentang Tricia (Courtney Bell) yang sedang mencari
suaminya. Suami Tricia, Daniel (Morgan Peter Brown), telah menghilang
tanpa jejak selama hampir 7 tahun. Di tengah galaunya Tricia, yang
juga sedang hamil tua, datanglah adik Tricia bernama Callie (Katie
Parker), untuk membantu memberikan semangat bagi kakaknya akibat
telah kehilangan Daniel. Callie disini diceritakan sebagai mantan
pecandu narkoba yang baru saja “lulus” dari klinik rehabilitasi.
Tricia juga kerap dihantui oleh bayang-bayang Daniel, hingga dokter
menyarankan Tricia untuk tak banyak berhalusinasi serta melakukan
meditasi dalam menyembuhkan luka jiwanya. Departemen Kesehatan
akhirnya telah mengeluarkan sebuah sertifikat dead-in-absentia
bagi Daniel karena telah lama tak ditemukan sehingga Daniel dianggap
telah mati. Polisi juga kebingungan mencari dimana keberadaan Daniel
yang seakan lenyap bagai ditelan bumi. Tapi, secara mengejutkan,
Daniel yang menghilang, tiba-tiba muncul dengan kondisi yang sangat
mengenaskan, mirip seperti tahanan yang baru keluar dari kamp
konsentrasi Nazi. Ternyata selama ini Daniel telah hidup di “dunia
lain” yang berbeda. Hingga suatu malam, Daniel kembali menghilang.
Satu-satunya saksi atas hilang kembalinya Daniel adalah Callie.
Callie memberi keterangan pada polisi bahwa Daniel telah diculik oleh
makhluk yang tinggal di terowongan penghubung antar kota dekat mereka
tinggal. Karena Callie adalah mantan pecandu narkoba, polisi tak
serta merta percaya pada keterangan Callie dan menganggap Callie
telah berhalusinasi akibat pengaruh narkoba. Nampaknya terowongan
penghubung itu bukanlah jenis terowongan penghubung biasa karena
tersimpan misteri di dalamnya, termasuk hilangnya Daniel selama ini
dan sederetan daftar orang hilang lainnya yang belum juga ditemukan.
Honey, I'm back.....
Awalnya
saya hampir menganggap jika Absentia adalah film yang sama
membosankannya dengan Kill List (2011). Meski alur Absentia sangat
lambat, tapi juga terkadang bikin “geregetan” (kata mbak
Sherina). Hingga hampir 30 menit pertama, penonton hanya akan
disuguhi obrolan-obrolan ringan kakak beradik Tricia dan Callie. 30
menit yang lumayan membosankan dan bikin ngantuk bagi saya, namun Mike
sangat pandai menyelipkan sedikit demi sedikit adegan yang membuat
penasaran penonton, hingga mata saya tak jadi mengantuk. Pikiran
penonton dibuat berimajinasi sendiri oleh Mike, dalam menguak misteri
tentang hilangnya Daniel serta terowongan misterius tersebut dan
akhirnya membuat penonton tetap terpaku di tempat duduknya hingga
film selesai. Mike juga cenderung agak “pelit” dalam menampilkan
sosok makhluk misterius yang menurut Callie telah menculik Daniel.
Tapi, justru disinilah nilai lebihnya menurut saya. Film horror yang
terlalu banyak mengumbar penampakan hantu/makhluk lainnya, malah
cenderung lebay, dan akhirnya akan gagal dalam membangun rasa takut
dari penonton. Mungkin bagi Mike, misteri harus tetap menjadi suatu
misteri, jadi tak perlu terlalu banyak dieksploitasi, biarlah seperti
itu adanya, agar orang penasaran dibuatnya. Dan ternyata Mike lumayan
sukses membangun ketakutan penonton dengan resep tersebut.
Hello...I wanna trade...
Nuansa
film yang agak “sepi” dan cenderung misterius juga memberikan
kontribusi yang lumayan bagus pada film ini. Ilustrasi musik dan tata
suara film ini juga sukses menebarkan aroma “creepy”, meski tak
terlalu annoying
dan membuat orang jadi terkaget-kaget dibuatnya. Akting dari aktor
dan aktris yang terlibat dalam Absentia juga boleh diacungi jempol,
terutama bagi Katie Parker dan Courtney Bell. Dua aktris ini sangat
pas memerankan kakak beradik. Belum lagi Morgan Peter Brown yang
wajah dan make up-nya nampak sangat “parno” serta mencerminkan
ekspresi shock yang sangat luar biasa setelah pindah “dunia”
hampir 7 tahun. Editingnya juga lumayan mantap untuk sekelas film
indie. Mike rupanya telah berhasil membuktikan bahwa budget film yang
besar tak selalu memberikan hasil yang maksimal. Dengan segala hal
yang minimal, Mike telah membuat Absentia menjadi suatu film horror
yang cukup maksimal.
Help...I wanna go home...
Absentia
merupakan suatu film yang agak melenceng dari ekspektasi saya. Meski
begitu, karena selera film saya yang “katrok” menurut teman-teman
saya tadi, mungkin Absentia hanya cukup sekali saja saya tonton. Film
sejenis Absentia, menurut saya, hanya bisa memberikan pengalaman
menakutkan saat pertama kali kita menontonnya. Jadi Absentia bukan
jenis film horror yang kadar ketakutannya bisa diulang dan akan
nampak “creepy” sampai kapanpun, seperti pada film horror
legendaris The Thing (versi lama) sebagai contoh. Terlepas dari segala
pengalaman saya setelah menonton Absentia dan telah saya tuangkan
juga dalam tulisan ini sekarang, entah mau mencap Absentia sebagai
film yang bagus atau jelek, itu semua terserah pada anda yang telah
menonton film ini.
Jujur, boss, gue ngantuk berat nonton nih pelm. Mana berulang-ulang ngasih footage yang sama diiringi ama musik latar belakang yang repetitif pula. Maklum sih, low budget. Cuma sayang gue gak suka.
BalasHapushehehe....betul bos,pelemnye emang bikin ngantuk,tapi masih lebih mending dari Kill List,makanya saya rekomen cukup skali nonton aje.Yah,namanya juga low budget,jadi harap maklum ya boss :-)
BalasHapusMembosankan bikin ngantuk
BalasHapus