Title: Kill List
Year : 2011
Genre: Horror/Thriller
Genre: Horror/Thriller
Duration: 1 hr 35 mins
Directed by: Ben Wheatley
Written by: Ben Wheatley, Amy Jump
Starring: Neill Maskell, MyAnna Buring, Michael Smiley, Emma Fryer
Directed by: Ben Wheatley
Written by: Ben Wheatley, Amy Jump
Starring: Neill Maskell, MyAnna Buring, Michael Smiley, Emma Fryer
Fright Rate : *** (3/5)
Kill List (2011) : Ini Film Horor Apa Bukan Sih ?
Pertanyaan itulah yang sempat timbul di pikiran saya setelah hampir 45 menit menonton Kill List. Namun, akhirnya pertanyaan tersebut terjawab setelah saya cukup bersabar (sambil makan cemilan) menonton film ini hingga tuntas. Film asal Inggris ini sempat juga diputar di iNAFF 2011 (kebetulan saya belum bisa nonton pas iNAFF 2011 kemarin) dan menurut obrolan rekan-rekan saya yang juga penikmat film horror, Kill List adalah film yang membingungkan serta cenderung membuat penonton menjadi cepat bosan dan akhirnya tertidur sebelum film selesai. Kill List disutradarai oleh Ben Wheatley dan skenarionya ditulis oleh Ben Wheatley juga bersama Amy Jump. Jujur saja, baru kali ini saya menonton film arahan Ben Wheatley.
Hello, mate....
Awal film sudah dibuka dengan adegan pertengkaran antara Jay (Neill Maskell) dan istrinya, Shel (MyAnna Buring). Shel marah karena Jay sudah 8 bulan menganggur dan malah menghabiskan cukup banyak uang simpanan mereka dengan membeli sebuah jaccuzi. Datanglah sahabat Jay, Gal (Michael Smiley), menawarkan pekerjaan sebagai pembunuh bayaran dengan upah yang cukup menggiurkan bagi Jay. Mereka berdua hanya diharuskan membunuh 3 orang target saja. Karena kedua sahabat ini adalah mantan veteran perang Irak, jadi tugas bunuh membunuh orang adalah hal yang cukup mudah dilakukan dan akhirnya mereka menerima pekerjaan tersebut. Ternyata tugas mereka sebagai pembunuh bayaran tidaklah semudah yang dibayangkan dan akhirnya membawa mereka pada suatu dunia lain yang amat kelam dan misterius.
Let's kill 'em all...
Hampir 45 menit menonton Kill List, tidak ada nuansa creepy yang bisa dirasakan karena penonton hanya akan disuguhi pertengkaran demi pertengkaran yang terjadi antara Jay dan Shel serta bincang-bincang ringan antara Jay dan Gal. Bagi saya, tentu saja ini adalah hal yang mengecewakan, karena intensitas ketegangan masih belum terasa dan malah cenderung menganggap ini sebenarnya adalah sebuah film drama tentang keluarga yang tidak harmonis, bukan film thriller atau horor. Nampaknya Ben Wheatley tidak ingin terlalu terburu-buru dalam membangun ketegangan dengan melambatkan jalan cerita film ini. Setelah hampir 1 jam bertahan menonton film ini, akhirnya tensi ketegangan film mulai naik, namun masih tetap perlahan. Yang paling menarik perhatian dan membuat mata saya tak jadi mengantuk adalah adegan dimana Jay dengan brutal menghabisi target kedua mereka yang seorang pustakawan dengan memukulkan palu ke kepala targetnya, berulang kali. Biasa ? Tunggu dulu….karena adegan pukul kepala dengan palu ini digambarkan dengan sangat eksplisit hingga memperlihatkan kulit kepala yang “sedikit” terkelupas (ooppsss…spoiler).
Run...mate...run
Sebenarnya Kill List mengharuskan penontonnya memperhatikan detil setiap dialog dan adegan, jika tak ingin kebingungan mencerna film ini. Itupun jika penonton tak keburu tertidur di bagian awal film. Banyak sekali clue yang bertebaran sepanjang film untuk menguak misteri tentang apa yang sebenarnya terjadi, jika penonton cukup cermat mengamatinya. Ben Wheatley juga masih sempat menyelipkan sedikit humor dalam film ini, mungkin dengan maksud agar penonton tidak terlalu bosan dengan alur film yang lambat. Simak saja adegan konyol di restoran ketika Jay merasa geram dengan sekumpulan remaja aktivis gereja saat dia sedang makan dengan Gal. Ending filmnya sendiri lumayan mengejutkan menurut saya, namun sudah bisa terprediksi sebelumnya. Secara umum, Kill List bukanlah jenis film horror yang mudah “ditelan bulat-bulat” oleh siapa saja. Butuh kesabaran dan sedikit “selera” yang agak berbeda untuk dapat menikmati film ini secara utuh.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar