Title : Adam Chaplin
Year : 2011
Genre : Action/Horror
Duration : 1 hr 26
mins
Directed by :
Emanuele De Santi
Written by :
Emanuele De Santi
Starring : Emanuele
De Santi, Giulio De Santi, Alessandro Gramanti, Paolo Luciani
Fright Rate : **** (4/5)
Adam Chaplin (2011)
: Eksotisme Splatter Movie Italia Ala Manga
Siapa yang tak kenal dengan manga
? Komik Jepang ini seakan menjadi sebuah textbook
bagi remaja (bahkan anak-anak) yang hidup di milennium ini. Jepang memang boleh
dikatakan banyak memberikan inspirasi bagi hampir seluruh pop culture yang berkembang saat ini di seluruh dunia, termasuk di
industri film. Bahkan, beberapa kali nyata-nyata industri film di Hollywood me-remake beberapa film J-Horror, meski
hasilnya rata-rata mengecewakan akibat Hollywood terlalu mengedepankan sisi
“bule” alias masih terlalu kebarat-baratan dalam mengadaptasi sebuah J-Horror,
walhasil Hollywood gagal membungkus dan mentransfer nuansa kengerian dan
ketakutan yang kita peroleh saat menonton J-Horror yang sesungguhnya. Namun,
dibalik itu semua, ada seorang sutradara yang sekaligus aktor asal Italia
bernama Emanuele De Santi, mencoba untuk memberikan visualisasi ala manga pada film berbahasa Italia
berjudul Adam Chaplin ini.
Sedikit menyinggung kembali tentang manga,
dari beberapa action manga tempo dulu
yang sempat saya baca macam Tiger Wong atau Fist of North Star (maaf kalau
judulnya salah karena sangat jarang baca action
manga) selalu sarat dengan visualisasi adegan kekerasan yang eksplisit.
Namun, apa jadinya jika bahasa gambar yang ada di manga tersebut divisualisasikan menjadi suatu gambar bergerak macam
film misalnya. Jika masih berupa film animasi alias film kartun, mungkin tak
akan banyak pengaruhnya karena semua bisa tervisualiasi dengan cukup apik,
seperti sebuah komik yang bergerak. Hal yang dilakukan oleh De Santi melalui
Adam Chaplin ini adalah menampilkan visualisasi manga tersebut menggunakan medium manusia asli (bukan gambar komik)
ditambah sentuhan teknologi spesial efek, hingga efek splatter yang sering muncul di sebuah manga dapat ditampilkan bak aslinya. Seperti apa hasilnya ? Jika
masih tertarik untuk mengetahui tentang film ini, silahkan lanjutkan membaca review, karena saya tak menjamin bisa
menahan beberapa spoiler yang mungkin
akan muncul.
Adam Chaplin (Emanuele De Santi) sama sekali nggak punya hubungan apapun
dengan Charlie Chaplin atau keluarga Chaplin lainnya. Adam Chaplin hanyalah
seorang pria yang hidup di sebuah kota bernama Heaven Valley dan ingin menuntut
balas atas kematian istrinya yang telah disiksa dan dibunuh oleh geng penjahat
penguasa kota tersebut yang dipimpin oleh Denny Richards. Saking marahnya Adam
dan juga karena nggak percaya sama makhluk yang namanya polisi, akhirnya dia
memutuskan untuk meminta bantuan pada Derek, semacam iblis yang akhirnya
memberi Adam kekuatan super. Dengan kekuatan super inilah Adam berkelana
menyusuri kota mencari keberadaan Richards demi menuntaskan dendamnya. Ini
sebenarnya hanyalah sebuah klise yang kerap muncul di berbagai genre film
tentang kebaikan melawan kejahatan dan sudah barang tentu bukan suatu hal yang
amat istimewa.
Jika yang dicari di Adam Chaplin adalah kekuatan cerita atau skenario
film yang bagus, silahkan untuk kecewa seberat-beratnya. Premis yang diangkat
di film ini sangatlah sederhana, cuma tentang balas dendam, nggak kurang dan
nggak lebih.Tapi titik berat gaya bertutur De Santi di film ini adalah lebih
ingin mengedepankan visualisasi ala manga
secara hampir 98% akurat (karena 2%-nya adalah akting dari para bintang yang
mendukung film ini). Lihat saja splatter
dan kekerasan ekstrim yang amat
memanjakan mata dan muncul sepanjang film diputar. Mulai dari muncratan darah
yang hampir setiap saat muncul, kepala yang diinjak-injak sampai gepeng, hingga aksi bakar tubuh sampai
gosong. Cenderung agak lebay dan
repetitif juga sih, tapi memang disitulah sebenarnya kekuatan sebuah splatter
film yang sering mendominasi di teater-teater grindhouse.
Meski film ini dikerjakan dengan low-budget dan juga adalah sebuah film indie, tapi kualitas splatter-nya membuat film macam Hobo
With The Shotgun jadi terkesan “mild”. Terkadang ditemui juga adegan-adegan
yang bikin saya tertawa ngakak karena sama sekali nggak masuk akal, tapi akhirnya
saya kembali sadar bahwa Adam Chaplin hanyalah sebuah perwujudan komik belaka
yang nggak perlu terlalu dipikir serius apalagi dicerna terlalu berat. It’s purely an entertainment for cult and
splatter movie fans, in manga ways . Disinilah saya juga merasakan bahwa De
Santi memang ingin membuat film ini sebagai sarana untuk bersenang-senang saja,
tanpa perlu memikirkan seperti apa jalan cerita yang bagus, bagaimana membuat
penonton menjadi terkecoh akibat twist
yang berkembang sepanjang film apalagi bagaimana kekuatan karakter tokoh antagonis
atau protagonisnya. De Santi is really
having fun in this movie. Ini baru fitrah sebuah film yang sebenarnya
menurut saya. Bagaimana membuat penonton menjadi senang dan bergembira saat
menonton suatu film, bukan malah nambahin pikiran penonton sepulang dari
bioskop.
Demi menambah kesan kelam dan misterius, film ini tampil dengan nuansa
biru yang cenderung gelap. Tapi untuk mengimbangi hal tersebut, De Santi
menggunakan nuansa merah darah hingga film ini jadi kelihatan sangat kontras
eksekusinya. Pengambilan gambarnya juga kebanyakan close up. Karakter-karakter di film ini penampilannya misterius
tapi sekaligus komikal. Adam Chaplin digambarkan hampir mirip sang dewa petir
Rayden dari video game Mortal Kombat.
Sedangkan Denny Richards tampil memakai topengnya Leonardo Di Caprio di The Man
in The Iron Mask. Dari segi akting, nggak ada yang istimewa, semuanya biasa
saja karena ekpresi yang dibutuhkan paling banyak di film ini hanya ekspresi kesakitan
dan marah, hampir minus ekspresi takut. Mengenai efek spesial, HABS (Hyperrealistic Anime Blood Simulation) adalah kata
kunci yang membuat film ini jadi sangat menarik untuk ditonton. HABS inilah
yang bertanggungjawab menjadikan efek darah yang bermuncratan hampir sepanjang
film jadi kelihatan indah dan nggak terkesan murahan. Bagi yang tertarik untuk
mengetahui apa itu HABS, silahkan baca disini.
Adam Chaplin adalah suatu film yang sangat menghibur bagi saya. Lupakan
soal skenario/plot yang bagus dan bikin penonton penasaran dan berujung mikir
sepanjang film. Lupakan juga soal karakterisasi dan akting yang menawan, karena
itu semua nggak dijual disini. Sekali lagi, Adam Chaplin hanyalah murni sebuah
film splatter yang ingin mengajak
para cult and splatter movie fans
bersenang-senang, dengan media visualisasi layaknya sebuah manga. Jika telah terbiasa nonton film macam Tokyo Gore Police dan
Hobo With The Shotgun serta menganggap kedua film ini memberikan orgasme visual
saat menonton, maka Adam Chaplin juga bisa dipertimbangkan untuk ditonton,
karena itulah yang diberikan oleh De Santi sepanjang film diputar. Nggak kurang
dan nggak lebih.






Ini kok keliatan kayak RIKI-OH, tapi dengan cita rasa Italia, ya? :D
BalasHapusYup, anda benar. Saya lupa masukin Riki Oh sebagai referensi pembanding. Makasih udah diingetin :D
HapusAkhirnya, nemu juga pelm ini. Cuma belon sempet ditonton, masih ngantri.
BalasHapusartikelnya selalu menarik..
BalasHapustapi up datenya jangan terlalu lama yah :D
thank ya sangat membantu
kalau mau tau rahasia cantik para artis main ke web ku yaa ^_^
index:beauty water.id - index:obatkuatalong.com - index:pembesarpenisjakarta.com
obat kuat
obat kuat pria
obat pembesar penis
vimax asli
pembesar penis jakarta
sex toys wanita
obat perangsang
obatkuatalong.com - juraganobatimport.com
bener.. ini pure buat yang hobi liat aksi berdarah2 aja.. ceritanya hmmmmmm gtu deh..
BalasHapus-------------------------------------------------------
BANDARDARAT.COM menyediakan pasaran :
-SINGAPORE
-NAGOYA
-WINA
-HONGKONG
-SYDNEY
-TORONTO
Minimal Depo WD Rp. 50.000,-
Hubungi Kami di :
Website : BandarDarat.com
Call Centre : +855-17-459008
YM : Cs_bandardarat
BBM : 59152AF5
Livechat : BandarDarat.com
Link Daftar : http://goo.gl/qhHE5V
Like Facebook : https://www.facebook.com/BandarDaratcom-484914535016763/
Join Grup : https://www.facebook.com/groups/557708171044424/