Rabu, 08 Februari 2012

Rogue River (2012) : Idenya Mirip Misery, Tapi……



Title: Rogue River
Year : 2012
Genre:
Horror/Thriller
Duration: 1 hr 17 mins
Directed by:
Jourdan McClure
Written by:
Kevin Haskin, Ryan Finnerty
Starring:
Michelle Page, Chris Coy, Bill Moseley, Lucinda Jenney    
Fright Rate : ** (2/5)

Rogue River (2012) : Idenya Mirip Misery, Tapi……

Masih ingat dengan film Misery yang dibintangi oleh Kathy Bates ? Yup, ceritanya tentang psikopat bernama Annie yang sekaligus fans berat seorang penulis novel dan akhirnya berhasil menyandera sang penulis  setelah diselamatkannya dari kecelakaan mobil. Nah, nampaknya Rogue River ini terinspirasi oleh Misery dari segi ide ceritanya karena masih berkutat tentang psikopat rumahan ala Misery. Bagi saya pribadi, Misery memang suatu film horror/thriller psikologi yang sangat baik dan jauh dari kata mengecewakan. Sungguh amat bertolak belakang dengan Rogue River. Tapi, sekali lagi, ini hanya masalah selera semata. Jadi menurut pendapat saya, nggak ada suatu film bergenre apapun yang betul-betul menjadi suatu masterpiece sempurna akibat selera dan pandangan masing-masing penonton yang berbeda. Lanjut lagi ke Rogue River, sutradara film ini adalah Jourdan McClure yang merupakan wajah baru dalam genre horror/thriller. Skenarionya ditulis oleh duo Kevin Haskin dan Ryan Finnerty. Dua bintang yang saya kenal dan main di Rogue River ini adalah Chris Coy dan Bill Moseley. Bagi yang udah pernah nonton The Hostel Part III, tentu masih ingat dengan tampang culun Chris Coy yang pura-pura jadi turis nyasar pas opening-nya. Bill Moseley adalah pemain film horror legendaris yang lebih dikenal dalam film The Devil’s Rejects (2005), Army of Darkness (1992), dan The Texas Chainsaw Massacre 2 (1986).

Hi...My Name is Jon..
 
Mara (Michelle Page) melakukan perjalanan ke Oregon dalam memenuhi permintaan dari sang ayah yang telah meninggal, agar abu ayahnya dapat disebarkan di Rogue River. Saat di tepian Rogue River, Mara sempat berkenalan dengan orang asing bernama Jon (Bill Moseley). Seperti pakem film horror lainnya, saat Mara kembali dari tepian Rogue River, mobilnya tiba-tiba raib dan sinyal telepon selularnya juga ikut-ikutan menghilang. Akhirnya Mara mau menerima ajakan Jon untuk diberikan tumpangan dan ikut ke rumah Jon. Ternyata Jon tinggal serumah dengan seorang perempuan bernama Lea (Lucinda Jenney). Awalnya Mara tak punya prasangka apapun terhadap Jon dan Lea, karena keduanya sangat ramah pada Mara. Hingga akhirnya Mara paham bahwa keramahtamahan Jon dan Lea itu hanyalah sebuah kedok semata yang membuat dirinya harus menempuh segala cara untuk dapat keluar dari rumah itu segera.

I wanna cry...
 
Rogue River awalnya cukup menjanjikan menurut saya. Apalagi banyak terdeskripsikan secara bagus tentang cara efektif menyiksa orang serta kegilaan psikopat di film ini. Sebut saja, yang paling ringan seperti menjahit tangan yang robek kena pecahan piring tanpa anestesi atau bius, menuang air mendidih ke mulut orang sampai lidah dan bibirnya jontor, menyandera orang yang sekarat dalam sebuah koper, hingga membunuh orang dengan menuangkan abu kremasi ke mulutnya. Sungguh sebuah ide segar dalam menampilkan suatu adegan yang membuat penikmat film horror lumayan terpuaskan. Namun, sayangnya Rogue River sangat miskin dalam mengurai cerita suatu film horror yang layak tonton. Latar belakang tentang karakter antagonis yang psikopat di film ini, mengapa sekonyong-konyong menjadi psikopat, juga tak diungkap. Selain itu, apa motif dari psikopat ini sampai tega menyiksa orang, juga hanya menjadi pertanyaan tak terjawab. Intinya, penonton diminta untuk pasrah saja menikmati adegan demi adegan penyiksaan yang dilakukan oleh sang psikopat pada korbannya dan upaya sang korban berusaha lari dari  si psikopat, tanpa perlu banyak mikir apalagi bertanya.  Hal inilah yang membuat penonton Rogue River dibuat garuk-garuk kepala kebingungan hingga credit title muncul dan filmnya selesai. Mungkin clue yang paling logis untuk menjawab itu semua adalah akibat trauma psikologis yang dialami oleh para psikopat dalam film ini, diantaranya trauma akibat menjadi serdadu di medan perang serta trauma akibat penyakit yang menggerogoti tubuh sang psikopat hingga dia harus kemoterapi.

You must be thirsty....
 
Satu hal yang cukup “ngeselin” menurut saya adalah akting dari Michelle Page yang terlalu lebay dalam mengumbar air matanya demi meraih empati dari penonton bahwa dia betul-betul sakit akibat siksaan sang psikopat. Entah berapa botol obat tetes mata yang dipakai Michelle dan berapa kali take adegan “mewek” yang diambil juru kamera, saya sendiri juga kurang paham, karena yang jelas, dari awal film hingga menjelang ending, 70 % ekspresi akting Michelle isinya cuma “mewek” dan nangis sesenggukan aja. Sama sekali nggak pas untuk dijadikan sebagai seorang heroine yang pantas jadi pemenang di akhir film. Saya malah justru suka pada akting “dingin” Bill Moseley dan kekanak-kanakannya Lucinda Jenney,  sangat khas seperti seorang yang sakit jiwa. Hanya saja kembali ke jalan cerita atau skenario Rogue River yang miskin, akhirnya akting dari para pemeran ini hanya nampak bagai pelengkap rasa “gurih” agar film ini lebih layak untuk ditonton. Musik dan tata suara yang mendukung film ini juga lumayan menambah sedikit nuansa “creepy” meski tak terlalu memberikan kesan yang cukup mendalam, apalagi sampai memorable. Adegan yang cukup unik di film ini adalah saat Mara dipaksa untuk “nyusu” pada Lea dan yang lumayan heboh adalah saat Mara dipaksa untuk bercinta dengan Andrew (Chris Coy) yang lagi sekarat. Ada juga satu adegan yang hampir membuat saya tertawa yaitu sebelum adegan Mara dipaksa bercinta dengan Andrew, Lea memberikan pil (kemungkinan besar adalah Viagra atau “boner”) pada Andrew agar “itunya” bisa bangun, meski dia dalam kondisi sakit dan sekarat….WTF….hehehehe..

I wanna cry...again...
 
Sebagai penutup, saya hanya merasa agak kecewa dengan Rogue River karena sebenarnya film ini sangat berpotensi untuk dapat dijadikan suatu film horror yang sangat bagus untuk ditonton. Jalan cerita yang kurang “dalam”, akting protagonisnya yang lebay, hingga banyaknya pertanyaan-pertanyaan tak terjawab hingga akhir film memberikan nilai minus untuk film ini. Tapi, di sisi lain, nilai plus dari Rogue River ini adalah pada deskripsi kegilaan sang psikopat yang tergambar cukup baik dan lumayan kreatif. Secara umum, film ini masih bisa dikatakan cukup menghibur, apalagi di tengah serbuan film horror Indonesia yang “kancut” tapi bisa masuk ke bioskop papan atas negeri ini. Semuanya terserah pada anda, apakah akan memasukkan Rogue River pada daftar film yang wajib tonton di tahun 2012 ini atau mungkin mengabaikannya karena telah membaca review saya yang “katrok” ini.        

5 komentar:

  1. ada big boobs, hot girl ga bang kalau selama ada itu walapun jelek bisa dimaafkanlah.. ahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe...betul juga bos,klo nggak ada yang kayak gitu, jadi kurang "gurih" pelemnya.

      Hapus
  2. Setuju...cuma gue suka banget sama cara si psikopat ngerjain korbannya, lumayan kreatif.

    BalasHapus
  3. Itu dia hamil anaknya siapa? Andrew?

    BalasHapus