Minggu, 07 Agustus 2011

INSIDIOUS.....Cult Horror Kagak Ada Matinye

Title: Insidious
Year : 2010/2011
Genre:
Cult Horror
Duration:  1 hr 43 mins.
Directed by:
James Wan
Written by:
Leigh Whannel
Starring:
Patrick Wilson, Rose Byrne, Ty Simpkins, Lin Shaye, Leigh Whannel 
Fright Rate : **** (4/5)


INSIDIOUS.....Cult Horror Kagak Ada Matinye

“Mas, udah nonton yang ini belum? Katanya sih serem banget mas…..”, begitulah komentar penjual DVD film langganan saya di sebuah mall daerah Jakarta ini sambil menunjukkan film Insidious. Penjual DVD ini sudah hapal betul kalau saya datang ke lapaknya, pasti dia langsung nyodorin film-film horror/thriller terbaru, karena saya sering borong film horror/thriller di lapaknya. Saya menjawab dengan enteng saja, sambil setengah bercanda, “Ah, jelek nih kayanya, gambar bungkusnya aja nyang serem”, tapi dalam hati sebenarnya saya penasaran juga ingin nonton film Insidious ini. “Cobain dulu deh mas, film ini diklaim sama IMDb sebagai salah satu film horror terbaik 2011, sama dirating lumayan bagus juga di IMDb”, lanjut si penjual DVD. Buset dah, ternyata penjual DVD ini melek internet juga, saya nggak nyangka dia rupanya sering juga buka IMDb, huehehehehe…. (IMDb = Internet Movie Database, saya lupa alamatnya, tanya mbah Google aja dah). Akhirnya saya nggak tahan juga dengan “penetrasi marketing” penjual DVD ini dan ambil film ini untuk ditonton.

Arti kata Insidious sendiri adalah (menurut kamus) yang busuk hati, berakal busuk atau tersembunyi dan membahayakan. Insidious dimotori oleh sutradara horor kawakan James Wan dan penulis skenario Leigh Whannel. James Wan ngetop dengan film Saw (terakhir Saw 3D (2010)), sedangkan Leigh Whannel lebih dikenal dengan karyanya di Paranormal Activity (2010). Mas Wan dan Bro Whannel ini juga beberapakali kerjasama dalam film Saw, dimulai dari short film Saw itu sendiri. Saya juga baru tahu kalau Saw yang legendaris ini dulu sebelum dibuat versi film panjangnya, ternyata dibuat film pendeknya sebagai teaser, mirip sama Rumah Dara (2010) karya Mo Brothers  di Indonesia. Insidious ini dibuka dengan adegan sebuah keluarga yang baru saja pindahan ke sebuah rumah. Seperti biasa di film-film horror lainnya, keluarga ini adalah keluarga yang bahagia dan sejahtera hidupnya, hingga gangguan-gangguan makhluk halus di rumah baru mereka mulai muncul, dan mengganggu keharmonisan rumah tangga tersebut. Oh, ya, keluarga ini terdiri dari Josh Lambert (Patrick Wilson), sang ayah, Renai Lambert (Rose Byrne), sang bunda, dan dua anak mereka yaitu Dalton (Ty Simpkins) dan adiknya (atau kakaknya ya…) Foster.

No More Exploring Son !!!

Horor di keluarga Lambert dimulai saat Dalton sedang main-main di loteng dan terjatuh dari tangga saat dia mencoba menaiki tangga kayu itu. Dalton yang nampak tidur nyenyak semalaman setelah jatuh dari tangga itu ternyata di pagi harinya jadi koma alias nggak sadar. Ortunya Dalton otomatis khawatir dong, ngelihat anaknya kagak bangun-bangun dan akhirnya Dalton-pun dibawa ke dokter. Seperti biasa juga, dokter juga nyerah alias angkat tangan karena nggak ngerti kenapa Dalton bisa koma gara-gara jatuh dari tangga, padahal nggak ada kerusakan otak /saraf apapun pada Dalton.

It's not the house, but it's your son...jreng...jreng....





Satu per satu terror mulai melanda keluarga Lambert dan membuat keluarga ini memutuskan buat pindah rumah. Ternyata itu bukan solusi yang baik karena hantu-hantu gentayangan yang gangguin keluarga Lambert juga ikutan “hijrah” ke rumah keluarga Lambert yang baru. Di tengah keputusasaan keluarga Lambert, mereka akhirnya menerima saran dari ibunya Josh (diperanin sama Barbara Hershey) buat manggil cenayang alias dukun (Lin Shaye) yang diikutin sama “the-most-ridiculous-paranormal-scientist” (panjang banget ya…) yaitu Specs (Leigh Whannel) dan Tucker (Angus Sampson). Tujuan utamanya adalah untuk mengetahui apa yang sebenarnya membuat keluarga ini selalu dihantui. Man !!! saya jadi kagum, ternyata Leigh Whannel bagus juga aktingnya jadi paranormal scientist yang ngakunya pinter dan berani, padahal o’on dan penakut banget. Kalau ada penghargaan buat pemeran pembantu terbaik khusus film horror, I will definitely vote you bro Whannel (ngimpi kali yeee….).

Mukanye bro Whannel yang o'on abis di film ini
Usut punya usut, ternyata Dalton ini mewarisi bakat ayahnya sebagai seorang Astral Projector (saya bingung nyari padanan katanya dalam bahasa Indonesia). Astral Projector itu kayak kemampuan seorang untuk melepaskan rohnya sendiri (waktu tidur) dan rohnya bisa jalan-jalan ke alam baka (kalau di film ini, si dukun sering nyebut istilahnya The Further). Ternyata Dalton ditawan oleh iblis yang penampakannya mungkin mirip sama oom “Genderuwo” kalau di Indonesia, sehingga mengharuskan sang ayah untuk membebaskan Dalton dari iblis itu, agar jasad Dalton nggak diisi sama roh-roh jahat yang bergentayangan. Yang paling menarik buat saya di film ini adalah background music dan theme song-nya yang betul-betul bikin saya kadang-kadang jadi agak terkaget-kaget sambil ketawa-ketiwi. Gimana nggak kaget, background music-nya sepertinya cuma pake orchestra yang isinya biola sama cello doang yang kadang bikin kuping jadi sakit dan serem abis (silahkan buktikan sendiri, tapi nontonnya sendirian aje ye, jangan ngajak pacar, ntar malah ketakutan dan bikin film sendiri dah….muahahaha). Selain itu, juga muncul lagu TipToe Thrugh The Tulips-nya Tiny Tim yang annoying banget karena sepertinya lagu ini jadi lagu kebangsaannya si iblis tiap kali dia mau muncul (kalau ingat yang ini saya jadi ketawa ngakak, karena lagu ini juga dipakai di film Wrecked-nya Adrien Brody (2010)).

Hello...my name is Mr. Genderuwo, wanna play with me ?
Sebagai penikmat cult-horor,  Insidious ini sangat menghibur saya. Boleh dibilang, genre cult-horor yang betul-betul “kental” aroma cult-horornya selain Poltergeist (sekitar tahun 1970an sampai 1980-an) dan beberapa remake Amytiville Horror (remake terbaru sekitar tahun 2000-an) atau Phantasm (1980-an), baru Insidious ini yang menurut saya bisa mengembalikan kejayaan cult-horor yang asli Amrik sono. Dandanan setan-setan gothic yang berseliweran selama film berjalan juga menambah semakin “indahnya” cult-horor  ini.

Lovely gothic girls
Kalau dibandingkan dengan negara-negara seperti Asia yang aktif membuat cult-horor, jelas Amrik mungkin kalah kaya idenya dengan negara-negara tadi. Ambil saja contoh kasus film-film seperti Ju-on (Jepang, 2000) diadaptasi dan diremake jadi The Grudge (2001), dan The Eye (2000) juga diadaptasi oleh Hollywood. Tapi nampaknya mas Wan dan bro Whannel ingin mengulang kembali kejayaan cult-horor di era tahun ’70-an sampai ’80-an dengan membuat Insidious ini. Dari segi originalitas, Insidious idenya udah nggak terlalu original. Coba aja tanya mbah Google, berapa banyak film cult-horor jadul sekitar tahun ’70-an sampai ’80-an yang mengangkat ide dasar rumah berhantu, selain yang sudah saya sebutkan tadi. Tapi mas Wan dan bro Whannel ini mencoba untuk bermain-main dengan dunia “psychic” murni era modern dengan mencoba mengenalkan Astral Projector di film ini, sehingga memberikan nuansa berbeda dengan cult-horor jaman baheula  (murni membahas setan/hantu yang dendam terhadap penghuni rumah yang dianggap mengganggu). Saya sebenarnya malah lebih salut terhadap originalitas ide mas Wan dan bro Whannel dalam Saw, karena telah memberikan “pencerahan” dan “wajah” baru dalam dunia horror/thriller.

What ???....I don't believe it. Such a freak, using POV mask for communication with spirit
Keseriusan mas Wan dan bro Whannel dalam menggarap film ini, juga nampak dari “gadget” aneh-aneh yang digunain sama kedua paranormal scientist tadi dalam membantu si dukun menemukan arwahnya Dalton. Mulai dari topeng gas/POV mask sebagai alat komunikasinya si dukun dengan Specs, sampai kamera jadul rancangan si Tucker yang diklaim bisa “memotret” arwah gentayangan di rumah keluarga Lambert. Entah meniru kesuksesan Saw dalam mengumbar “gadget” untuk menyiksa orang sampai mati, atau memang ada maksud lain dalam pikiran mas Wan atau bro Whannel untuk menambah nuansa “creepy” dalam Insidious ini, saya sendiri juga nggak tahu persis. Selain itu, nampaknya mas Wan dan bro Whannel juga tidak terlalu banyak menggunakan efek grafis komputer (CGI) dalam film ini, murni akting pemainlah yang menjadikan film ini jadi apik untuk ditonton. Menurut analisis saya (Sentilan mode: on), mungkin ini semua dilakukan semata-mata untuk menjaga “kekentalan aroma” cult-horor campur “modern psychic” di film ini, sehingga menjadi memorable bagi penontonnya.

My Bloody Insidious (Topengnya mirip ama yang dipake Jensen Ackles di My Bloody Valentine)
Ending yang lumayan mengejutkan juga saya temukan di film ini, meski tidak terlalu membuat saya hingga berteriak “Anjrot….kirain yang tadi itu jadi blablabla….”. Saya sebenarnya rindu sekali nonton cult-horor yang menghibur seperti Insidious ini, tapi nampaknya penonton film sekarang (terutama anak-anak muda….karena saya sudah tua) lebih menilai film yang mengumbar  special efek dan CGI yang lebay lebih bagus untuk ditonton. Jalan cerita, ide cerita, akting pemain, dan nuansa film mah nggak penting, bahkan yang lebay dan nggak masuk akal pun jadilah, asal dipoles dengan CGI yang super duper. Tapi itu masih mending, daripada saya harus “memaksakan” diri nonton film horror Indonesia buatan KKD yang isinya cuma mengumbar “PSB” (pupu, susu, lan bokong) (bhs Jawa: paha, payudara, dan pantat) pemain ceweknya yang notabene memang pantes main film bokep aja.

I will give you a surprise
Sebagai penutup, secara umum saya suka dihibur dengan Insidious ini, meski mungkin tidak terlalu memorable bagi saya (tidak separah memori saya terhadap Pengabdi Setan, karena Pengabdi Setan menurut saya adalah cult-horor Indonesia terbaik di jamannya yang sukses membuat saya “ngompol” waktu kecil, hehehe…). Seandainya mas Wan dan bro Whannel diberi kesempatan buat bikin film horror yang mengeksplorasi hantu-hantu lokal dan budaya okultisme di Indonesia jaman dulu, saya 100% yakin bahwa hasilnya pasti akan jauh lebih baik dari Insidious ini karena budaya kita kaya akan mitos dan hantu-hantu lokal yang masih belum tereksplorasi dengan baik dan benar (ah…ngimpi kali yeee). Oh ya, sebagai tambahan, jangan dulu beranjak dari tempat duduk anda meski credit title sudah muncul, karena ada kejutan setelah credit title habis. Apa itu kejutannya ??? Silahkan nonton sendiri…muahahaha…    



3 komentar:

  1. Astral Projection kalau dimasyarakat jawa-indonesia kurang lebih-nya dikenal dengan istilah "merogoh sukmo", perbedaannya hanya pada pakemnya saja, antara kulturasi ethic jawa dengan science barat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks udah mampir gan..
      Waduh, klo urusan begituan mah saya kurang paham gan, tapi makasih atas pencerahannya :)

      Hapus
  2. saya lagi nyari2 lagu di film ini judulnya apa? pingn dengar lagu" jadul dari amrik.... piringan hitam lah.. wkkkk

    setuju sama abang... saya juga suka dengan nuansa film horor seperti ini, di indonesia, filmnya udah gimana ya?? yah seperti yg abang bilang, paha dll, :D
    padahal dulu indonesia terkenal film hantu yg seram, ( Suzanna dkk) saya masih muda bang, tp udah gak minat dengan film horor indonesia, saya sekrng berpaling untuk urusan film horor, ke thailand, jujur kalau amrik kebanyakan film tentang pembunuhan...

    BalasHapus