Title : 47 Meters Down/In The Deep
Genre : Horror/Thriller
Year : 2017Duration : 1 hr 29 mins.
Directed by : Johannes Roberts
Screenplay : Johannes Roberts, Ernest Riera
Starring : Mandy Moore, Claire Holt, Chris Johnson, Yani Gellman, Matthew Modine
Thrill Rate : ****(4/5)
47
Meters Down/In The Deep : Not Ordinary Shark Attack Movie
Saat pertama melihat trailer dari 47 Meters Down, jujur
saja, ekspektasi saya terhadap film ini tidak terlalu tinggi. Penyebabnya
adalah sudah terlalu banyak film thriller/horror yang mengangkat tema tentang serangan
makhluk laut bernama hiu. Mulai dari Jaws yang sangat legendaris hingga sci-fi
sekelas Sharknado. Jika tidak hati-hati dalam mengemas tema, bukan tidak mungkin
alur cerita dan keganasan hiu yang ditampilkan akan mengikuti pakem lama dan
klise macam Jaws. Dimension Films awalnya akan mendistribusikan film ini dalam
bentuk home video dengan judul In The
Deep. Namun akhirnya berhasil dilayar-lebarkan oleh Entertainment Studios. Pada
opening scene versi Dimension Films, nampak
nama Alexandre Aja menjadi produser eksekutif dari film ini, tetapi dalam versi
layar lebar, nama Alexandre Aja tidak muncul lagi sebagai produser eksekutif.
Entah apa penyebabnya, saya kurang paham, tetapi sebenarnya justru Alexandre
Aja yang membuat saya jadi tertarik untuk menonton film ini. Alexandre Aja
telah dikenal sebagai sutradara film-film horor dan french extremity seperti Haute Tension (High Tension) (2003) dan
The Hills Have Eyes (2006).
Premis yang diangkat
dari 47 Meters Down cukup sederhana. Lisa (Mandy Moore) dan Kate (Claire Holt)
adalah kakak beradik yang sedang berlibur di Mexico. Kate sangat tertarik untuk
berpetualang dibawah laut sembari menyaksikan hiu-hiu putih yang berkeliaran
bebas didalam laut. Sarana untuk berwisata bawah laut ini adalah sebuah kerangkeng
besi yang digantungkan pada tali baja dan terhubung pada semacam derek di kapal
laut. Sebenarnya sarana ini cukup aman dari serangan hiu putih dan sudah sangat
sering digunakan para peneliti bawah laut seperti yang biasa kita lihat pada
film-film dokumenter di National Geographic. Kate akhirnya berusaha membujuk
Lisa agar dapat melakukan kegiatan ini bersama-sama dan Lisa dengan sedikit
keraguan akhirnya menerima ajakan tersebut.
Seperti yang mungkin biasa diduga oleh para
penggemar film-film horor, kerangkeng besi yang membawa kakak beradik ini
akhirnya tenggelam ke laut sedalam 47 meter akibat tali bajanya putus. Lisa dan
Kate akhirnya harus berpacu dengan waktu dalam menghadapi bahaya yang mengancam
di bawah laut. Tidak hanya bahaya dari hiu-hiu putih yang berkeliaran dan siap
mencaplok tubuh mereka berdua, Lisa dan Kate juga harus dapat bertahan hidup
kurang dari 1 jam dengan tabung oksigen yang sangat terbatas kapasitasnya.
Berenang menuju ke permukaan laut juga menjadi suatu hal sangat berbahaya
karena dapat membawa kematian akibat keracunan nitrogen.
Johannes Roberts dan
Ernest Riera dapat dikatakan sukses dalam merangkai dan mengangkat cerita 47
Meters Down sehingga layak untuk ditonton di layar lebar. Hiu-hiu putih memang
masih menjadi pusat dari cerita film ini, namun penonton berhasil diajak menuju
ke situasi yang lebih kompleks dengan bahaya lain yang mengancam selain hiu-hiu
putih yaitu minimnya asupan oksigen. Hal inilah yang menurut saya membuat 47
Meters Down agak berbeda dengan film-film bertemakan hiu lainnya. Meskipun
sudah banyak dibahas di berbagai website tentang banyaknya kejanggalan di film
ini, terutama tentang hitung-hitungan suplai oksigen dan kemampuan manusia
untuk menyelam sedalam 47 meter dibawah laut, tetapi suasana tegang yang
ditimbulkan akibat kepanikan 2 karakter protagonis di film ini sangat mengena
dan dapat membuat saya semakin penasaran mengenai nasib Lisa dan Kate.
Berbicara tentang CGI yang dipergunakan dalam 47 Meters Down, hiu-hiu putih yang muncul terlihat sangat nyata dan jauh dari kesan murahan. Efek claustrophobic juga ditampilkan dengan sangat baik dan sedikit mempengaruhi emosi saya saat menonton. Efek prosthetic untuk memperlihatkan dampak gigitan hiu juga lumayan nampak nyata. Gambar yang diambil dengan underwater camera juga mampu mengabadikan suasana bawah laut yang dingin, suram dan sangat tidak bersahabat bagi manusia, plus mimik emosional dari Lisa dan Kate selama terjebak di kedalaman laut. Tata suara dan musik yang digunakan hanya sedikit membawa pengaruh di film ini karena masih kalah dengan alur cerita dan suasana mencekam yang ditampikan di layar. Pada akhir film, ada sedikit twist yang ditampilkan dan membuat saya tersenyum akibat salah menerka ending dari film ini, meskipun saya jadi agak sedikit kesal dibuatnya. Secara umum, 47 Meters Down telah sukses mengangkat sebuah ide yang tidak biasa dari film-film horor tentang serangan hiu putih.
Berbicara tentang CGI yang dipergunakan dalam 47 Meters Down, hiu-hiu putih yang muncul terlihat sangat nyata dan jauh dari kesan murahan. Efek claustrophobic juga ditampilkan dengan sangat baik dan sedikit mempengaruhi emosi saya saat menonton. Efek prosthetic untuk memperlihatkan dampak gigitan hiu juga lumayan nampak nyata. Gambar yang diambil dengan underwater camera juga mampu mengabadikan suasana bawah laut yang dingin, suram dan sangat tidak bersahabat bagi manusia, plus mimik emosional dari Lisa dan Kate selama terjebak di kedalaman laut. Tata suara dan musik yang digunakan hanya sedikit membawa pengaruh di film ini karena masih kalah dengan alur cerita dan suasana mencekam yang ditampikan di layar. Pada akhir film, ada sedikit twist yang ditampilkan dan membuat saya tersenyum akibat salah menerka ending dari film ini, meskipun saya jadi agak sedikit kesal dibuatnya. Secara umum, 47 Meters Down telah sukses mengangkat sebuah ide yang tidak biasa dari film-film horor tentang serangan hiu putih.


jujur saya suka film horror dengan ending yang depressing, dan ini salah satunya! walaupun sedikit merusak asumsi kita bahwa Lisa telah berproses menjadi pahlawan bagi adiknya, sih. kayaknya bakal lebih depressing lagi kalo Lisa tidak diselamatkan oleh Coast Guard, namun hanya tetap terperangkap di dalam kerangkeng sambil berhalusinasi, menunggu tabung oksigennya habis. btw, scoring yang dipake pas ending cukup membawa suasana jadi lebih mencekam, stressful, tapi juga relaxing at the same time.
BalasHapus